Stiglitz dalam The Great Divide (2015) mengungkapkan bahwa dunia berada dalam kesenjangan ekonomi akut. Gap antara yang kaya dan yang miskin semakin besar.  Sementara banyak orang mengais sampah guna mencari sesuap nasi. Sebagian kecil hidup berlebihan dan bahkan asyik memamerkan kekayaannya di medsos.  Tanpa risih!

Kesenjangan ekonomi itu dihasilkan oleh kebijakan politik yang ditata oligarki super-rich. Mereka menciptakan sistem dan kultur serakah yang mengeksploitasi manusia, segala makhluk dan bumi ini. Mereka mendapat untung besar; sementara yang lain buntung! “Inilah dekade keserakahan” kata Stiglitz.

Efeknya, kualitas kehidupan dan bumi menurun drastis. John Cobb dalam Sustaining The Common Good mengatakan bahwa keserakahan manusia telah menghancurkan bumi dan segala isinya. Bumi dirusak bahkan diperkosa beramai-ramai tanpa suara kenabian agama-agama. Bumi sedang kita binasakan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Arthur W. Galston, seorang biologis dan botanis Amerika, menamakan proses ini sebagai ekosida (ecoside). Padahal bumi adalah bunda kehidupan dan rumah kita sendiri. Dan ini menempatkan kita sendiri dalam kiamat besar.

 

Respons Gereja?

 

Bagaimana respons gereja? Paling sedikit ada tiga!

Respons pertama, dunia dan hal yang duniawi  dianggap sangat penting. Kekayaan adalah tanda anugerah Tuhan; sementara kemiskinan adalah tanda kurang iman, dan bahkan kutuk Tuhan. Lalu, gereja mendorong keserakahan. Ayat suci “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28) dijadikan sumber legitimasi. Eksploitasi bumi tanpa batas diabsahkan. Teologi kesuksesan dan kemakmuran dikumandangkan. Kesenjangan ekonomi dirayakan! Disyukuri! Gereja semakin kaya saat manusia semakin miskin. Dunia makin compang-camping!

Respons kedua, Apatis. Dunia hanya kehidupan sementara. Jadi, tidak terlalu penting! Materi itu duniawi. Yang rohani itu sorgawi. Yang terpenting fokuslah untuk bekal kehidupan di ‘seberang sana.’ Ayat Suci “…penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18) dijadikan sumber legitimasi. Orang pun rela menerima penderitaannya. Orang menerima kemiskinannya karena indoktrinasi bahwa hidup sudah digariskan dari atas sana. Tak ada pemberontakan. Sudah given! Takdir! Inilah yang mendorong Marx menyebut bahwa ‘Agama menjadi candu’.

Dua respons gereja di atas justru melegitimasi kultur keserakahan, ketidakadilan, dan ekspolitasi terhadap bumi. Masih ada respons lain yang sama sekali berbeda. Respons ini diekspresikan sebagai gerakan ekumenis dunia. Gereja-gereja Calvinis dalam WARC (kini WCRC) membuat pengakuan iman pada Sidang Raya WARC tahun 2004 di Accra. Pengakuan iman Accra berbunyi:

“Kita percaya bahwa Allah berdaulat atas seluruh ciptaan. “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala  isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” (Mzm 24:1) Karena itu kita menolak tata ekonomi dunia yang berlaku sekarang, yang dipaksakan oleh kapitalisme, neoliberal, dan sistem ekonomi lain manapun, termasuk tata ekonomi yang direncanakan secara mutlak, yang bertentangan dengan perjanjian Allah,  dengan mengesampingkan orang miskin, orang yang lemah, dan seluruh ciptaan dari kepenuhan kehidupan. Kita menolak setiap klaim kekaisaran ekonomi, politik, dan militer yang melawan kedaulatan Allah atas kehidupan, dan bertindak bertentangan dengan pemerintahan Allah yang adil.”

Pada tahun 2005, DGD pun mengkritik keras adanya kesenjangan ekonomi. Dalam dokumen Alternative Globalization Addressing People and Earth (AGAPE), DGD mendesak agar umat manusia memperkokoh kehidupan bersama di bumi. Semua orang harus hidup dalam relasi yang adil, damai, dan sejahtera. DGD mengusulkan dua aspek. Pertama, kita harus mengontrol nafsu keserakahan sehingga kita tidak mengorbankan makhluk hidup lainnya dan tidak menciptakan ekosida.

Aspek kedua, kita harus menerapkan standard sosial baru dalam ‘kesuksesan.’ Kesuksesan bukan pertama-tama dilihat dari apa yang dimiliki seseorang. Kesuksesan itu dilihat dari kontribusi seseorang bagi kebaikan sesama, segala makhluk dan bumi ini. Daripada bersikap narsis kekanak-kanakan dengan memamerkan kekayaan, lebih baik pamerkan kebaikan bagi yang lain. Pamer kebaikan di sini bukan dimotivasi oleh kultur narsis, tetapi oleh keinginan menginspirasi kebaikan.

Himbauan DGD itu mengingatkan kita agar serius terhadap nasib manusia dan bumi yang berada di ambang kehancuran total. Teologi yang menjustifikasi keserakahan dan teologi yang menjustifikasi apatisme harus disingkirkan. Teologi ini membuat gereja menjadi problem maker! Menjadi toxic bagi kehidupan umat manusia dan dunia. Selain teologi yang memperhatikan kebutuhan individual-personal, kita butuh teologi sosial yang memperkuat komunitas kebangsaan dan kemanusiaan. Teologi sosial ini harus memberi kontribusi bagi kebaikan seluruh makhluk dan bumi ini.  Tanggungjawab bersama harus didorong agar kita terhindar dari kiamat yang kita ciptakan sendiri. Agama-agama, termasuk gereja, akan menjadi relevan bila mulai menyelami berbagai isu sosial, politik, ekonomi, dan ekologi yang mencelakakan kita semua.

Author