Selasa, 19 Oktober 2021 bertempat di GKI Sindanglaut telah dilaksanakan percakapan gerejawi dalam diri Penatua Andreas Maruli Palembangan yang biasa dipanggil dengan panggilan kesayangan anggota jemaat maupun penatuanya: “Bang Andre” (selanjutnya disebut Bang Andre), kelahiran Jakarta, 26 September 1991.

Persidangan dibuka dengan ibadah yang dilayani oleh Pdt. Pramudya Hidayat yang mengawali kotbahnya mengingat sambutan Pdt. Imanual Kristo pada saat penahbisan Pdt. Markus Hadinata di GKI Indramayu, bahwa seorang pendeta diharapkan bisa mengkanan, mengkenen, dan mengkonon. Maksudnya, seorang pendeta itu harus serba bisa di tengah-tengah jemaat yang dilayaninya. Namun yang terpenting, bahwa pelayanan mestinya dilandasi oleh cinta yang besar kepada Tuhan melalui jemaat-Nya.

Sebelum memasuki percakapan gerejawi, Pnt. Gretty mewakili BPMSW GKI SW Jabar dalam sambutannya mengatakan bahwa Bang Andre memiliki cinta yang besar untuk jemaat yang dilayaninya, dalam hal ini Jemaat GKI Sindanglaut. Namun, ketika apa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan, Bang Andre menjadi kecewa. Cintanya yang begitu besar membakar habis dirinya. Sesungguhnya, yang diperlukan bukanlah cinta yang membara, tetapi cinta yang dapat memberikan sinar yang secukupnya yang memberikan kehangatan. Pendeta bukanlah superman atau superwoman, sosok yang serba bisa, melainkan diharapkan bisa membangun superteam, di mana kerjasama team-lah yang membuat pelayanan berkembang dengan baik, bukan kerja seorang diri.

Setelah melewati berbagai pergumulan, Bang Andre akhirnya dapat menyelesaikan paper-nya dengan baik yang dipresentasikan dengan baik pula.

Paper pertama terkait dengan ajaran berjudul “Teologi Intip Tahu: Identitas dan Kesaksian Pelayanan GKI Sindanglaut” dengan pemandu Pdt. Darwin Darmawan. Paper ini mengangkat peristiwa kelam di tahun 1998 yang dialami oleh Jemaat GKI Sindanglaut di mana terjadi kerusuhan dan penjarahan. Tetangga yang berdekatan dengan rumah anggota jemaat yang semestinya dapat melindungi malah ikut-ikutan menjarah, meski ada juga yang berbaik hati. Peristiwa ini menimbulkan luka dan trauma tersendiri yang memerlukan proses penyembuhan bertahun-tahun.

Pada sisi lain, identitas gereja sebagai garam dan terang haruslah dihidupi di tengah-tengah Jemaat GKI Sindanglaut yang sebagian besar beretnis Tionghoa. Di tengah-tengah proses pemulihan, Jemaat GKI Sindanglaut terus berupaya menghadirkan dirinya di tengah-tengah masyarakat Sindanglaut.

Teologi Intip Tahu sendiri berangkat dari refleksi Bang Andre, bahwa Jemaat GKI Sindanglaut mesti memaknai dirinya menjadi bagian dari masyarakat Sindanglaut sekaligus memaknai dirinya sebagai seorang pengikut Kristus. Ada identitas hybrid yang merupakan perpaduan antara Kekristenan, Tionghoa, dan Sindanglaut. Melalui penghayatan ini, diharapkan gereja dapat melayani dan hadir secara kontekstual di tengah-tengah lingkungannya.

Paper kedua terkait Tata Gereja GKI berjudul: “Hao dan Yen: Kekerabatan dalam Berorganisasi di GKI Sindanglaut” dengan pemandu Pdt. Nugraheni Iswara Adi. Dalam pemaknaan orang Tionghoa, kata “Hao” berarti dikaitkan dengan seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Nilai ini sangat dijunjung tinggi dalam tradisi Tionghoa. Sebaliknya, seorang anak dikatakan “Put Hao” kalau kurang ajar atau melawan kepada orang tua. Sementara istilah “Yen” berarti sebuah relasi yang di mana dua orang saling berkontribusi satu sama lain. Misalnya, relasi kekerabatan dalam kehidupan seorang anak dan bapaknya. Di satu sisi, si anak harus tunduk dan hormat kepada bapaknya. Tetapi di sisi lain, si bapak mestilah memberikan contoh atau teladan hidup yang baik kepada anaknya.

Lalu, apa kaitannya dengan sistem organisasi di GKI yang presbiterial sinodal atau kolektif kolegial?

Bang Andre dalam papernya mengatakan, bahwa konsep “Hao” dan “Yen” ini sesungguhnya telah mendarah daging di Jemaat GKI Sindanglaut yang sebagian besar beretnis Tionghoa. GKI yang menganut sistem organisasi presbiterial sinodal memberikan kesempatan kepada seluruh anggota jemaat, baik yang muda maupun tua untuk berperanserta membangun jemaat. Namun pada kenyataannya, yang muda kadang merasa sungkan untuk berpendapat karena takut menyinggung yang tua, yang mungkin saja adalah Omnya atau Tantenya di gereja. Padahal, semestinya yang muda bisa berperan lebih di gereja. Sementara yang tua semestinya bisa memberi ruang lebih kepada yang muda untuk berpartisipasi dalam kehidupan bergereja.

Implementasi nilai “Hao” dan “Yen” di tengah GKI mestinya tidak membuat yang muda dan yang tua berjarak, tetapi yang muda tetap bisa memberikan pendapat, kontribusi, pelayanannya, tanpa mengabaikan sikap hormat kepada yang tua. Sementara yang tua juga mau memberi ruang dan kesempatan lebih kepada yang muda untuk berpartisipasi dalam membangun jemaat, tanpa merasa kedudukan digeser oleh yang muda.

Selama percakapan, Bang Andre terlihat tenang dan dapat menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang diajukan kepada dirinya, meski sempat juga terlihat merasa gugup atau tegang saat di bagian percakapan mengenai Tata Gereja melalui pertanyaan yang ajukan oleh beberapa peserta persidangan.

Akhirnya, setelah melalui penilaian dari seluruh utusan Jemaat di lingkup GKI Klasis Cirebon, termasuk para pelawat dari BPMS GKI dan BPMSW GKI SW Jabar, Bang Andre dinyatakan layak untuk menjadi pendeta GKI.

Menjelang ibadah penutup, Pdt. Imanuel Kristo dalam sambutannya mewakili BPMSW GKI SW Jabar mengatakan bahwa seorang pendeta itu harus bisa bicara tentang apa saja, apakah itu tentang gado-gado, intip tahu, dan lainnya. Maksudnya, ia harus bisa ‘membumi’ dan bergaul dengan siapa saja. Istilahnya, menjadi pendeta yang kontekstual. Tanpanya, ia akan sulit diterima dan dipahami oleh orang lain yang menjadi subyek pelayanannya.

Persidangan ditutup dengan ibadah yang dilayani oleh Pdt. Sakriso Ladiana Saragih yang berpesan agar Bang Andre selalu fokus kepada Tuhan dalam pelayanannya, bukan kepada manusia.

Author