Gagasan revolusi mental berasal dari Soekarno. Beliau melontarkan pertama kali pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Saat itu, Soekarno menilai revolusi nasional Indonesia sedang mandek. Padahal tujuan revolusi demi kemerdekaan Indonesia seutuhnya belum tercapai. Revolusi di jaman kemerdekaan adalah perjuangan fisik, perang melawan kolonialisme. Setelah merdeka, perjuangan Indonesia belum berakhir. Revolusi masih harus terus dilakukan. Kini, bangsa ini harus membangun jiwa merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku.

Hampir 60 tahun kemudian, Jokowi mencoba meneruskan ide revolusi mentalnya Soekarno. Jokowi ingin mengangkat kembali karakter bangsa. Manusia Indonesia digembleng menjadi manusia baru, berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Melalui revolusi mental, bangsa kita memiliki jiwa merdeka dan menghirup kebebasan untuk meraih kemajuan. Jokowi percaya, melalui revolusi mental, Indonesia akan menjadi bangsa besar yang mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain.

Meskipun demikian, sampai saat ini kita belum juga menjadi bangsa yang menikmati kemerdekaan, keadilan dan kebebasan. Kita semua masih berjuang untuk menghirup kemerdekaan. Dan memang, sampai kapan pun kita tidak akan pernah sungguh-sungguh merdeka. Kita hanya mencoba menjadi manusia merdeka. Menjadi manusia merdeka adalah perjuangan tanpa akhir!

Mengatakan bahwa kita sudah sungguh-sungguh merdeka adalah klaim yang ceroboh. Banyak orang mengklaim diri sebagai manusia merdeka, tetapi saat yang sama mulut mereka penuh keluh kesah dan frustrasi karena persoalan dan masalah sosial-politik, ekonomi, kesehatan dan sebagainya. Fenomena ini menunjukkan betapa kita belum menjadi manusia merdeka. Kemerdekaan itu harus kita perjuangkan seumur hidup kita. Kita perlu revolusi untuk ‘mendekati’ kemerdekaan itu dengan cara meningkatkan kualitas manusia dalam segala aspek kehidupan, baik secara budaya, sosial-politik, hukum dan ekonomi.

Mentalnya Revolusi Mental
Awalnya, gagasan revolusi mental ini memberikan kita harapan, tetapi selanjutnya banyak orang menjadi sangat kecewa. Mengapa? Karena ketika sebagian orang Indonesia berpikir tentang revolusi, mereka mendefinisikannya secara berbeda. Sebagian orang ini berpikir ke belakang. Mereka mengidealkan masa lalu. Bukan berpikir tentang masa depan. Sebagian lagi berpikir untuk kepentingan primordial atau demi kelompoknya. Bukan untuk kepentingan dan kebaikan semua. Sebagian orang ini terjebak dalam ilusi, utopianisme dan romantisisme masa lalu. Revolusi mental malah mental jauh.

Sebagian lagi mengobarkan semangat revolusi mental dengan membangun ideologi dan nasionalisme yang sempit. Mereka berteriak adanya bahaya laten komunis. Sebagian lagi membuat slogan anti Cina atau anti Barat. Ada pelabelan Cina dan Barat sebagai hantu jahat yang menggerogoti dan mengancam bangsa. Masyarakat pun menjadi hilang kesadaran pada realitas hantu-hantu yang selama ini menghisap roh kemerdekaan mereka. Hantu-hantu itu adalah benalu dalam tubuh bangsa kita sendiri. Hantu-hantu itu adalah media massa dan media sosial yang menyetir kesadaran rakyat, kekuatan oligarki monopolistik, koruptor yang memanipulasi kekuasaan untuk keuntungan ekonomi, serta politik agama memecah-belah masyarakat. Hantu-hantu itu berakar pada busuknya moralitas sebagian elite politik dan elite ekonomi kita. Mereka membuat kita marah pada ‘hantu’ jadi-jadian yang dilabel sebagai ancaman. Kita emosional. Kita diadu domba. Saling menghancurkan saudara sendiri. Revolusi mental pun terpental!

Revolusi Moral
Revolusi mental yang dicanangkan Soekarno dan diteruskan Jokowi seharusnya menjadi revolusi moral. Bila bukan revolusi moral kita tidak akan pernah maju. Revolusi moral itu harus menjiwai semua perubahan dan pembaruan struktural dan kebijakan politk-sosial-ekonomi dan budaya. Moralitas seluruh anak bangsa ini harus difasilitasi untuk berubah dan berkembang. Harus ada proses transenden dari kepentingan diri menjadi kepentingan semua. Harus ada revolusi kesadaran, yaitu kesadaran personal dan kesadaran sosial-politik. Tujuannya agar seluruh warga negara bangsa ini menikmati peningkatan kualitas kehidupan yaitu kemerdekaan dan keadilan di segala aspek kehidupan.

Kita tidak boleh lagi bersikap apatis terhadap berbagai persoalan yang menghambat peningkatan kualitas hidup bangsa. Kita tidak boleh diam terhadap praktek monopoli politik, ekonomi dan bahkan manipulasi kesadaran yang dilakukan puluhan tahun terhadap anak bangsa ini. Sudahlah! Apa yang dipertaruhkan adalah kualitas hidup manusia dan keutuhan bangsa. Apa yang diperjuangkan adalah integritas, solidaritas, keterbukaan pada masa depan, keadilan dan perdamaian bagi seluruh warga negara Indonesia.

Dalam konteks perjuangan ini, semua umat beragama harus saling bekerja sama. Tidak relevan lagi hidup dalam mentalitas polaristik yang memisahkan anak terang dan anak kegelapan, anak Tuhan vs anak setan. Kenyataannya, banyak yang dilabel anak kegelapan atau anak setan sering lebih bermoral dan lebih manusiawi daripada yang membanggakan diri sebagai anak Tuhan atau anak terang. Pada masa kini, ekspresi iman tidak cukup hanya dengan membangun ketaatan ritual dan formal. Umat harus dimampukan untuk mengekspresikan imannya melalui sikap dan perbuatan yang sesuai dengan nilai moral-etis. Melalui revolusi moral-etis, dan sekaligus pembaruan struktural, setiap orang akan dimampukan untuk memberikan kontribusi positif demi peningkatan kualitas hidup bangsa Indonesia.

Author