Jika biasanya peringatan ulang tahun diwarnai dengan kemeriahan dan acara-acara spesial, tidak demikian halnya yang terjadi dalam kurun waktu dua tahun belakangan, ketika Corona Virus Disease (COVID-19) menyerang.

Begitu pula dengan peringatan satu tahun RS UKRIDA. Tidak ada acara khusus yang disertai pemotongan tumpeng ataupun kue ulang tahun, melainkan webinar yang digelar dengan tema “Healing Pasca COVID-19” dengan pembicara dr. Bhanu BMedSc, Sp.PD, FINASIM, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana (FKIK UKRIDA), serta Pendeta Imanuel Kristo dari GKI Gunung Sahari, yang juga melayani sebagai Ketua Komisi Kependetaan GKI Sinode Wilayah Jawa Barat.

Acara yang digelar secara virtual pada hari Minggu, 12 Desember 2021, pukul 10.00 WIB tersebut diawali dengan sambutan dari Direktur PT Upadana Krista Dipta Arjasa Suharjanto Nicolaus. Ada satu hal menarik yang ia sampaikan saat itu, bahwa pandemi COVID-19 yang terjadi telah menjadi kendala bagi RS UKRIDA dalam upaya mendapatkan izin operasional. Namun, di saat yang sama juga menjadi pendorong dan penyemangat untuk RS UKRIDA supaya bisa segera beroperasi.

“Dengan segala upaya, dan setelah diadakan pertemuan dengan PT Pertamina Bina Medika  (PBM) dalam rangka kerja sama, serta didorong oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, RS UKRIDA pun berhasil mendapatkan izin operasionalnya. Selanjutnya, RS UKRIDA bahkan ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan bagi pasien COVID-19,” jelasnya.

Peran baru yang diemban tersebut membawa RS UKRIDA ke tahap yang lebih tinggi, dengan tantangan yang lebih kompleks. Direktur RS UKRIDA dr. Eka Widrian Suradji, PhD, menyatakan bahwa ada masa di mana situasi menjadi sangat sulit sehingga memunculkan pertanyaan, apakah RS UKRIDA harus ditutup terlebih dahulu, sebagai langkah pembenahan secara internal.

“Di titik-titik tertentu kami sangat tertatih-tatih, oksigen nyaris habis dan obat-obatan pun terbatas, meski kami masih bisa melayani. Diskusinya juga panjang waktu itu, banyak masukan dan kekhawatiran, apakah perlu tutup dulu supaya kami bisa memperbaiki masalah di dalam. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap memberikan pelayanan, karena RS UKRIDA punya misi tersendiri, punya nilai tersendiri, di mana kami harus bisa melayani sebanyak-banyaknya, semampu-mampunya, hingga batas maksimal kami. Ternyata Tuhan terus memberi kami kekuatan, sehingga kami bisa melaluinya dengan baik. Harapan kami bahwa layanan yang sudah diberikan kepada seluruh pasien dan keluarga bisa diterima dengan baik, walau tidak sempurna,” ujarnya.

Memang tidak mudah, banyak suka maupun duka yang harus dihadapi ketika rumah sakit yang baru diresmikan ini, dipacu dengan cepat untuk siap melayani pasien yang terus berdatangan dan memerlukan perawatan. Bersyukur bahwa RS UKRIDA masih mendapatkan dukungan moral dan doa, bahkan apresiasi dari berbagai pihak, seperti yang disampaikan Pak Nic, sapaan akrab Suharjanto Nicolaus, berikut ini:

“Saya bangga dengan dokter, perawat, semua staf di RS UKRIDA yang telah bekerja keras. Banyak apresiasi yang kami dapatkan dan disampaikan dari mulut ke mulut. Kami berharap, cita-cita untuk menjadikan RS UKRIDA sebagai rumah sakit yang bisa melayani pasien BPJS Kesehatan bisa segera terwujud. Juga, semoga semua tenaga kesehatan di RS UKRIDA bisa memberikan pelayanan sesuai dengan motto Healing with Care, Caring with Heart,” ujarnya mengakhiri sambutan.

Hal ini sejalan dengan pesan Pendeta Imanuel Kristo melalui khotbahnya pagi itu, bahwa kehadiran RS UKRIDA adalah bentuk kehadiran gereja dalam situasi konkret. Melalui pelayanan RS UKRIDA, kasih Tuhan dinyatakan.

“Tuhan selalu terbuka untuk menyatakan kasih-Nya kepada siapa pun, biarlah itu juga menjadi komitmen kita untuk terus menghadirkan diri kita, menghadirkan kesembuhan, menghadirkan pemulihan dengan cinta dan kesungguhan,” ucapnya.

Lanjutnya lagi, pandemi yang masih terjadi saat ini menyadarkan betapa kita tidak pantas untuk mengagungkan diri, walau dianugerahi kemampuan, “Satu tahun RS UKRIDA hadir di tengah-tengah negeri ini, betapa pun banyak yang sudah dicapai, marilah kita tetap menjadi pribadi yang rendah hati karena keagungan hanya bagi Dia, sumber segala berkat.”