Sebagian besar dari kita sudah tahu tentang  sirkuit Mandalika yang dibangun oleh pemerintahan presiden Jokowi. Salah satu event internasional yang akan menggunakan sirkuit Mandalika adalah balapan sepeda motor yang sangat dikenal dengan Motor GP. Balapan ini sangat populer jutaan orang menyaksikan baik dengan cara melihat langsung, TV atau media yang lain. Menurut referensi untuk bisa menjadi tuan rumah balapan motor GP 2022,  Indonesia membayar 143 Milyar rupiah sebagai komitmen fee. Mungkin kita melihat angka yang cukup fantastis namun banyak orang mengatakan layak karena event besar ini bisa membuka mata banyak orang  sehingga menjadi cara mempromosikan pariwisata di Mandalika dan Indonesia pada umumnya. Pada cerita yang mirip namun berbeda Pemerintah Propinsi DKI Jakarta juga merencanakan untuk menjadi tuan rumah balapan mobil listrik yang lebih dikenal dengan balapan Formula E. Sekalipun balapan ini belum sepopuler Motor GP atau balapan Formula-1, namun sempat tersiar bahwa komitmen fee awal untuk  Formula E sebesar 560 Milyar. Kita bisa melihat dan membandingkan angka 143 milyar dengan 560 milyar untuk dua event yang mirip namun tidak sama.

Ketika membahas program dan anggaran maka angka rupiah itu bisa menjadi sangat relatif.  Gereja dengan penerimaan persembahan 10 Juta atau 10 Milyar  setahun sama-sama tetap bisa beribadah. Apakah kehidupan pelayanan gereja dengan penerimaan yang lebih besar otomatis pelayanannya lebih baik? Belum tentu juga. Fakta yang sering terjadi  sebesar apapun angka penerimaan persembahan  gereja seringkali selalu merasa kurang untuk membiayai program pelayanannya.

Sesungguhnya kita layak bersyukur dengan keberadaan organisasi gereja kita. Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, gereja (khususnya berbicara GKI) memiliki sistem dan struktur yang tertata sangat rapi. Lebih dari itu gereja juga memiliki penerimaan keuangan melalui persembahan gereja yang kemudian dipakai untuk mendukung dan menjalankan berbagai pelayanan gereja. Semua yang terstruktur rapi itu  kemudian menjadi berantakan ketika pandemi melanda dunia yang juga sangat berdampak bagi kegiatan dan pelayanan gereja. Banyak kegiatan  gereja tidak bisa dilakukan, jemaat belum bisa hadir di gereja, penerimaan persembahan menurun namun pada saat yang sama banyak sekali program pelayanan tidak bisa dilakukan.

Banyak orang mengeluh soal pandemi. Tidak sedikit jemaat yang juga berharap bisa kembali ke gereja.  Banyak jemaat yang berharap gereja bisa kembali normal. Ada hal yang sangat penting sebelum pandemi terlewati dan kegiatan gereja bisa kembali berjalan normal. Apakah yang dapat kita refleksikan dan evaluasi kembali  berkaitan dengan  kegiatan gereja dan program-program pelayanan gereja? Sudahkah program-program pelayanan gereja yang selama ini kita susun  telah mewakili dan mendukung pekerjaan pelayanan bagi Tuhan? Ataukah gereja lebih banyak terjebak dengan kegiatan rutin sehingga program pelayanan kadang justru menjadi beban bagi gereja?

Program Pelayanan seperti roda-roda bagi sebuah kendaraan. Setiap mobil dirancang dengan roda yang sesuai dengan bobot kendaraan dan kemampuan mesinnya. Sebuah mobil yang kecil jika dipasang roda-roda yang besar tentu akan menjadi masalah, demikian juga mobil yang besar  jika diganti dengan roda-roda yang kecil menjadi sangat rentan mengalami kecelakaan. Roda yang sesuai akan membawa kendaraan berjalan dengan nyaman dan aman sehingga bisa sampai ke tujuan.  Program-program yang sesuai akan membawa gereja mengerjakan Misi Tuhan dengan berhasil.

Memasuki tahun anggaran 2022 – 2023, melalui tulisan ini ada baiknya jika setiap gereja kembali melihat dengan jeli dan kritis program-program pelayanan yang disusunnya. Beberapa aspek berikut layak untuk  menjadi pertimbangan:

aBerani membuat prioritas

Seperti disampaikan di awal seberapa pun penerimaan persembahan yang diterima, Gereja hampir selalu merasa kurang. Mengapa bisa demikian?  Karena seiring dengan pertambahan jemaat ketika persembahan juga naik, maka seringkali semakin semangat membuat program pelayanan. Kalau ditanya semua akan menjawab bahwa program itu penting. Namun sadarkah bahwa uang yang digunakan untuk program yang kita susun adalah bukan uang kita?  Bukan juga uang jemaat atau uang gereja. Uang itu adalah Uang milik Tuhan yang dipersembahkan jemaat dan didoakan setiap saat untuk Tuhan. Jika kita sungguh-sungguh menghayati bahwa uang itu milik Tuhan maka mestinya setiap pelayan gereja punya beban dan tanggung jawab untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk dan atas nama program pelayanan Gereja.

Banyak orang berpikir bahwa semakin banyak program maka gereja semakin baik. Anggapan ini salah kaprah. Yang terjadi semakin banyak program maka semakin lelah orang sibuk mengurus program atas nama pelayanan. Dan jika ini terjadi sering kali orang menjadi lupa bagian yang essensi dari pelayanan gereja. Oleh karena itu Gereja harus berani membuat prioritas dan fokus pada sedikit program yang benar-benar efektif, sehingga para pelayan gereja juga bisa menikmati menjadi para pelayan dan bertumbuh dalam iman.

 

b. Sudah efektifkah program yang kita sudah pilih dan jalankan?

Beberapa program gereja yang paling banyak menyedot keuangan gereja selain JKH dan gaji untuk para pendeta dan karyawan antara lain: konsumsi, retreat (dan acara sejenisnya), dan pelayanan diakonia karitatif. Untuk JKH dan gaji mungkin tidak bisa diutak-utik. Namun cobalah menghitung berapa banyak anggaran yang dikeluarkan gereja untuk konsumsi atau makan. Kita mungkin tidak terkejut bahwa ternyata angkanya sangat besar. Demikian juga retreat dan kegiatan sejenisnya. Banyak orang suka retreat dan mengambil anggaran yang sangat besar, tapi benarkah kegiatan itu mengubah para pesertanya? Jangan sampai orang semangat mengikuti retreat padahal sebenarnya maunya refreshing. Jangan sampai juga pulang dari retreat semua evaluasi bagus tapi ternyata peserta tidak mengalami perubahan   sikap dan perilaku. Hal lain adalah pelayanan diakonia. Gereja memang harus menolong jemaat yang mengalami kesulitan, namun tidak jarang gereja membuat jemaat menjadi ketergantungan. Ini yang tidak boleh terjadi sehingga gereja harus berani mendidik untuk kebaikan jemaat dan gerejanya.

 

c. Berpikir besar dengan program jangka pendek dan jangka panjang?

Ada ungkapan bahwa gereja yang baik adalah jika tidak memiliki banyak saldo yang tersimpan di rekeningnya. Istilah ini untuk mengatakan bahwa gereja jangan menumpuk uang namun harus meneruskan uang milik Tuhan bagi pelayanan. Ungkapan ini sangat baik namun  pada sisi yang lain kadang mendorong orang untuk sebanyak mungkin membuat dan menjalankan program. Mestinya gereja juga harus berani berpikir besar bukan hanya program pelayanan jangka pendek namun juga pelayanan jangka panjang.  Ada sebuah gereja yang menggalang dana beasiswa. Dana yang terkumpul cukup besar sehingga  pelayanan beasiswa tidak lagi tergantung pada penerimaan gereja. Bahkan dana itu kemudian juga berhasil mendukung pendirian sekolah yang berafilisasi dengan gereja karena memang ada kebutuhannya. Ini sesuatu yang sangat baik, di mana sebuah program pelayanan bisa berkembang tanpa harus bergantung lagi pada penerimaan persembahan gereja. Program jangka panjang mestinya juga dipikirkan oleh klasis dan sinode misalnya dalam strategi pendirian dan pengembangan gedung gereja di tempat yang baru.

 

d. Otokritik terhadap istilah Copy dan Paste

Kita sudah sering mendengar istilah ini. Dan biasanya kita sangat skeptis,  namun tetap melakukannya. Mestinya kita tidak boleh alergi dengan istilah ini dalam konteks positif. Maksudnya pada saat  membuat program pelayanan yang baru kita harus selalu merujuk dari program pelayanan yang lama. Bukan sekedar mengulanginya namun mengevaluasi dan sungguh-sungguh belajar darinya supaya setiap kali menyusun program, kita tidak selalu memulai dari nol, namun selalu belajar dari sebelumnya. Tidak ada produk yang benar-benar baru yang tidak belajar dari produk sebelumnya. Demikian tidak ada program yang benar-benar baru dan baik jika mengabaikan program yang  sudah dikerjakan sebelumnya.

Pada akhirnya kita harus diingatkan bahwa program pelayanan gereja   tidak boleh menggantikan pelayanan kita secara pribadi maupun bersama kepada Tuhan. Di atas semuanya setiap pelayan harus terus memproses diri dan belajar rendah hati untuk terus bergantung kepada Tuhan. Para pemimpin dan pelayan gereja yang rendah hati dan memiliki spiritualitas yang baik yang akan berjuang dan menjaga gereja melaksanakan tugas dan menjalankan semua program pelayanannya.

Tuhan Yesus kiranya terus menolong perjalanan gereja kita hari ini dan seterusnya. Amin.

 

Author