Mustahil bangsa kita merdeka bila tidak ada jiwa-jiwa yang lebih dulu dimerdekakan. Para pendiri bangsa tidak mungkin mengucapkan Sumpah Pemuda dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia bila mereka sendiri belum menghayati apa artinya kemerdekaan. Mereka adalah manusia merdeka. Berjiwa merdeka! Mereka bukan manusia bermental budak. Para pendiri bangsa adalah manusia yang mampu mentransenden dirinya demi perjuangan bagi bangsa yang terjajah.

Ada beberapa faktor kunci dalam keberhasilan kita memproklamasikan kemerdekaan  bangsa. Faktor pertama adalah pendidikan. Para pemuda dan pemudi pejuang bangsa bukanlah orang bodoh. Mereka adalah kaum muda dengan kapasitas literasi tinggi. Mereka pembaca dan pembelajar hebat. Meski berasal dari bangsa terjajah, kapasitas dan kehebatan pengetahuan mereka tidak kalah dari kaum muda bangsa-bangsa merdeka.

Betapa pentingnya meningkatkan kapasitas literasi suatu bangsa. Kirsch dan Jungeblut dalam Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Jepang yang kalah perang, mampu bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia. Kuncinya? Peningkatan literasi! Jepang punya motto: guru lebih penting daripada para prajurit. China dan India pun akan menjadi negara-negara dengan kekuatan ekonomi dan teknologi yang hebat. Israel, negara kecil di Timur Tengah, menjadi satu-satunya negara dengan kekuatan ekonomi dan teknologi dahsyat karena tingginya kapasitas literasi.

Dunia berubah cepat. Kapasitas literasi adalah syarat utama untuk maju dan berkembangnya suatu bangsa. Dibutuhkan politik kebudayaan yang serius. Tujuannya agar bangsa Indonesia menjadi bangsa pembaca dan pembelajar. Pemerintah perlu mendanai agar harga buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan bisa terjangkau siapa pun. Para penulis harus difasilitasi agar mereka bisa hidup melalui buku hasil karya atau tulisannya. Hanya dengan itu, semangat para penulis bisa ditingkatkan. Menulis menjadi pekerjaan penuh waktu, bukan sambilan. Para pelajar harus didorong menjadi pembaca dan pencari ilmu yang gigih. Bukan sekedar mengulang yang disampaikan pengajarnya. Gaji guru dan dosen harus diperhitungkan bukan hanya dari masa baktinya, tetapi juga dari karya dan prestasi intelektualnya. Hanya dengan cara ini, para pengajar kita menjadi maju dan produktif.

Balik ke para pendiri bangsa. Faktor kedua yang memampukan kita memproklamirkan kemerdekaan adalah ini; para pendiri bangsa sudah menjadi manusia merdeka. Mereka merdeka dari egoisme dan selfishness-nya. Kepentingan dan nafsu pribadi dikebelakangkan. Mereka merdeka sebelum bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaannya. Memang benar, kaum muda ini menikmati kebijakan politik etis penjajah Belanda. Mereka belajar banyak dari dan melalui fasilitas penjajah. Hebatnya, mereka menolak bekerja bagi kaum penjajah. Gaji tinggi ditampiknya. Kekayaan materi bukan tujuannya. Mereka bukanlah generasi penjilat. Bukan pembebek. Bukan kaum penjiplak.

Faktor ketiga adalah bahwa para pendiri bangsa ini berhasil memerdekakan dirinya dari kepentingan sempit primordialisme serta sektarianisme etnik dan agama. Mereka sadar bahwa perjuangan untuk kepentingan yang sempit hanya akan memecah-belah dan melemahkan perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaan. Mereka manusia merdeka. Mereka menggeser perjuangan mereka dari lingkup sempit primordialisme dan eksklusifisme menjadi perjuangan kebangsaan. Visi utamanya satu; kemerdekaan bangsa Indonesia!

Ternyata tingkat literasi yang tinggi saja tidaklah cukup. Butuh jiwa dan mentalitas merdeka sehingga mereka menjadi generasi pembebas. Bukan elite penindas! Merdeka dari egoisme diri. Merdeka dari primordialisme etnik dan ideologi politik, dan juga merdeka dari eksklusifisme agama. Tugas dan tanggungjawab generasi kita pada saat ini adalah menghayati dan mengimplementasikan budaya manusia merdeka yang dimiliki pendiri bangsa. Kemerdekaan politik memang diperlukan, tetapi bagi generasi masa kini panggilan utamanya sudah bergeser. Kita harus mempertahankan kemerdekaan itu dengan menjadi manusia merdeka. Kita harus memiliki mentalitas dan spiritualitas merdeka. Inilah tanggungjawab moral dan etis yang harus dijunjung tinggi.

Author