Keluarga tidak pernah lepas dari masalah. Di dalam keluarga pasti ada perbedaan pendapat dalam diskusi di meja makan. Selain itu juga ketika saudara kita membuat kita geram dan marah. Bahkan ketika orang tua kita bersikap kasar. Itu semua wajar terjadi dalam keluarga. Tidak ada keluarga yang sempurna. Semua keluarga punya dinamikanya masing- masing, namun yang penting sekalipun sikap anggota keluarga terkadang menyebalkan, tapi keluarga selalu ada untuk kita. Kita akan tetap merasa dicintai di dalamnya.

Berbeda dengan hal di atas, ada yang namanya keluarga yang toxic. Keluarga yang toxic juga memiliki masalah yang sama, namun masalah ini terjadinya secara rutin dan sudah menjadi kebiasaan buruk yang dibiarkan terjadi. Luka batin, trauma masa kecil, stress yang tidak berakhir, khawatir berlebih dan rasa takut antara anggota keluarga. Jika ini yang terjadi, maka tidak ada kenyamanan di dalamnya.

Ada beberapa cara untuk melihat apakah keluarga kita toxic atau tidak dengan membandingkannya dengan keluarga yang toxic dalam alkitab. Keluarga bapak Ishak adalah salah satu keluarga yang toxic. Hal ini bisa ditemukan dari pertikaian yang dihasilkan dari sikap kedua orang tua (Ishak dan Ribka) kepada kedua anaknya (Esau dan Yakub). Sikap ini berujung pada rasa saling membenci satu sama lain dan mempengaruhi seluruh keturunannya. Tidak ada kasih hanya ada rasa takut dan benci.

Dalam Kejadian 25-27 kita bisa menemukan ciri-ciri keluarga yang toxic. Pertama, ada anggota keluarga yang tidak diberi perhatian. Ini dirasakan Yakub. Dalam Kejadian 25 ayat 28 dikatakan “Ishak sayang kepada Esau”. Sikap memperhatikan yang satu dan menghiraukan yang lain. Rupanya ini menjadi pemicu masalah kedua anak kembar ini. Yakub merasa dirinya kasat mata bukan karena bapaknya mulai rabun dan buta, namun perhatian Ishak hanya tertuju kepada Esau (sebagai anak sulung).

Mari kita lihat apakah ada anggota keluarga kita yang diperlakukan seolah-olah kasat mata? Biasanya terjadi pada anggota keluarga yang dianggap sebagai beban, tidak berguna, masih muda, dll. Bila ada anggota keluarga yang dihiraukan atau bahkan kebutuhan dan pendapatnya tidak didengar, jangan-jangan kita punya potensi menjadi keluarga yang toxic.

Kedua, seorang anggota keluarga akan berharga bila ada yang ia berikan. Seorang anggota keluarga hanya akan dihargai kalau ia membawa materi atau prestasi ke dalam rumah. Sesama anggota keluarga tidak lagi melihat potensi-potensi lain. Ini bisa kita lihat dari Kejadian 27 ayat 3 ketika Ishak meminta Esau berburu sebagai syarat pemberian hak kesulungan. Jadi hak kesulungan akan diberi kepada anak yang membawa buruan ke depan ayahnya. Dan akhirnya Yakub memanfaatkan kesempatan itu dan mengambil hak kesulungan kakaknya.

Kebiasaan menuntut dan pamrih ada dalam keluarga yang toxic. Keluarga yang toxic hanya melihat anggota keluarga dinilai dari apa pemberiannya bukan siapa dirinya. Keluarga toxic lebih melihat sudah sarjana daripada apakah ia adalah anak yang baik. Keluarga toxic lebih

Pnt. Andreas Maruli P.

melihat punya tabungan besar daripada apakah ia peduli terhadap sesamanya.

Ketiga, kita hanya diperlakukan sebagai bidak. Bidak adalah pangkat terkecil dalam permainan catur. Bagian dari alat bermain catur ini harganya paling kecil dibanding raja, ratu, menteri kuda dan benteng. Dan bidak akan selalu dikorbankan demi keselamatan raja dan ratu. Ini juga terjadi dalam kehidupan keluarga Ishak. Di dalam Kejadian 27 ayat 6 & 7, Ribka menyuruh Yakub untuk menipu Ishak demi mendapat hak kesulungan. Yakub dan Ishak diperalat Ribka.

Menjadikan anggota keluarga kita menjadi tameng dan melukai demi keuntungan pribadi adalah ciri dari keluarga yang toxic. Keluarga justru harus saling mengorbankan diri demi kepentingan bersama dan bukan menjadikan satu tumbal demi yang lain

Dari ketiga hal di atas kita bisa membandingkan keluarga kita dengan keluarga Ishak. Apakah keluarga kita berbeda dengan mereka? Berarti keluarga kita saling melindungi dan memperhatikan satu sama lain. Ataukah keluarga kita sama dengan keluarga Ishak? Jangan- jangan keluarga kita adalah keluarga yang toxic. Sehingga diperlukan tiga hal agar keluarga kita tetap utuh. Saling memperhatikan, tidak pamrih dan saling berkorban. Tiga hal inilah yang seharusnya dimiliki oleh para pengikut Kristus dalam menjaga kehidupan keluarganya agar tidak menjadi “toxic”.

Author