Seharusnya baptisan itu memupuk solidaritas, bukan perpecahan; tapi pada kenyataannya, baptisan justru lebih banyak menimbulkan polemik dan bahkan perpecahan gereja. Gereja pecah gara-gara beda pendapat soal cara atau metode baptisan. Ada yang bilang baptisan harus diselam; orang yang dibaptis harus ditenggelamkan seluruh tubuhnya. Yang tidak setuju, menyatakan hal yang berbeda. Bagi kelompok ini, saat baptisan terjadi yang penting adanya unsur air sebagai simbol pembersihan. Jadi, dipercik pun tidak soal. Metode selam atau percik menjadi polemik. Panas pula! Gereja pun terbelah. Masing-masing pihak mencari ayat suci untuk justifikasi posisinya. Kalau hanya itu sih tidak soal. Yang parah adalah ketika masing-masing kubu mulai menuding kubu lainnya sebagai sesat dan murtad.

Ada juga kasus lain, di mana baptisan justru menjadi sumber pertikaian dan konflik. Kasus baptisan anak, misalnya. Martin Luther pernah menyatakan bahwa anak-anak harus menerima baptisan, sementara kaum Anabaptis tidak setuju. Mereka menolak tegas ajaran Martin Luther. Bagi mereka, anak-anak tidak perlu dibaptis karena baptisan membutuhkan pengakuan percaya dari yang dibaptis. Padahal anak-anak belum bisa mengaku percaya. Jadi, bagi kaum Anabaptis, anak-anak diserahkan saja. Baptisan hanya berlaku bagi orang dewasa karena orang dewasa sudah mampu menyatakan iman dan keyakinannya. Penolakan kaum Anabaptis membangkitkan kemarahan Luther. Anabaptis dianggap sesat. Kemudian, Luther, yang dekat dengan kekuasaan politik, menggunakan ‘pengaruhnya’ untuk memaksa pemerintah mengejar dan mempersekusi kaum Anabaptis.

Baptisan bisa menjadi sumber bencana kemanusiaan bila dipahami secara salah. Misalnya ketika baptisan dianggap sebagai tanda ‘pemisahan’ umat Kristen dari umat non-Kristen. Interpretasi seperti  inilah yang memunculkan teologi yang polaristik dan dualistik. Umat ‘yang sudah dibaptis’ menganggap dirinya sebagai umat Allah; sedangkan umat yang belum dibaptis atau tidak mau dibaptis dituding sebagai pengikut iblis. Yang dibaptis merasa diri anak terang, sementara yang belum atau tidak mau dibaptis dituding sebagai anak setan. Secara personal, baptisan memicu rasa ‘pongah’ spiritual. Dalam Alkitab, kepongahan spiritual muncul dalam diri kaum Farisi. Secara sosial, baptisan menimbulkan konflik dan perpecahan dalam masyarakat.

Menjadi pertanyaan, mengapa ritual keagamaan yang suci seperti baptisan justru menjadi sumber konflik dan perpecahan? Jawabnya adalah; kesalahan bukan terletak pada baptisannya, tetapi pada manusia berdosa yang memperjuangkan egoisme dan kepongahannya. Lalu bagaimana kita memaknai baptisan? Sesungguhnya baptisan itu harus dimaknai sebagai solidaritas Yesus Kristus kepada umat manusia dan dunia. Baptisan pada jaman Yohanes adalah tanda pertobatan. Yesus tidak membutuhkannya. Tetapi, Yesus bersedia dibaptis. Inilah bukti kerendahan hati dan solidaritasNya dengan manusia yang berdosa.

Melalui baptisanNya, Allah dalam Yesus menyatakan ‘YA’ kepada manusia sebelum manusia mengatakan “YA” kepada Allah. Ini adalah anugerah! Dalam anugerah Allah terdapat solidaritasNya; anugerah adalah ketika Allah menerima dan mengasihi semua orang tanpa syarat. Dalam anugerah Allah ini tidak ada ‘double predestination’, keyakinan bahwa ada yang ditentukan untuk diterima dan diselamatkan, dan ada yang ditentukan untuk ditolak. Menyatakan bahwa Allah adalah sumber anugerah berarti percaya bahwa semua orang diterima dan dikasihiNya, semua orang adalah obyek cinta kasih Allah. “Allah tidak membedakan orang,” kata Petrus.

Kalau begitu, orang bertanya, apa makna baptisan yang kita terima? Baptisan yang kita terima jangan pernah dianggap sebagai ‘tiket’ keselamatan. Seolah Allah seperti penjaga bioskop yang memisahkan antara yang punya tiket dengan yang tidak memiliki tiket. Bila baptisan dianggap ‘tiket’, maka ada milyaran orang yang tidak tahu tentang ‘tiket’, akan mati sia-sia. Dan ini berarti Allah tidak adil, Allah tanpa anugerah! Jadi, memandang baptisan seperti ‘tiket’ bertentangan dengan  ajaran tentang anugerah, yaitu bahwa Allah menerima dan mengasihi siapa pun tanpa syarat. Oleh karena itu, baptisan harus dipahami secara berbeda. Orang yang dibaptis adalah orang yang mampu melihat dan memahami bahwa anugerah Allah itu melewati batas-batas ‘imajiner’ apa pun. Orang yang dibaptis adalah mereka yang gembira saat melihat anugerah Allah mengalir bebas ke mana pun dan kepada siapa pun. Orang yang dibaptis tidak akan bersikap seperti si anak sulung yang marah besar serta iri hati ketika Sang Bapa menerima dan mengasihi anak yang tidak pantas untuk dikasihi. Baptisan adalah anugerah bagi kita untuk memahami Allah yang memiliki  kebesaran cinta yang tanpa batas. Bila dipahami seperti ini, baptisan tidak akan lagi menjadi sumber konflik dan perpecahan; sebaliknya, baptisan menjadi inspirasi yang membangun solidaritas cinta kita kepada sesama, apa pun etnik, gereja dan agamanya.

Author