Tulisan Eka banyak, bahkan terlalu banyak, topiknya pun luas. Seolah dia tahu semuanya, baik persoalan individual maupun masalah sosial. Eka menulis tentang soal seksual sampai soal lintas sektoral. Eka menelisik hubungan gereja dan pemerintah serta hubungan antar umat. Pokoknya, semua dibahasnya. Dan telisikannya pun keren. Eka menggunakan diksi yang lentur dan seksi. Penikmat tulisannya selalu terpuaskan. Ia mampu membahas persoalan nan rumit dengan kata-kata  lincah dan genit. Daya bujuknya dahsyat sehingga susah mengkritisi pikirannya. Meski demikian, sangat penting untuk memahami pemikiran Eka yang bergumul keras dengan persoalan bangsa yang berada dalam ‘tension’ antara kesatuan/persatuan dan realitas kemajemukan.

Mengapa Eka menggumuli secara serius persoalan sosial-teologis bangsa ini, terutama persoalan relasi antar umat? Jawabnya ada dua! Pertama, karena relasi antar umat memiliki potensi besar untuk berdamai, tetapi juga untuk konflik. Eka sadar bahwa agama bersifat ambigu. Agama memiliki potensi mendatangkan kebaikan, tetapi bisa dimanfaatkan untuk penindasan dan ketidakadilan. Jawaban kedua adalah ini. Sebagai teolog, Eka paham benar bahwa teologi seharusnya tidak dilakukan ef ha pax (sekali dan untuk selamanya), melainkan hinc et nunc (di sini dan sekarang ini).  Artinya, teologi harus menggumuli persoalan sehari-hari. Teologi harus menjawab berbagai pertanyaan eksistensial dan sosial manusia, sekaligus mempertanyakan jawaban-jawaban yang ada. Teologi itu harus dinamis sekaligus kontekstual!

Visi Eka Dalam Hubungan Antar Umat

Cita-cita atau visi Eka dalam hubungan antar umat adalah ini. Eka mencita-citakan suatu model kehidupan antar umat yang ia sebut pluralisme. Pluralisme dipahami sebagai relasi yang pro-eksistensi kreatif. Apa itu? Suatu situasi dimana semua umat beragama saling berhubungan dalam kemanusiaan yang satu dan sama. Semua umat beragama melaksanakan tugas dalam kebersamaan timbal balik demi meraih tujuan bersama. Apa itu? Kesejahteraan bagi dan demi semua orang. Gagasan ini berhubungan dengan ide Eka tentang agama. Bagi Eka, tujuan agama adalah bukan untuk dan demi kepentingan dirinya per se. Sebaliknya, agama harus menunjukkan bukan saja eksistensinya tetapi manfaatnya bagi masyarakat yang plural ini. Tanpa manfaat bagi masyarakat, agama menjadi irrelevant dan insignificant.

 

Syarat terpenting agar agama bisa memberi manfaat bagi masyarakat adalah ini. Agama harus melepaskan diri dari mentalitas anak tunggal seolah hanya dirinya yang paling OK. Sebaliknya, dalam dunia yang plural ini setiap kelompok agama harus mampu menempatkan dirinya sebagai (cuma) salah satu pilar yang membuka diri untuk bekerjasama dengan kaum liyan. Fokus dan keprihatinan Eka pada masalah pluralisme ini bisa dipahami, mengingat bahaya besar bila suatu bangsa gagal mengelola kemajemukannya. Paling sedikit ada dua bahaya yang mengancam bangsa yang majemuk. Pertama, bangsa ini akan terperangkap dalam dominasi mayoritas atau tirani minoritas. Kedua, bangsa ini akan mengalami proses balkanisasi, terpecah-belah, hancur berantakan menjadi serpihan kecil-kecil dengan korban jiwa yang tidak terhitung banyaknya. Uni Soviet dan Yugoslavia hancur baur berantakan karena gagal mengelola pluralitas yang ada di dalam dirinya.

Ada beberapa kecenderungan agama, yang bagi Eka, harus diwaspadai agar bangsa kita yang plural ini tidak terpecah-belah. Saya akan uraikan tiga aspek saja.

Pertama, purbasangka teologis. Sikap apriori terhadap agama dan umat lain adalah suatu warisan yang hingga kini masih menempel di dalam kehidupan umat. Sikap apriori adalah ‘anak haram’ warisan teologi Barat yang menganggap bahwa tidak ada keselamatan di luar gereja. Warisan teologi Barat ini bisa menjebak umat Kristen hidup dalam teologi yang polaristik dan dikotomis. Agama dan umat lain dianggap sesat, bahkan dituding sebagai pengikut iblis yang harus dibinasakan.

Kedua, superioritas kultural yaitu teologi yang eksklusif-fundamentalistik yang secara mutlak percaya bahwa hanya ada satu jalan menuju kepada Allah yang Esa. Di sini, misiologi dipahami sebagai evangelisasi. Evangelisasi tidak lebih daripada westernisasi, supaya selamat ‘yang lain’ harus menjadi seperti ‘kami.’ Sikap ini yang membuat fokus Kristen hanya pada bagaimana menambah dan memperbesar umat. Persoalan lain seperti masalah sosial-politik diabaikan.

Ketiga, tradisionalisme yaitu sikap teologis yang beku dan kaku. Ada sikap immune terhadap situasi dan informasi baru yang membuat sulit berteologi secara baru. Gereja cenderung melakukan copy paste tradisi lama. Padahal konteks baru membutuhkan teologi yang sama sekali baru, meski tentu saja dengan tetap menghormati warisan tradisi lama. Aspek ini membuat gereja mengalami kemandekan. Gagal memainkan peran dalam proses transformasi sosial dan transformasi bangsa.

Kalau begitu, apa yang seharusnya gereja-gereja lakukan? Karena keterbatasan tempat dan terbatasnya pengetahuan penulis, anda tidak akan menemukan solusi di sini. Memang, tulisan ini sekedar mengangkat berbagai persoalan sosial penting yang sudah Eka kemukakan. Kita harus melihat itu semua sebagai ‘pekerjaan rumah’ bersama yang harus kita cari jawabnya. Bila itu tidak kita lakukan, gereja-gereja kita akan menjadi garam yang tawar, yang kehadirannya tidak relevan dan tidak signifikan bagi bangsa. Dan ini bahaya besar bagi keutuhan bangsa dan tentunya bagi kita semua! Oleh karena itu, anda semua harus mulai berinisiatif menemukan solusinya. Nah, saat anda memutuskan untuk memulai mencari solusi, tulisan ini saya sudahi.

Author