Mencermati perkembangan politik di Afghanistan, terutama pasca runtuhnya pemerintahan Ashraf Gani, nampaknya kita makin pesimis situasi yang dihadapi rakyat Afghanistan akan semakin baik. Berita terbaru yang dilansir BBC Channel menyatakan bahwa Afghanistan diambang kebangkrutan ekonomi, dan bahwa makanan sudah semakin sulit diperoleh. Banyak orang di Afghanistan terancam mati kelaparan.

Pendapat para politisi yang sangat ngotot bahwa Taliban sebagai pemangku kekuasaan politik, sudah berubah, sudah lebih terbuka, dan moderat, ternyata salah total. Taliban dulu dan Taliban sekarang sama saja. Pembunuhan, penindasan, dan kekerasan terhadap musuh politik, terhadap rakyatnya, dan terutama diskriminasi terhadap kaum perempuan, tetap terjadi. Tidak ada yang berubah! 

Salah satu aspek yang membuat Taliban tidak berubah, ada pada ideologinya yang ekstrem-fundamentalisme. Talibanisme disokong dan dijustifikasi oleh interpretasi keagamaan yang sempit.  

Taliban, berarti ‘murid’ dalam bahasa Pahsto; yang didirikan di Utara Pakistan, pasca pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan. Taliban dibentuk di pesantren-pesantren yang dibiayai oleh Arab Saudi, yang umumnya menganut aliran Wahabi garis keras. Interpretasi Taliban terhadap Syariah Islam sangat rigid. 

Dalam model interpretasi seperti ini, dunia hanyalah persinggahan sementara. Oleh karena itu umat harus  dipersiapkan untuk hidup saleh demi kehidupan yang baik di dunia seberang sana.

Interpretasi seperti ini menjadi alasan untuk melarang berbagai aktivitas budaya, termasuk menonton TV dan film, bermain sepakbola, atau rekreasi dalam bentuk apa pun. Semua aktivitas itu hanya mendatangkan kesenangan duniawi yang memabukkan. Orang bisa lupa pada tujuan akheratnya.

Taliban itu sangat bias gender. Tafsiran agamanya mendukung posisi dimana perempuan disubordinasikan di bawah kaum laki-laki. Ini yang membuat kaum perempuan dilarang bekerja dan mengakses pendidikan. Tugas kaum perempuan hanyalah melayani suaminya di rumah. Urusannya hanya pada kasur, dapur, dan sumur. 

Ganjaran terhadap para pelanggar hukum itu sangat keras. Taliban menerapkan eksekusi mati dan potong tangan. Interpretasi hukum agama yang ketat dan kaku itu dilakukan dengan dua tujuan, yaitu menjaga kemurnian agama dan menciptakan masyarakat agama (versi Taliban) yang sungguh-sungguh taat dan saleh kepada Allah. Ini, sekali lagi, demi persiapan hidup dalam dunia di seberang sana. 

Klaim kemurnian agama yang dipegang oleh kaum ekstrem fundamentalisme, seperti pada dirinya bersikap imperialistik dan hegemonik. Klaim ini menjadi penyebab utama mengapa Taliban melakukan penindasan terhadap Syiah dan menghancurkan patung Buddha Bamiyan di Afghanistan tengah pada tahun 2001. 

Sesungguhnya gerakan ekstrem fundamentalisme seperti Taliban ini ada di semua agama. Ada tiga karakter gerakan keagamaan seperti ini yang membuat kita harus mengkritisi dan menolak keberadaannya di Indonesia. Ketiganya adalah:

Pertama, gerakan ekstrem fundamentalisme seperti Taliban yang hidup dalam ilusi bahwa agama pasti bisa menyelesaikan semua masalah dan krisis di dunia ini. Tetapi bagi kelompok seperti ini, krisis terbesar adalah krisis ‘moral’ dan krisis spiritual. Ini menjadi fokus utama pemerintahan Taliban karena ideologi kelompok ini tidak cukup serius dengan dunia ini. Semuanya harus fokus pada dunia seberang sana. Itulah sebabnya, krisis ekonomi, politik, masalah kesehatan, dan makanan tidak mendapatkan perhatian. 

Demi menjaga moral, masyarakat harus dikontrol dan wajib mematuhi hukum agama dengan interpretasi yang rigid sesuai yang diyakini oleh Taliban. Pelanggaran terhadap ‘hukum’ mendapatkan hukuman yang keras. Hukum artinya ketaatan pada perintah Taliban. Hal inilah yang membuat masyarakat dihantui oleh  ketakutan.

Umat diindoktrinasi bahwa upah ketaatan dan amal saleh terhadap hukum ‘agama’ itu akan mendapatkan ganjaran berkat dari Allah. Oleh karena itu, orang tidak perlu belajar ilmu lain. Cukup punya iman dan belajar agama, maka segalanya akan beres. Jujur saja, ini adalah ilusi besar; ini hanya ada dalam mimpi.  

Kedua, adanya ajaran yang memberikan keyakinan bahwa bila seseorang atau suatu masyarakat sudah menerapkan amal saleh, sudah menjadi manusia yang taat pada hukum agama, maka orang itu atau masyarakat tersebut tidak akan lagi menghadapi persoalan dan masalah apa pun. Ini pun ilusi besar! 

Realitasnya, persoalan dan masalah itu bersifat anarkis. Menimpa siapa saja. Bencana seperti gempa bumi, banjir bandang, pandemi Covid-19, angin topan, atau tsunami tidak memilih korban. Anak kecil-orang tua, laki-perempuan, baik-jahat diterjangnya. Kita semua rapuh! Tidak peduli apakah kita orang yang saleh beragama atau tidak!  

Ketiga, ilusi bahwa pemerintahan yang lama adalah pengikut setan, dan bahwa pemerintahan yang baru ini adalah dari Allah, dan akan membawa harapan baru. Para penentang hukum Allah yang mengancam pemerintahan yang baru harus dibinasakan sampai ke akar-akarnya.

Bila rezim lama yang dikuasai setan sudah disingkirkan, maka akan muncul era baru yang sempurna. Era ini ditandai dengan kegemilangan, keadilan, dan kesejahteraan. 

Ini adalah ilusi yang memabokkan. Dengan janji yang memabokkan itulah para pemimpin politik dan antek-anteknya bisa mempertahankan status quo sekaligus menutupi syahwat kekuasaan politik dan materialistiknya.

Celakanya, banyak umat, apa pun kelas sosial, dan bahkan kelas intelektualnya, ikutan mabok. Sebagian kehilangan daya kritis, sebagian lain ikut menjustifikasi pemerintahan yang ada.

Ketika agama telah menjadi ideologi dan telah berbaur dalam politik kekuasaan, orang akan dengan mudah mengatasnamakan Allah dan agama untuk berbuat apa pun. Kita tiba pada satu situasi dimana kekerasan dan anarkisme terhadap sesama, dilakukan bukan oleh penentang Tuhan, tetapi oleh mereka yang mengatasnamakan Tuhan.  

Kita tidak boleh lupa bahwa di balik bahasa dan simbol agama yang digunakan, bisa muncul Hitler, Polpot, dan kaum oligarkis 5.0 yang justru lebih halus permainannya, tetapi lebih besar korban kebengisannya.

Author