Ketika Yesus ditanya mengenai hukum terpenting di dalam Hukum Taurat, ada dua poin penting yang disampaikan oleh Yesus. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22: 37-39).

Kasih secara vertikal dan horizontal bukanlah kasih yang berat sebelah. Setidaknya itulah spirit yang terpancar ketika kita memaknai salib Kristus. Yesus sendiri mengajarkan bahwa mengasihi Tuhan Allah itu hukumnya juga sama dengan mengasihi sesama manusia, layaknya mengasihi diri sendiri.  Mengasihi secara berimbang juga membawa kita pada kesadaran untuk melakukan tanggung jawab dalam kehidupan ini secara seimbang.

Di dalam Konven Pendeta dan Calon Pendeta GKI Sinode Wilayah Jawa Barat pada Senin, 20 Desember 2021, pukul 10.00 WIB, melalui zoom meeting, dipimpin oleh Pdt. Suhud Setyo Wardono dan Pnt. Benny Murijanto (selaku Register Konsultan Pajak). Dengan mengusung tema yang mengandung sebuah pertanyaan “Pajak: Pilihan atau Kewajiban?” Di dalam konven itupun, ada banyak interaksi antara pertanyaan, penjelasan, prinsip, bahkan sampai pada hal-hal teknis. Beberapa pertanyaan yang muncul, antara lain perihal NPWP bersama dan pemotongan pajak oleh gereja yang diajukan oleh peserta. Begitu juga diberikan panduan umum tanpa mengesampingkan keputusan lokal (Majelis Jemaat) dalam hal teknis.

Pada prinsipnya, sesuai dengan apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 22:21 “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Tanggung jawab kepada Allah tidak menjadi pertentangan dengan tanggung jawab kepada Kaisar. Dengan kata lain, Allah tidak meniadakan tanggung jawab kita di dunia. Begitupun sebaliknya, tanggung jawab di dunia tidak meniadakan tanggung jawab kita akan karunia yang Allah berikan.

Dengan kriteria minimum gaji yang diperoleh Rp 4.500.000,00 (empat juta lima ratus ribu rupiah), dan aset yang dimiliki (rumah, kendaraan, tanah, dan lain-lain), maka seseorang dapat digolongkan sebagai subjek pajak. Meskipun secara sederhana ketika kita melihat ketentuan seseorang dianggap sebagai subjek pajak adalah ketika seseorang bertempat tinggal atau berada di Indonesia. Dengan kata lain, sebagai Warga Negara Indonesia, maka kita didefinisikan sebagai Subjek Pajak ketika kita memenuhi kriteria tersebut.

Anugerah yang Allah nyatakan melalui gaji dan aset yang dimiliki, menjadikan kita juga selayaknya memiliki kesadaran untuk memberikan apa yang wajib kita berikan kepada negara. Tidak luput apapun profesinya, baik itu dokter, wirausaha, pekerja kantoran, tentara, termasuk pendeta sekalipun, ketika menjadi seseorang yang berpenghasilan cukup dan memiliki aset, maka kita perlu memiliki kesadaran untuk membayar pajak, menjadi bagian dari Warga Negara Indonesia yang berkontribusi untuk program-program pemerintah.

Maka, lakukanlah peran serta kita bagi pernyataan Kerajaan Allah di dunia. Spiritualitas yang terus ditumbuhkan melalui iman dan pengharapan pada Allah. Tetapi juga diimbangi dengan perbuatan nyata menjalankan tanggung jawab dan peran serta di dunia. Berbuat baik, penuh kasih, termasuk membayar pajak dan menjadi Warga Negara Indonesia yang peduli.