Kunjungan ke Pondok Pesantren pada Camp Kepemimpinan Inklusif 2019.

 

Mengecap 18 hari setelah perayaan Tahun Baru, suasana tahun 2022 terasa lebih optimis dari tahun-tahun sebelumnya. Biarpun penutupan 2021 sempat dibayangi duka Semeru dan banjir Kalimantan, pembukaan 2022 memberikan secercah optimisme dari penurunan angka kasus COVID-19 dan pemulihan kondisi perekonomian.

Namun, secercah optimisme ini tentu perlu diimbangi dengan mawas diri agar kita tidak dikaburkan akan persoalan genting di depan mata kita. Salah satu dari persoalan ini ialah aksi intoleransi.

Aksi intoleransi terus-menerus tereskalasi di seluruh dunia, di antaranya: meninggalnya George Floyd (Mei 2020) yang diasosiasikan dengan isu rasisme di AS, serangan oleh kelompok ekstremis Hindu Mahashaba ke umat Islam dan Kristen di India, persekusi yang dilakukan oleh kelompok junta (militer Myanmar) ke Rohingya, pemaksaan siswi non-muslim untuk mengenakan hijab saat bersekolah di Padang dan masih banyak kasus lainnya.

Melihat situasi ini, pencanangan tahun 2022 menjadi “Tahun Toleransi” oleh pemerintah melalui Kementerian Agama menjadi momen penting untuk melawan tren negatif intoleransi yang ada. Kampanye toleransi antar kelompok masyarakat baik secara suku, etnis, agama, maupun bentuk keberagaman lainnya, sudah sepatutnya menjadi prioritas di negara yang majemuk ini.

Ironisnya, kampanye toleransi sampai pada saat ini nampaknya belum mengimbangi banyaknya berita intoleran yang beredar di masyarakat. Berdasarkan hasil pencarian di Google pada saat artikel ini ditulis, total situs yang menyinggung kata “toleransi” hanya sebanyak 14 juta dan kata “toleran” hanya berjumlah 8 juta. Jumlah ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kata “intoleran” yang jumlahnya sebanyak 224 juta (sekitar 10 kali lipat dari total kata “toleransi” dan toleran” sekaligus)!

Perlu disadari bahwa pekerjaan rumah masih banyak. Kemajuan teknologi yang telah menghubungkan dunia dengan beragam sumber informasi ternyata belum mampu melebarkan ruang toleransi pada mereka yang dianggap berbeda. Algoritma yang ada pada umumnya hanya menawarkan informasi dengan topik yang homogen yang sudah sering diakses oleh penggunanya. Alhasil, pengguna menjadi terpapar oleh keseragaman informasi dan referensi yang akhirnya membawa seseorang semakin larut dalam intoleransi, bahkan sampai ke polarisasi ideologi. Ini adalah suatu paradoks yang ironis.

Namun, tidaklah bijak jika kemajuan teknologi ini dipersalahkan sepenuhnya. Teknologi hanyalah sarana yang bisa merusak atau membuat subur suatu peradaban, tergantung pada kebijaksanaan siapa yang memanfaatkannya. Jika seseorang atau sekelompok orang benar memanfaatkannya, maka beria-rialah kota (lih. Ams. 10:11).

Maka, ada beberapa hal yang bisa pembaca latih dan praktikkan dalam rangka memperbesar ruang toleransi dalam hidup bermasyarakat, yaitu:

  1. Perkaya Diri dengan Konten dan Referensi yang Beragam.
    Memang sudah naturnya manusia mencari apa yang disenanginya, termasuk dalam hal mengkonsumsi konten-konten di media sosial. Setidaknya…., dengan menyediakan ruang bagi konten-konten yang kurang disukai di level 10-20% dari total konten yang dicerna, maka potensi seseorang untuk menjadi fanatik akan menurun. Angka ini mungkin belum teruji secara ilmiah, tetapi pesannya adalah jangan biarkan informasi homogen menguasai 100% dari total waktu “berlayar” (screen time) kita.
  1. Mintalah Umpan Balik (Feedback) dari Orang-Orang Bijak
    Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat (lih. Ams. 10:17). Berada di tengah komunitas orang-orang bijak dapat menolong kita untuk tetap mawas diri. Mintalah umpan balik dari mereka yang bijak, yang jujur dan objektif, sehingga dapat menjadi alarm jika kita mulai bergerak ke arah intoleransi.
  1. Lakukan Refleksi Diri secara Periodik
    Pengecekan diri yang konstruktif dan rutin, baik untuk kesehatan spiritual dan mental kita. Salah satu momen refleksi diri yang baik adalah di dalam waktu pribadi dengan Tuhan. Membuka diri pada ajaran dan teguran Firman Tuhan, merenungkannya siang dan malam, dan melakukannya, akan membawa kita ke dalam kesadaran akan keterbatasan kita dan kebesaran Tuhan (lih. Mzm.1). Kesaradan ini tentu dapat menjaga kita untuk tetap bertoleransi terhadap perbedaan dan keterbatasan sesama kita.
  1. Sebarkan dan Viralkan Konten-Konten yang Mempromosikan Toleransi
    Buat dan promosikan konten-konten toleransi di media sosial kita. Mari perbanyak lalu lintas konten-konten toleransi di jaringan media sosial kita dan hentikan penyebaran konten-konten intoleransi yang kita terima.
  1. Memperbanyak dan Mengaktifkan Ruang-Ruang Perjumpaan
    Berinteraksi langsung dengan yang berbeda sangatlah penting untuk mematahkan stigma yang ada terhadap kelompok tertentu. Mengaktifkan diri dalam komunitas yang memiliki beragam anggota secara etnis, agama, dan golongan, atau perbedaan lainnya, juga dapat menjadi wadah pendewasaan bagi kita untuk bersosialisasi dalam kemajemukan.

Berbicara tentang komunitas, GKI SW Jawa Barat telah menginisiasi pergerakan yang didasari pada semangat inklusivitas dan toleransi melalui pembentukan Gerakan Kebangsaan Indonesia pada bulan Juni 2017. Gerakan Kebangsaan Indonesia pada pelaksanaannya distrukturisasikan juga di dalam Kelompok Kerja (Pokja) GKI di tingkat Klasis dan saat ini saya pun turut terlibat sebagai bendahara di Pokja Kebangsaan Klasis Jakarta Selatan sejak tahun 2021.

Setiap tahunnya, pengurus Pokja menjalankan program-program yang mempromosikan keterbukaan dan toleransi terhadap mereka yang dianggap berbeda serta agenda-agenda kebangsaan lainnya, antara lain Camp Kepemimpinan Inklusif tahunan, Gerakan Ayo Nyoblos, untuk mempersiapkan Pemilu Presiden 2019 yang aman dan rasional, dan juga seri-seri pembinaan melalui webinar dan workshop oleh praktisi hingga tokoh Nasional terkait isu Kebangsaan. Gerakan ini masih dan akan terus belajar, serta berkembang dalam rangka membekali orang-orang Kristen yang otentik dan asyik untuk berkolaborasi dengan mereka yang dianggap berbeda dan menciptakan ruang-ruang perjumpaan yang esensial bagi perdamaian dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selamat memasuki tahun baru 2022, selamat menjalankan Tahun Toleransi dengan didasari oleh kasih Kristus. Mari, buang stigma pada individu atau kelompok tertentu dan perluas toleransi dalam keindahan keberagaman manusia Indonesia. Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa membimbing dan memberkati kita semua. Amin.

Author