Satu pertanyaan penting yang harus kita gumuli adalah, “keluarga itu rahmat atau kiamat?” Sebagai pengikut Kristus, kita tentu menjawab bahwa seharusnya keluarga itu rahmat. Mengapa? Keluarga itu bukan sekedar institusi sosial yang diakui masyarakat; Keluarga itu pertama-tama dan terutama merupakan lembaga yang dibuat, diciptakan, dibentuk, diteguhkan dan diberkati oleh Tuhan. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging,” kata Tuhan (Kejadian 2:24).

Saat keluarga dialami sebagai rahmat, suami akan melihat istrinya sebagai anugerah Allah. Istri pun demikian. Dia akan melihat suaminya sebagai hadiah dari Allah. Mereka berdua akan selalu bersyukur dan merasakan kebahagiaan. Saat tidur atau saat bangun pasti tersenyum cerah. Saat dekat saling berpadu, saat jauh saling merindu. Suasana sorga dialami di dunia. Indah toh!

Mengakui suami atau istri sebagai rahmat Allah bukan berarti mengharapkan suami atau istri itu sempurna. Tidak begitu! Pengharapan seperti itu sangat utopis. Itu hanya ada dalam mimpi,  hanya ada dalam cerita fiksi. Kenyataannya, kita semua tahu bahwa suami dan istri bukan manusia sempurna. Mereka manusia biasa saja. Memang mereka punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Tetapi, ssst……kekurangannya pun banyak. Dalam kekurangannya itu, mereka sering berbuat salah. Ada kesalahan kecil, namun bisa juga kealpaan besar. Ada yang tidak disengaja, tetapi banyak yang dilakukan on purpose, memang disengaja. Dasaaar…..! Tetapi, mengakui mereka sebagai rahmat Allah berarti menerima mereka dalam segala kelebihan dan kekurangannya. Dan terutama, siap hidup saling mengampuni, saling melengkapi, dan saling menumbuhkan. Bukan menumbuhkan body ke segala arah ya…., tetapi bertumbuh dalam cinta, dalam iman, dalam kesetiaan serta kedewasaan.

Orang yang melihat keluarga sebagai kiamat, akan merasakan suasana neraka. Bahkan ketika mereka masih di bumi. Kadang akarnya karena pengharapan berlebihan terhadap suami atau terhadap istri. Mereka berharap pasangannya itu manusia sempurna. Itu fatamorgana. Saat tinggal bersama baru terasa bahwa pasangannya ternyata tidak sempurna, jauh dari standard! Celakanya, bukannya menerima apa adanya, maklum nasi sudah jadi bubur; malah resah dan gelisah. Hidup tidak lagi ramah, tetapi marah. Bukan bermental anak terang, tetapi anak garang. Lalu, muncul konflik, saling mempersalahkan, saling tuding. Rumah tangga jadi seperti kawah candradimuka, panas membara!

Apakah situasi konflik ini bisa diperbaiki? Tentu saja bisa! Jangan pernah mengatakan tidak bisa. Dalam situasi panas jangan juga pernah berkata “pulangkan saja aku ke rumah orang tuaku.” Konflik itu biasa! Yang terpenting pikirkanlah solusinya. Kunci solusinya hanya satu, akuilah bahwa keluarga kita itu rahmat Allah. Pasangan kita adalah hadiah dari Allah untuk mendampingi kita yang juga tidak sempurna. Lalu belajarlah untuk berempati! Mulai dari kesediaan untuk mendengarkan. Empati hanya bisa terjadi ketika kita punya kerendahan hati. Ini dasar utama untuk bersatu, terutama di tengah tantangan hidup yang semakin rumit dan ruwet.  Ketidaksempurnaan tidak selalu merupakan kiamat. Bisa juga ia merupakan kesempatan untuk saling memotivasi. Ketidaksempurnaan adalah alasan mengapa kita harus berjuang agar bertumbuh makin tinggi, berkembang makin kuat. Ingat ini, apa yang meletihkanmu akan menguatkanmu. Apa yang mengujimu akan membahagiakanmu. Apa yang menyayat hatimu akan menggembirakanmu.

Author