Belakangan ini pemerintah sedang mensosialisasikan perlunya beragama secara moderat. Tentu saja upaya pemerintah ini harus kita dukung. Meski demikian, kita harus bertanya seberapa pentingnya moderasi beragama bagi bangsa Indonesia? Aspek apa yang pertama-tama harus dimiliki, yang memungkinkan umat menghayati agamanya secara moderat? Dan sikap apa saja yang menunjukkan penghayatan agama yang moderat? Inilah yang dibahas dalam tulisan singkat ini.

Moderasi beragama diawali dari kesadaran adanya realitas kemajemukan. Kaum moderat juga realistis bahwa di dalam kemajemukan selalu ada kompetisi dan kontestasi. Orang berupaya saling mengalahkan dan saling mendominasi, bila perlu dengan jalan kekerasan. Dalam konteks realitas seperti itu, moderasi beragama meresponsnya secara positif, kritis, realistis, dan etis. Kelompok moderat memiliki kemampuan menerima dan menghargai perbedaan. Mereka mampu menempatkan diri secara ‘pas’ di tengah perbedaan, kompetisi, dan kontestasi. Saat diperhadapkan pada kompetisi dan kontestasi, kaum moderat mampu mengambil keputusan yang bijak sesuai dengan nilai moral dan etis demi kepentingan dan kebaikan semua. Moderasi beragama lebih sebagai praksis hidup daripada sebagai teori yang abstrak.

Menyadari realitas pluralitas masyarakat dengan kecenderungan kompetisi dan kontestasi antar individu dan antar kelompok, gerakan moderasi beragama menyadarkan kita pada dua bahaya besar. Pertama, perlunya penolakan terhadap absolutisme yang mengarah pada idolatry, yaitu pemberhalaan terhadap tradisi agama itu sendiri. Kaum moderat percaya bahwa pemahaman yang diyakininya bukanlah sesuatu yang absolut dan sempurna. Hanya satu yang sempurna yaitu Tuhan. Pemahaman manusia tidak akan pernah sempurna. Kesadaran pada ketidaksempurnaan manusia itu penting, agar manusia menjadi tahu batas. Kaum moderat sangat percaya bahwa manusia tidak akan pernah menciptakan yang sempurna di dunia. Itulah sebabnya meski punya visi yang diperjuangkan, kaum moderat tidak pernah terjebak dalam ilusi. Visi hanyalah pegangan yang menentukan arah perjalanan, tetapi realitas ‘ketidaksempurnaan’ dunia yang menciptakan kompetisi dan kontestasi memaksa manusia untuk selalu terbuka berdialog dengan tantangan baru.

Kedua, ketidakmampuan mengkritisi berbagai warisan tradisi sendiri. Betapapun dihargainya, warisan tradisi yang diterimanya merupakan respons terhadap konteks sejarah dan tantangan masa lalu. Bisa saja warisan tradisi itu kurang cocok lagi dengan tantangan baru dan dengan situasi yang terus-menerus berubah. Bagi kaum moderat, agama adalah sebuah perziarahan, pencarian pada kebenaran yang tanpa akhir. Itulah sebabnya kaum moderat senantiasa berupaya menemukan cara bijak di tengah kompetisi dan kontestasi yang sering menyulut kekerasan dan ketidakadilan. Kaum moderat berupaya menemukan jalan adil dan bijak di tengah kerapuhan manusia beragama.

Soneson dalam Pragmatism and Pluralism: John Dewey’s Significance for Theology (1993) menamakan kedua efek ini sebagai ‘kesadaran plural’ (pluralistic consciousness). Mereka yang memiliki kesadaran plural memiliki penghargaan dan penghormatan terhadap kemajemukan. Mereka berupaya membangun relasi yang konstruktif dengan siapa pun, baik relasi antar agama, intra agama, maupun ekstra agama, yaitu organisasi non agama seperti pemerintah. Mereka menyadari adanya perbedaan. Mereka tidak akan berupaya menyama-nyamakan apa yang berbeda. Tidak juga berjuang untuk mempertentangkan perbedaan yang ada. Setiap agama punya keyakinan dan teologinya sendiri. Bisa saja berbeda, dan memang harus berbeda. Tetapi, perbedaan itu ada di dalam ranah forum internum. Seseorang yang menghayati moderasi beragama tidak akan memaksakan apa yang merupakan urusan ‘hati’ dalam realitas publik.

Memang, keanekaragaman adalah keniscayaan! Ia adalah realitas yang tidak dapat ditolak dan tidak bisa diabaikan. Kita semua hanya berupaya menerimanya secara realistis. Perbedaan teologi tidak harus menjadi penghalang untuk bekerjasama dalam aspek-aspek yang memang bisa dikerjasamakan. Misalnya dalam persoalan mengatasi kemiskinan, menegakkan keadilan, atau membangun demokrasi yang sehat dan penuh damai. Jelaslah bahwa bangsa kita dan dunia ini membutuhkan penghayatan keagamaan yang moderat karena dalam moderasi tidak ada penyangkalan terhadap keyakinan keagamaan kita. Sebaliknya, moderasi beragama justru mengajak kita untuk meningkatkan dan membangun nilai-nilai moral-etis yang positif bagi kebaikan semua.

Bandung 3 Nov. 2021

Author