Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka (Yoh 8:36)

Ketahuilah bahwa kemerdekaan barulah sempurna, bilamana bukan saja dari politik kita merdeka, dan bukan saja ekonomi kita merdeka, tetapi di dalam hati pun kita merdeka- Ir. Soekarno

Merdeka itu holistik

Merdeka itu bukan hanya fisik.  Mahatma Gandhi contohnya. Pejuang kemerdekaan India ini memang sempat dipenjara. Dua tahun lamanya. Tetapi setelah bebas, ia tetap merasa tidak merdeka. Sebab, Gandhi  melihat bangsanya menderita. Orang Inggris menindas rakyat India: mendiskriminasi, memonopoli komoditi, memungut uang sewa tanah yang tinggi. Ia menyadari, selama ada kolonialisasi dan eksploitasi kepada sesama manusia, hidupnya tidak benar-benar merdeka. Ini yang mendorong Gandhi berjuang mewujudkan kemerdekaan tanpa kekerasan.

Merdeka juga bukan hanya soal politik. Lihat saja Indonesia. Pasca 1945, bangsa ini sudah merdeka. Secara politik, ia sudah bebas dari penguasa kolonial Belanda. Tetapi pasca kemerdekaan, rakyatnya banyak yang menderita. Ini sebabnya: penindasan politik dilakukan oleh bangsa sendiri. Penindasan tersebut terjadi ketika politik tidak menyejahterakan negeri. Praktek politik hanya menguntungkan dan memperkaya elit bangsa ini. Ironisnya, hal tersebut terjadi hingga kini. Setelah bangsa kita merdeka 76 tahun lamanya. Sebetulnya, tentang ini Soekarno pernah mengingatkan rakyat Indonesia:  “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Kemerdekaan juga bukan hanya soal ekonomi. Seseorang bisa saja memiliki banyak materi.  Dengan uang yang banyak, ia bisa membeli apa pun yang ia suka, travelling ke mana pun ia mau. Tetapi, ada loh orang yang kaya seperti itu merasa dirinya belum merdeka. Tanpa sadar, ia dibelenggu dan diperbudak harta. Selalu merasa kurang. Menteri atau pengusaha yang hartanya sudah ratusan Milyar dan masih melakukan korupsi adalah contohnya. Sudah kaya raya tetapi masih diperbudak harta.

Karena itu, Soekarno benar ketika berkata, merdeka itu bukan hanya soal politik, ekonomi tapi juga soal hati. Istilah lainnya, merdeka itu bersifat holistik. Merangkum seluruh aspek hidup manusia. Seseorang disebut merdeka ketika ia bebas secara fisik, ekonomi, politik, agama, sosial dan budaya.

Dalam pemahaman seperti itu, apa yang Injil katakan mendapatkan relevansinya. Orang bisa saja merdeka. Tetapi orang belum benar-benar merdeka. Orang yang seperti itu mungkin keliatannya saja merdeka. Kenyataannya belum benar-benar merdeka. Hanya seakan-akan merdeka. Atau pura-pura merdeka. Padahal masih diperbudak seseorang, ego, harta atau dosa.

 

Benar-benar merdeka

Agar benar-benar merdeka, seseorang perlu dimerdekakan oleh Allah. Tepatnya, oleh Allah di dalam Tuhan Yesus (Yoh 8:36). Dalam konteksnya, ayat ini berbicara tentang kebenaran yang Yesus sampaikan. Menurut-Nya, kebenaran tersebut memerdekakan.

Tetapi orang Yahudi protes. Mereka menganggap diri mereka keturunan Abraham. Umat pilihan. Kelompok manusia yang paling disayang Tuhan. Karena itu, mereka tidak pernah menjadi budak siapa pun (Yoh 8:33). Mereka pun protes kepada Yesus: kalau tidak pernah menjadi hamba, kenapa harus merdeka? (ayat 34).

Justru dalam protes itu terlihat mereka tidak merdeka. Alasannya ada dua. Pertama, karena mereka menganggap kemerdekaan itu otomatis didapatkan. Ketika mereka menjadi keturunan Abraham. Kedua, ketika mereka hanya melihat kemerdekaan dalam aspek yang kelihatan. Karena melihat mereka tidak ditindas bangsa lain.

Padahal, kemerdekaan itu perlu diupayakan. Perlu perjuangan. Walau kita mengetahui, semua orang berhak merdeka, pada kenyataannya, penindasan sering terjadi dalam kehidupan bersama. Kolonialisme buktinya. Atau penindasan yang masih terjadi ketika bangsa ini merdeka. Kenapa? Sebabnya terkait dengan alasan kedua: karena dosa. Ya, karena dosa, manusia jadi menindas sesama.

Dalam kitab suci kita dikatakan, salah satu sebab kenapa Hawa jatuh ke dalam dosa adalah karena ingin sama seperti Allah. Artinya, tidak puas dengan keberadaannya. Tidak bersyukur dengan apa yang Allah sudah anugerahkan kepadanya. Dosa ini lah yang mendorong orang atau sekelompok orang menindas sesama, mengekspolitasi sesama, memperbudak sesama. Dosa itu juga yang membuat manusia diperbudak oleh nafsu-nafsunya.

Repotnya, kuasa dosa itu tidak kelihatan. Orang jadi lupa atau tidak sadar kalau dirinya dikuasai dosa. Untuk orang-orang yang diperbudak dosa ini, Tuhan Yesus mengurbankan diri-Nya. Melalui wafat-Nya di atas kayu salib, Ia menawarkan kehidupan yang tidak dikalahkan dosa. Ia wafat karena taat kepada Bapa di sorga. Artinya, Ia tidak diperbuak dosa. Kebangkitan-Nya juga mendemonstrasikan hidup yang benar-benar merdeka: kuasa dosa tidak bisa mengalahkan-Nya.

Hati yang merdeka

Orang yang bersekutu dengan Kristus, menurut firman Tuhan, akan benar-benar merdeka (Yoh 8:36).  Mengapa? Sebab ia mendapat jaminan untuk mengalahkan dosa dan kuasa-Nya. Jaminan? Ya, sebab Yesus sudah membuktikan itu. Orang yang bersekutu dengan kematian Kristus akan juga bersekutu dengan kuasa kebangkitan-Nya (Roma 6:5). Artinya, orang itu akan bisa merdeka. Ia bisa mengalahkan dosa. Wujud konkretnya, orang itu akan hidup harmonis dengan Allah, dirinya sendiri dan sesama. Ia tidak akan menindas dirinya, sesama atau memanfaatkan Allah untuk melayani dirinya.

Orang yang seperti itu memahami betul bahwa hidupnya berasal dari Allah, oleh Allah dan karena itu akan dipersembahkan kepada Allah (Roma 11:36). Ia akan memuliakan Allah. Kalau memakai kalimat Soekarno, orang yang seperti ini hatinya benar-benar merdeka. Ia tidak terbelenggu apa pun. Ia tidak diperbudak siapa pun. Hatinya bebas sebab ia mempersembahkannya kepada Allah.

Menjadi tubuh Kristus yang memerdekakan (memulihkan) di tengah tatanan baru

Agar keberadaan GKI relevan di tengah bangsa ini, kita perlu terus bertanya: sudahkah kita benar-benar merdeka? Benarkah kita  telah bersekutu dengan kematian dan kebangkitan-Nya? Apakah kita telah mempersembahkan hati untuk memuliakan-Nya dan memerdekakan orang yang belum merdeka?

Jika jawabnya: ”YA”, maka keberadaan GKI pasti relevan, khususnya di tengah situasi sulit karena pandemi covid 19 ini. Jika jawabnya: ”TIDAK”, kita perlu mengupayakannya.

Sedikitnya, ada dua hal yang GKI bisa lakukan agar keber-adaannya relevan. Pertama, terus menjadikan Kristus sebagai kepala gereja. Dengan melakukan ini, kita tidak akan diperbudak ketakutan karena pandemi ini. Sebaliknya, kita terus mencari kehendak Tuhan di tengah pandemi. Dengan melakukan itu, kita pasti relevan karena berupaya mewujudkan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Kita bersyukur sebab sebagian besar GKI berupaya menjadi tubuh Kristus yang relevan di tengah pandemi, dengan melakukan karya-karya rohani yang menjawab pergumulan saat ini. Ada yang menjadikan fasilitas gereja sebagai tempat isoman, ada yang menjadi pusat vaksinasi, ada yang memberi bantuan ekonomi kepada jemaat dan masyarakat yang terdampak, dst. Karya -karya rohani ini membuktikan kalau GKI sedang berproses untuk terus menjadi tubuh Kristus yang memulihkan atau memerdekakan di tengah pandemi.

Kedua, mendoakan dan mengupayakan kemerdekaan yang holistik di tengah bangsa ini. Kita menyadari, kemerdekaan itu perlu diperjuangkan. Salah satunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita berharap agar kehidupan bersama dijalani dengan integritas. Sehubungan dengan itu, GKI perlu mendoakan, mendorong dan mendukung agar kehidupan publik bisa berjalan benar dan baik. Jika itu terjadi, politik benar-benar dihidupi sebagaimana maknanya: upaya membangun kesejahteraan bersama.

Selamat mengalami kemerdekaan sejati di dalam Dia! Selamat memerdekakan orang di sekitar kita!