Media sosial (medsos) berkembang dengan sangat luar biasa. Baguskah? Bisa bagus, bisa tidak, Ambigu! Di dunia ini segala sesuatu memang ambigu. Orang bisa menggunakan medsos untuk pertemanan, tetapi juga untuk menciptakan perselisihan. Untuk saling bertukar informasi yang membangun, tetapi orang juga untuk menebar informasi sesat. Celakanya, informasi yang benar dan yang salah sering campur aduk.

Dalam era medsos ini orang mulai mengenal hoax. Ada hoax dari orang iseng. Cuma untuk usil dan lelucon saja. Tetapi, ada hoax serius dengan tujuan sangat jahat. Suatu bangsa bisa pecah berantakan gara-gara hoax. Relasi antar agama bisa retak efek dari hoax. Keluarga bisa buyar akibat hoax. Ngomong-ngomong, apa arti hoax? Hoax adalah kabar palsu. “Hoax adalah informasi atau berita bohong,” menurut KBBI. Hoax adalah informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Hoax bisa diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta. Sang penyebar hoax memberi informasi yang sangat meyakinkan, tetapi bila ditelisik ternyata bukan tidak dapat diverifikasi kebenarannya, tetapi juga sangat berbeda dengan fakta sebenarnya.

Hoax bisa dibuat untuk tujuan apa saja. Bisa untuk tujuan ekonomi demi keuntungan. Cuan! Bisa untuk tujuan sosial guna memecahkan relasi antar agama. Bisa juga untuk tujuan politik untuk menghasut atau menjelekkan seseorang. Misalnya dalam hoax Buni Yani terhadap Ahok. Bisa juga dalam bentuk propaganda. Baik sebagai hasutan atau sebagai propaganda, hoax bisa membentuk opini publik. Jadi, pengaruhnya luar biasa!

Seorang yang punya kebencian terhadap politisi tertentu, hoax apa pun yang menjelekkan sang politisi langsung dipercayainya, tanpa mau mengecek kebenarannya. Yang repot kalau ada hoax agamis. Saat ada hoax bahwa vaksin dibuat dari minyak babi, apalagi hoax itu dibumbui ayat suci, orang akan percaya penuh. Daya kritisnya tumpul! Contoh lain. Penganut paham bumi datar yang memperoleh artikel yang mendukung pahamnya itu pasti langsung percaya. Mereka tidak peduli bahwa artikel itu dari sumber yang kredibilitasnya meragukan. Pokoknya, artikel itu mendukung teori bumi datar yang diyakininya. Mereka merasa lega karena keyakinannya mendapat afirmasi.

Di Indonesia, hoax mulai marak sejak pemilihan presiden 2014. Makin ramai saat Pilkada DKI 2017 dan Pemilu 2019. Saat itu, Jokowi dibombardir dengan berbagai hoax. Mulai soal agamanya, etniknya, latar belakang ideologinya, orang tuanya, dan seterusnya. Memang, hoax dimunculkan guna menjatuhkan citra lawan politik. Ada kampanye hitam atau kampanye negatif. Dampak hoax politik itu masih kita rasakan hingga kini. Masyarakat masih terpolarisasi antara kelompok berlabel “kampret” dengan yang dijuluki “cebong.”

Tidak ada gunanya mengeluh karena banyaknya hoax. Yang terpenting adalah bagaimana menyikapinya. Maklum, banyak penerima berita terpancing untuk segera menyebarkannya kemana mana. Orang seolah berlomba ingin mengatakan dia tahu lebih dulu berita tertentu. Tanpa mengecek kebenarannya. Akibatnya hoax tersebar cepat dan luas. Hanya dalam hitungan detik, suatu berita hoax langsung tersebar dan diakses melalui medsos.

Jadi bagaimana strategi menghadapi hoax? Kita harus bisa memilih dan memilah mana berita hoax, mana yang benar. Ada beberapa tips yang bisa anda ikuti agar menambah literasi dalam memanfaatkan dan menggunakan medsos.

Tip pertama, teliti nama dan situs media yang menyebarkan beritanya. Bila tidak jelas lebih baik tidak perlu dipercaya. Lebih baik mengkonsumsi berita dari media yang sudah terpercaya dan kredibel. Kedua, kritis terhadap judul beritanya. Bila judul beritanya terkesan provokatif, apalagi menggunakan kata-kata yang vulgar dan kasar, maka biasanya beritanya hoax. Media yang baik akan menggunakan bahasa yang baik dan santun. Tip ketiga, pastikan kejelasan dan kebenaran berita itu dengan membandingkannya dari sumber lain. Salah satu hoax yang belum lama ini beredar adalah bahwa mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri, meninggal dunia. Saya segera mengeceknya di berbagai media nasional lain. Ternyata beritanya tidak ada. Artinya, berita yang disebar itu hoax.  Tip keempat, cek foto atau video yang beredar. Kadang penyebar hoax menggunakan foto atau video lama atau juga menggunakan foto atau video dari tempat lain seolah berita itu terjadi di Indonesia. Tip terakhir adalah teliti siapa penulis beritanya. Berita yang benar seharusnya mencantumkan nama penulis yang bertanggungjawab atas isi berita itu.

Yang penting, saat menerima berita apa pun, jari-jari jangan terlalu lincah untuk segera menyebarkannya. Lebih baik diteliti dulu. Ini demi menjaga keselamatan anda sendiri yang bisa dituduh penyebar hoax, dan menjaga keselamatan bangsa kita.

Author