Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Eka Darmaputera yang lahir pada 16 November 1942, ada baiknya kita mengenang pemikiran dan aktifitasnya. Mengapa? Karena ia memberi inspirasi tentang betapa pentingnya terobosan dan inovasi dalam melayani dan berteologi. Eka wafat pada 29 Juni 2005, sekitar 16 tahun lalu. Oleh karena itu, generasi muda tentu akan bertanya, siapa sesungguhnya Eka Darmaputera dan bagaimana kiprahnya di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara? Tulisan singkat ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tujuannya agar kita semua, terutama generasi muda, mewarisi semangat dan perjuangannya dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sekaligus menghormati kemajemukannya.

Eka dilahirkan di kota kecil Magelang dari pasangan suami-istri The Sie Piauw dan Tjeng Kwan Nio. Saat dilahirkan sebagai anak sulung, Eka diberi nama The Oen Hien, nama yang memang tidak pernah digunakan lagi.  Sejak kecil, Eka sudah memperlihatkan sikap sebagai seorang yang bermental lintas batas. Meski ayah dan ibunya melarangnya bermain dengan teman-temannya yang pribumi, Eka nekad saja. Ia tetap bermain dengan mereka. Memang ayah dan ibunya masih hidup dalam sekat-sekat imajiner etnik buatan kaum kolonialis Belanda, Eka tidak! Ia bahkan merasa diri sebagai anak pribumi. Meski demikian, situasi dan kondisi sosial dan politik bangsa telah berimbas dalam proses pembentukan identitasnya.

Orang-orang keturunan Cina atau Tionghoa, seperti Eka, sering ‘dipaksa’ menerima label sebagai non-pribumi.  Orang menciptakan semacam social and ethnic boundaries, batas-batas sosial dan etnik. Ini semacam sekat dan tembok imajiner yang memisah dan memilah manusia. Pelabelan ini merenggangkan relasi antara kelompok Tionghoa dan kelompok pribumi. Bahkan relasinya dipenuhi prasangka. Saya percaya, pelabelan bernuansa rasis itu adalah pengalaman empirik Eka. Saya menduga itu pasti menyakitkan hatinya. Meskipun demikian, pengalamannya itu seolah membuka matanya pada realitas bangsa dan negaranya. Ternyata di tengah realitas kemajemukan bangsa Indonesia, masih tersimpan ‘bom atom’ yang bisa menyebabkan disintegrasi sosial akut. Pengalaman personal yang menyakitkan ini diakuinya. Ia katakan bahwa dirinya masih hidup dalam ‘dua dunia’: antara kecinaan dan keindonesiaan.  Eka berada pada posisi ‘marginal,’ ditempatkan di tepian. Orang dengan latar belakang ketionghoaan seperti Eka selalu ditempatkan pada garis batas antara sini dan sana. Suatu posisi tidak di sini, tetapi juga tidak di sana. Neither-Nor. Menariknya, dari posisi ‘antara’ inilah Eka justru memulai pondasi teologis yang melahirkan kebajikan moral etisnya.

Pengalaman sebagai bagian dari etnik yang secara sosial-politik ditempatkan dalam posisi marjinal adalah pengalaman yang menyakitkan. Pengalaman itu bisa mendorong etnik atau kelompok yang dipinggirkan mengambil sikap introvert dan cenderung mengisolasi diri. Sikap seperti itu banyak diambil oleh masyarakat Tionghoa; Eka justru memilih sikap yang sebaliknya. Eka tetap ‘pede’, aktif di mana pun dan berbaur dengan siapa pun. Keterlibatannya membuat Eka menimba sangat banyak pengalaman, baik nasional maupun internasional, baik dalam institusi keagamaan, terutama dalam gerakan oikumenis melalui DGI (kini: PGI), dalam institusi antar agama dan dalam berbagai institusi – institusi sekuler. Beragam pengalaman itulah yang menginsiprasinya untuk menyodorkan gagasan demi transformasi sosial-politik bagi masyarakat, bangsa dan negaranya.

Dalam rangka menjawab pergumulan bangsa yang hidup dalam ketegangan antara kesatuan/persatuan dan kemajemukan, Eka harus menghadapi 3 hambatan sekaligus. Ketiga hambatan itu adalah hambatan etnik, di mana Eka bagian dari etnik Tionghoa yang sering dimarjinalkan secara sosial-politik. Kedua adalah hambatan agama di mana relasi antar agama pada masanya masih belum sedekat sekarang. Dan ketiga adalah hambatan teologi di mana gereja-gereja masih mewarisi teologi jaman Belanda. Teologi ini mengidap superiority complex dan cenderung melihat dunia secara dualistik dan polaristik: Terang vs Gelap; Anak Tuhan vs Anak Setan. Ketiga hambatan ini merenggangkan kohesi sosial dan berpotensi menghasilkan disintegritas sosial.

Menghadapi situasi seperti itu, gereja cenderung bersikap introvert dan mengisolasi diri. Bagi Eka sikap ini sangat tidak Kristiani. Oleh karena itu, Eka mendorong gereja-gereja untuk  keluar dari kecenderungan isolasi diri. Gereja pun terpanggil untuk bergumul dengan realitas sosial-politik. Sikap Eka jelas soal itu. Dalam tulisannya dalam rangka memperingati 65 tahun Prof. Dr. J.E. Sahetapy, Eka menegaskan bahwa pelayanan dan kesaksian gereja adalah tentang Yesus Kristus. Gereja tidak melayani yang lain, kecuali melayani Kristus. Gereja tidak bersaksi tentang yang lain kecuali bersaksi tentang Kristus. Terbatas hanya tentang itu! Tetapi, Eka melanjutkan, justru karena itulah pelayanan dan kesaksian gereja menjadi tidak terbatas. Ya, seperti kekuasaan dan kasih Kristus yang tidak terbatas dan tidak mengenal tapal batas. Artinya, tidak ada satu manusia pun dan tidak ada satu wilayah kehidupan pun yang luput dari tugas pelayanan dan kesaksian gereja. Dan itu berarti kehidupan sosial-politik pun tidak boleh lepas dari pelayanan dan kesaksian gereja.

Pesan Eka di atas masih sangat relevan dengan situasi kita sekarang. Tanpa pelibatan di dalam konteks sosial-politik bangsa, gereja akan menjadi garam yang tawar. Meski demikian, pelibatan diri gereja adalah untuk melayani, bukan untuk mencari kekuasaan atau untuk mendominasi. Gereja ada untuk menjadi berkat bagi semua.  Dalam konteks inilah kita harus keluar dari tembok gereja kita dan membangun kerjasama dengan siapa pun.

10 Nov. 2021

Pecah Kopi

Author