Salah satu kontribusi kekristenan terhadap moderasi beragama demi memperkuat integrasi bangsa adalah kemampuannya untuk keluar dari pengaruh warisan teologi Barat. Menurut Eka Darmaputera (2001), warisan teologi Barat yang terutama adalah sindrom ‘anak tunggal’. Sindrom ini menganggap agama sendiri sebagai satu-satunya pemegang monopoli kebenaran dan jalan keselamatan. Dengan sindrom gereja tidak berpikir untuk menjalin relasi antar agama yang setara dan adil demi kebaikan bangsa dan negara, tetapi bagaimana menobatkan orang sebanyak-banyaknya. Jangan salah paham. Ini bukan berarti saya anti penginjilan; bukan itu! Maksud saya adalah ketika penginjilan hanya dilihat sebagai ‘menobatkan’ orang lain agar menjadi Kristen maka agama-agama hanya sibuk berkompetisi, lalu konflik. Pada akhirnya mati bareng! Ingat, kita punya panggilan lain yang tidak kalah pentingnya. Apa? Membangun relasi persaudaraan dan kasih dengan siapa pun demi terciptanya masyarakat, bangsa dan negara yang adil, sejahtera dan damai

Kemauan dan kemampuan kekristenan membebaskan diri dari dominasi warisan teologi gereja Barat ini sangat bagus. Sikap ini menimbulkan efek positif dalam relasi sosial politik di Indonesia, terutama dalam konteks relasi antar umat beragama. Secara sosial, kekristenan mampu berpartisipasi dalam penguatan moderasi beragama demi keutuhan bangsa. Kekristenan bisa menerima dan menghargai keanekaragaman agama yang menjadi ciri khas bangsa kita. Kita berjuang keras membangun relasi persaudaraan yang setara dan harmonis dengan siapa pun. Dialog dan kerjasama antar umat beragama perlu diperbanyak dalam program gereja-gereja kita. Kemajemukan tidak lagi dilihat dari kacamata yang polaristik dan superioritas kultural, aku anak terang, situ anak gelap. Sebaliknya, keanekaragaman agama dilihat sebagai anugerah; Ya…., untuk saling mengisi dan melengkapi, serta mengembangkan sikap egaliter dan komplementer dengan sesama.

Dalam spirit menghargai keanekaragaman dan demi persatuan bangsa, umat Kristen mampu mengembangkan sikap teologis yang realistis dengan menerima Pancasila sebagai dasar dan filosofis bangsa. Penerimaan Kristen terhadap Pancasila bukan didasari oleh alasan formalitas. Bukan juga karena sikap oportunistis. Umat Kristen menerima Pancasila karena, kata Eka Darmaputera, didorong oleh sikap teologis: “apa yang baik bagi semua orang adalah baik untuk kita.” Umat Kristen menunjukkan bahwa gereja bukanlah tujuan bagi dirinya sendiri. Bukan primordialis. Apalagi sektarian! Gereja ada untuk kebaikan bangsa dan segala makhluk.  Gereja hanyalah instrumen Allah untuk menghadirkan shalom, yaitu keadilan dan perdamaian bagi seluruh ciptaanNya.

Syukurnya, makin banyak gereja mengembangkan sikap pluralis dan toleran terhadap mereka yang berbeda agama. Ada kesadaran bahwa kesatuan dan persatuan kita hanya bisa tercapai melalui sinergi dan kerjasama lintas agama dan lintas denominasi. Individu-individu intelektual di kalangan Protestan pun bermunculan untuk memperkaya moderasi beragama dari perspektif Kristen. Misalnya tokoh seperti Leimena, TB Simatupang, Eka Darmaputera, Th. Sumartono, Yewangoe, serta generasi yang lebih muda seperti Martin Sinaga, Joas Adiprasetya, Trisno Sutanto, Elga Sarapung. Masih banyak lagi tokoh Kristen, baik pemuka agama maupun kaum intelektual dari berbagai profesi lainnya, di tingkat Lokal maupun Nasional yang memberi kontribusi bagi terwujudnya integrasi bangsa Indonesia yang majemuk ini. Institusi gereja, baik Lokal maupun Nasional, pun mulai mengembangkan berbagai program pelayanan yang memperkuat sinergi dan kohesi umat lintas agama, seperti seminar dan webinar lintas agama, pelayanan sosial bersama, dan sebagainya.

Aspek yang menggembirakan adalah bahwa banyak elemen masyarakat lain yang ikut berpartisipasi dalam menjaga integrasi bangsa. Umat beragama lain ikut memberikan kontribusi yang sangat besar. Misalnya dari Hindu ada Saraswati dan ibu Gedong Bagus Oka. Dari Buddha ada  Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera, dan sebagainya. Ada ratusan bahkan ribuan organisasi sosial masyarakat (LSM). LSM-LSM ini memiliki banyak program terobosan. Misalnya dialog lintas agama, pelatihan dan pengkaderan. Mereka juga melakukan pengawasan terhadap kebijakan politik dan hukum pemerintah pusat atau pemerintah daerah yang berpotensi menciptakan ketidakadilan dan diskriminasi terhadap umat beragama mana pun. Beberapa LSM bisa disebutkan di sini. Misalnya, Dian Interfidei (Yogyakarta), Gerakan Pemuda Ansor(Jakarta), Fatayat NU (Jakarta), Masyarakat Dialog Antar Umat Beragama atau Madia (Jakarta), Jaringan Kerja Antar Umat Beragama atau Jakatarub (Bandung), Setara Institut (Jakarta), Wahid Institut (Jakarta), Indonesia Conference Religion and Peace atau ICRP (Jakarta). Gus Durian (Jakarta), dan Nurcholis Madjid Society (Jakarta)

Kalangan intelektual di berbagai Universitas atau Perguruan Tinggi pun ikut berpartisipasi dalam penguatan moderasi beragama. Mereka menyelenggarakan penelitian tentang hubungan antar umat beragama atau menciptakan program studi yang memperkuat moderasi beragama. Misal:  Universitas Satya Wacana (Salatiga), UIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta), STFT (Jakarta), Universitas Paramadina (Jakarta), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (Jakarta), dan sebagainya.

Elemen masyarakat lain yang juga bersemangat memperkuat moderasi beragama adalah kalangan seniman, wartawan dan tentu saja dari birokrat dan negarawan. Gerakan penguatan moderasi beragama ini memberikan harapan bagi masa depan Indonesia yang demokratis, adil dan setara. Dalam arak-arakan gerakan moderasi beragama untuk merajut integrasi bangsa inilah kita semua terpanggil untuk berpartisipasi demi kebaikan bangsa dan umat manusia.

 

Pecah Kopi

Bandung 17 November 2021

Author