Natal selalu dikaitkan dengan hadirnya perdamaian. Indah banget toh! Gara-gara itulah Natal melahirkan paradoks. Di sini paradoksnya. Saat Natal ini “kita semua justru sedang berada dalam kebingungan,” kata Martin Luther King Jr. Kita bingung karena janji Natal adalah perdamaian, tetapi hati kita sedang resah. Celakanya lagi, situasi di luar kita pun kacau balau. Klop! Kita dihantui ketakutan oleh pandemi Covid-19 dan berbagai multi krisis lainnya. Kita cemas oleh fundamentalis-radikalis agama, kemiskinan dan krisis ekonomi, krisis politik, dan bahkan krisis ekologi yang semakin parah. Ke mana pun kita menoleh, semuanya serba masalah. Tidak ada yang menyenangkan. Bila kita terjebak dalam fenomena ini, maka dipastikan Natal akan menjadi hambar. Tanpa makna!

Saya ingin mengingatkan, paradoks di atas jangan sampai menjebak kita pada pesimisme. Natal jangan dianggap hanya menawarkan utopianisme, berisi janji kosong tentang perdamaian. Sebaliknya, Natal justru mengingatkan kita tentang satu aspek penting. Kita bisa memberi kontribusi bagi Natal yang penuh damai dengan cara membangun keadilan dan perdamaian bagi semua orang, dan bagi alam raya ini. Natal harus mengingatkan kita untuk tetap menyalakan lilin pengharapan sambil membangun berbagai kebaikan bagi siapa pun dan bagi dunia yang rapuh ini. Bila hal-hal yang baik itu tidak kita lakukan, maka kita akan menghancurkan kemanusiaan kita sendiri dan kemanusiaan sesama kita.

Mari kita renungkan sedikit tentang makna peristiwa Natal. Dalam Natal, Allah datang ke dunia. Menariknya, Allah tidak datang dalam rupa seorang Rambo atau Spiderman yang gagah perkasa. Paradoksnya, Allah justru datang dalam diri seorang bayi yang lemah lembut. Mari kita pahami maknanya. Pertama, kedatangan Allah dalam Yesus Kristus ke tengah umat manusia memberikan makna penting. Allah hadir bagi semua orang. Oleh karena itu wawasan berpikir dan berkarya kita seharusnya sudah melampaui batas-batas primordial kesukuan dan keagamaan. Kita harus sadar pada realitas bahwa sesungguhnya kita makhluk yang interconnected. Kita saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Kita semua adalah bagian dari tubuh yang satu. Sakitnya yang satu akan memenderitakan yang lainnya. Bahagianya yang lain membahagiakan kita juga.

Kedua, Allah hadir dalam diri seorang bayi yang lembut dan memberi kebahagiaan. Dalam peristiwa ini tersirat pesan cinta dan pengharapan. Pengharapan ini membuat kita tetap menikmati kedamaian dalam situasi apapun. Pengharapan ini juga memberi pesan lain yang menarik. Apa itu? Sudah saatnya berbagai persoalan dan tantangan diselesaikan bukan lagi dengan cara kekerasan atau dengan cara mengekploitasi sesama. Bukan juga dengan paksaan atau dengan kekuatan senjata. Pendekatan itu hanya menciptakan ketakutan dan kepanikan. Sebaliknya, persoalan serumit apapun harus bisa diselesaikan dengan cara yang lembut, cerdas dan manusiawi. Kita butuh dialog yang menghadirkan perdamaian, persaudaraan, dan cinta. Penyelesaian persoalan melalui cara kekerasan dan konflik adalah cara kuno yang biadab. Manusia modern adalah makhluk beradab yang tahu bahwa sesama manusia harus dihormati hak dan martabatnya.

Natal adalah pengharapan bahwa persoalan dan tantangan jangan lantas menjebak kita pada kebingungan dan ketakutan. Allah hadir di dalam kelembutan-Nya. Kehadiran Allah itu adalah pengharapan yang mendorong kita untuk lebih berkarya bagi sesama dan dunia. Kita perlu bersinergi untuk membangun bangsa dan dunia yang adil dan damai bagi semua.

-Selamat Natal-

 

Author