Sabtu, 6 November 2021 telah diselenggarakan percakapan gerejawai dalam diri Pnt. Samuel. Percakapan berlangsung dalam Persidangan ke-39 Majelis Klasis GKI Klasis Jakarta Selatan bertempat di GKI Cicurug, peserta kurang lebih dihadiri sekitar 100 orang dengan metode hybrid yaitu online dan onsite. Persidangan diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Esakhatri sebagai Ketua Majelis Jemat GKI Cicurug. Setelah ibadah, persidangan dilanjutkan dengan pengecekkan data diri Pnt. Samuel, penjelasan tata cara penilaian, dan penjabaran proses pembimbingan oleh pemandu percakapan.

Percakapan pertama dipimpin oleh Pdt Elisabeth Hasikin yang memandu makalah ajaran yang berjudul “Sama-sama atau Bersama”. Pdt Elisabeth Hasikin menerangkan proses pembimbingan yang dilakukan dan usaha dari Pnt. Samuel untuk memberi sumbangan pemikiran untuk ibadah intergenerasional yang tidak berhenti pada ibadah umum saja. Dalam penjelasan materi pun Pnt. Samuel menerangkan pandangannya bahwa gereja tidak dapat hanya menjadikan ibadah intergenerasional sekadar melibatkan orang-orang dari berbagai kelompok usia dalam tugas ibadah hari Minggu saja. Namun, ibadah intergenerasional mesti berlanjut dalam kehidupan bergereja sehingga menjadi gerak bersama yang dijalani oleh anggota jemaat. Seusai menjelaskan pandangannya, peserta persidangan diberi waktu untuk bertanya sebagai sarana belajar dan memertajam pandangan Pnt. Samuel. Dalam sesi tanya jawab, Pnt. Samuel kurang lebih mampu menjawab pertanyaan yang diberikan dan berdialog dengan peserta untuk terus mengeksplorasi makalah yang telah dibuat. 

Makalah kedua membahas tentang Tata Gereja GKI yang membahas tentang “Pola hubungan antara Majelis Jemaat dengan Badan Pelayanan dalam System Presbyterial-Sinodal yang diatur dalam Tata Gereja GKI”. Pdt. Suta Prawira menjadi pembimbing sekaligus pemandu dari percakapan tentang Tata Gereja GKI, ia pun menjelaskan tentang proses bimbingan dan pandangan Pnt. Samuel dalam menyikapi persoalan di GKI Cicurug melalui “kacamata” Tata Gereja. Penjelasan Pnt. Samuel berdasarkan pengalaman yang ia lihat dan alami ketika berproses bersama GKI Cicurug. Buah pemikiran ini ingin mengoptimalkan peran penatua pendamping dalam setiap Badan Pelayanan. Ruang diskusi kembali dibuka sehingga anggota persidangan dapat memberi masukkan dan pandangan bagi makalah yang sudah dibuat. Pnt. Samuel mampu menjawab dengan bijak setiap pertanyaan yang diberikan sehingga makalah yang telah dibuat mampu diperkaya melalui diskusi yang ada.

Penilaian yang diberikan oleh peserta persidangan menjadi acuan dari kelayakan Pnt. Samuel untuk menjadi Pendeta GKI. Namun, proses yang dijalani Pnt Samuel tidak berhenti pada penilaian yang diberikan. Ia diharapkan mampu mengimplementasikan apa yang boleh dipikirkan dalam kehidupan bergereja di GKI Cicurug, Majelis Klasis GKI Klasis Jakarta Selatan, Majelis Sinode Wilayah Jawa Barat, dan Majelis Sinode. Pnt. Samuel akan terus belajar dan membuahkan pemikiran yang dapat diaplikasikan bagi perkembangan gereja sebagai wujud keterlibatannya dalam pelayanan GKI.