Para pemikir masa lalu menganggap tertawa sebagai sesuatu yang negatif. Tertawa adalah ekspresi yang menunjukkan superioritas dan penghinaan terhadap sesama. Tertawa itu merendahkan orang lain. Bagi Plato, tertawa itu ungkapan perasaan orang yang kehilangan kontrol diri. Plato menyarankan negara mengontrol hal-hal yang membuat orang tertawa. Bah! Kesalehan seseorang diukur dari kemampuan mengontrol diri. Semakin saleh seseorang semakin tidak pernah tertawa. Budaya anti humor serta pengharaman terhadap tawa mempengaruhi penulis Kitab Suci.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama, humor dan tertawa dipandang sangat negatif. Ada beberapa contoh yang akan ditampilkan. Dalam Kitab Mazmur, tertawanya Allah bukan dihubungkan dengan hati yang bersukacita, tetapi dengan olok-olok dan kemarahanNya. “Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya” (Mazmur 2:4-5).  Ada contoh lain dimana tertawa dituding negatif.  Saat mendengar perkataan Tuhan bahwa dia akan punya anak, Sara tertawa (di dalam hati). Tuhan tahu Sara tertawa! Tuhan mempertanyakan, tetapi Sara menyangkal! Saat itu, tertawa adalah ekspresi merendahkan, sekaligus  ketidakpercayaan. Sara bukan tertawa, tetapi menertawakan. Karena humor, senyum dan tertawa dipandang negative, maka penggambaran Kitab Suci tentang Allah menjadi terlalu serius. Allah tidak pernah tersenyum dan tertawa gembira. Kitab Suci menampilkan Allah yang tidak suka bersenda gurau. Nabi Allah pun serius. Tertawa dihubungkan dengan kebencian, perasaan superioritas dan cemoohan. Nabi Elia mengejek, merendahkan dan menertawakan para nabi Baal (1 Raja-raja 18:27);  di bagian lain memperlihatkan betapa seriusnya nabi Elia. Emosinya mudah meledak. Saat serombongan anak kecil mengejek dan menertawakan kepalanya yang gundul, nabi Elia mengutuk anak-anak itu. Sejenak kemudian kutukan itu berwujud. Lalu, terjadilah peristiwa yang mengerikan. Dua ekor beruang muncul tiba-tiba dan mencabik 42 anak yang menertawakannya (II Raja-raja 2:23). Memang, dalam Perjanjian Lama tertawa itu negatif!

Tradisi tertawa sebagai hal negatif diteruskan gereja ke generasi berikutnya. Kaum biarawan pun mengutuk humor dan tertawa. Biarawan yang tersenyum saat ibadah dihukum cambuk 6 kali. Mereka dianggap tidak mampu mengontrol diri. Kaum Puritan Inggris abad 17 pun masih melarang humor dan komedi dalam bentuk apa pun. Orang dipaksa untuk menjadi manusia berdimensi satu. Orang boleh menangis, tetapi dilarang tertawa. Filsuf Descartes pun terpengaruh. Dalam Passions of The Soul, ia berkilah bahwa tertawa adalah ekspresi mencemooh dan mengejek.

Barulah pada abad ke-18, tertawa mulai dilihat dalam perspektif yang berbeda, lebih positif. Tertawa sebagai pelepasan ketegangan dan tekanan emosional. Para pemikir seperti Lord Shaftesbury, Herbert Spencer, Sigmund Freud, dan John Dewey yang memulainya. Selanjutnya, Soren Kierkegaard menghubungkan humor dan tertawa dengan kesadaran keagamaan. Bagi Kierkegaard, humor adalah tingkatan paling tinggi kesadaran eksistensial manusia. Humor sangat penting! Orang beriman, kata Kierkegaard, adalah orang yang paling humoris. Bahkan, dia katakan, kekristenan adalah pandangan hidup paling humoris dalam sejarah dunia. Semakin beriman seseorang semakin tahu dia cara jitu menyiasati hidup. Saat ada gap besar antara apa yang diharapkan dan yang menjadi kenyataan, orang biasanya akan menderita. Tetapi, kata Kierkegaard, seorang beriman yang humoris tahu mengatasinya. Ini yang membuatnya tidak menderita. Ia bahkan bisa menertawakan situasi yang ada. Akhirnya, ada pandangan yang lebih positif terhadap humor dan tertawa. Tidak diharamkan lagi! Memang, kita butuh humor dan tertawa untuk menghadapi hidup yang semakin sumpek.

Sudah perlu adanya penggambaran tentang Allah yang lebih ramah. Mitos bahwa Allah itu formal, serius dan kaku harus diubah. Perlu demitologisasi! Butuh penggambaran baru yaitu Allah yang murah senyum dan tertawa, bukan karena marah tetapi karena gembira. Allah yang akrab dan intim, akan membuat kita lebih nyaman. Nikmat juga membayangkan Allah seperti orang tua yang suka ‘usil,’ suka bercanda dengan anak-anaknya. Gambaran seperti ini penting. Tujuannya agar umat lebih santai, suka humor dan lebih ramah dalam beragama. Gambaran Allah yang ramah dan suka canda itu nampak pada diri Yesus. Saat anak-anak mendekati-Nya, Yesus biarkan. Anak-anak itu mau mendekat pasti karena Yesus ramah, murah senyum, doyan canda, suka humor dan gampang tertawa. Anak-anak merasa tenteram! Kalau Yesus tidak memiliki sikap-sikap seperti itu, anak-anak pasti enggan mendekatiNya. Ngeri…!

Author