Beberapa tahun belakangan, sebagian umat Kristen merasa kecewa, sebab ketika Natal tiba, muncul larangan bagi umat Muslim untuk mengucapkan selamat Natal kepada mereka; sebagian dari mereka tergoda untuk membalasnya. Pernah ada umat Kristiani yang berkata kepada saya: “Kita tidak usah mengucapkan selamat Idul Fitri; Toh, tetangga atau saudara Muslim pun juga tidak mengucapkan selamat Natal kepada kita”.

Sikap tersebut manusiawi. Maksudnya, ketika seseorang kecewa karena merasa kurang dihargai, maka bisa muncul reaksi balasan serupa. Walau manusiawi, sikap tersebut berbahaya dari sudut pandang kebangsaan. Sikap tersebut semakin menguatkan hasil survey yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam UIN Jakarta (Maret 2021) tentang toleransi mahasiswa.

Menurut survey tersebut, 58,5 persen mahasiswa memiliki pandangan yang cenderung radikal, sedangkan mereka yang memiliki sikap moderat hanya sebesar 20,1 persen. Data mengenai sikap intoleran juga memperlihatkan kecenderungan yang sama, sebanyak 24,89 persen mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama yang rendah, dan sebanyak 5,27 persen lainnya tergolong memiliki sikap toleransi beragama yang sangat rendah. Bila digabungkan, mereka yang intoleran sebanyak 30,16 persen mahasiswa.

Hasil survey tersebut menunjukkan, Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Jika kelompok intelektual banyak yang radikal dan intoleran,  Indonesia sedang dalam bahaya. Sebab mereka adalah kelas menengah yang akan mempengaruhi arah perjalanan bangsa. Reaksi balasan sebagian umat Kristiani yang enggan mengucapkan selamat Idul Fitri ibarat menyiram bensin pada api yang membakar dan menghancurkan keragaman di Indonesia. Jika sikap ini terus berkembang,  sulit berharap Indonesia akan tetap bertahan sebagai sebuah bangsa yang plural dalam hal agama.

 

Dalam konteks seperti itu kita perlu memiliki kompetensi untuk melakukan perbandingan antar agama agar dapat mengembangkan kolaborasi sebagai bagian dari keluarga besar Indonesia. Maka, dalam momentum Idul Fitri ini, sangat baik jika  umat Kristiani mengetahui arti dan maknanya. Tujuannya, agar kita dapat membangun toleransi dan mengembangkan kolaborasi dengan saudara-saudara Muslim.

 

Makna Idul Fitri

Menurut Ammi Nur Baits, ada pemahaman yang salah tentang Idul Fitri di masyarakat Indonesia. Menurutnya, Idul Fitri bukanlah kembali suci. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan lamanya, membaca ayat Qur’an dan sholat secara lebih sungguh selama bulan Ramadhan, umat Islam tidak otomatis suci atau kembali ke fitrahnya sebagai manusia yang bersih atau tidak berdosa (Lih. https://konsultasisyariah.com/19817-istilah-salah-terkait-idul-fitri-bagian-02.html)

 

Menurutnya,  Idul Fitri  berasal dari dua kata; id [arab: عيد] dan al-fitri [arab: الفطر].

Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Dalam Islam, hari raya disebut ‘id karena terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun dengan kegembiraan yang baru. (Lisan Al-Arab, 3/315).

Kata Fitri sendiri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Kata ini tidak sama dengan fitrah yang menunjuk kepada hakekat manusia sebagai mahluk Tuhan atau kondisi awal penciptaan manusia: diciptakan dalam keadaan yang suci, tanpa dosa dan tanpa kesalahan. Disebut Idul Fitri, karena hari raya yang berlangsung setiap tahun  bersamaan dengan kondisi di mana umat Islam tidak lagi berpuasa. Jadi, menurut Nur Baits, tidak tepat mengartikan Idul Fitri sebagai kembalinya manusia pada keadaan yang suci atau sesuai fitrahnya. Kesucian manusia bukan karena amal dan ibadahnya di bulan puasa tetapi karena Tuhan.

Meski demikian, ada interpretasi lain tentang hari raya Idul Fitri. Dari situs NU Online, misalnya, kita menemukan interpretasi Idul Fitri demikian:“…berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alayh). Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah) (dikutip dari https://www.nu.or.id/opini/makna-dan-hikmah-idul-fitri-rYaJS)

Tentu sebagai orang non Muslim, kita tidak berhak menilai mana makna Idul Fitri yang benar, dan mana yang kurang benar. Yang jelas, di antara dua makna yang berbeda di atas, ada kesamaan prinsip. Baik yang mendefinisikan Idul Fitri sebagai hari raya untuk tidak berpuasa lagi, mau pun yang merujuk kepada perayaan kembalinya manusia dalam keadaan suci; sama-sama mendasarkan pemahamannya pada ridho dan iman kepada Tuhan yang mengasihi.

Selain itu, ada juga makna kultural Idul Fitri sebagaimana terkandung dalam kata lebaran. Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber-labur. Lebar artinya seseorang lebar (Jawa: sudah selesai) dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber akan pahala. Labur artinya bersih tanpa dosa (dikutip dari https://www.nu.or.id/opini/makna-dan-hikmah-idul-fitri-rYaJS)

Dari pemahaman kultural akan makna lebaran seperti itu, kita mengerti mengapa umat Islam merayakan Idul Fitri dengan bersilahturahmi ( mengunjungi keluarga atau tetangga), bersuka cita menikmati makanan dan minuman, berbagi rejeki dan saling memaafkan kesalahan diri.

 

Respon Kristiani terhadap Idul Fitri

Kita melihat,  pemaknaan terhadap Idul Fitri tidak tunggal di kalangan umat Islam sendiri. Tetapi ada kesamaan prinsip Islam tentang perlunya ridho Tuhan ketika manusia memohon pengampunan akan dosa-dosa yang dilakukannya. Prinsip ridho Tuhan ini  mirip dengan pemahaman anugerah dalam ajaran Kristiani. Kita meyakini, dosa kita diampuni bukan karena perbuatan baik kita tetapi karena anugerah Allah di dalam Yesus Kristus.

Meski ada kemiripan dengan ajaran anugerah, ada perbedaannya juga. Dalam kekristenan, anugerah itu karena karya penebusan Yesus Kristus sementara di dalam Islam, anugerah itu bisa didapat melalui amal ibadah yang dilakukan seperti berpuasa, berzakat dan melakukan sholat dan perbuatan baik.

Dengan melihat kesejajaran sekaligus perbedaan prinsip iman antara umat Islam dengan kita, apakah kita boleh mengucapkan selamat Idul Fitri kepada saudara Muslim? Makna kontekstual Idul Fitri yaitu lebaran sangat khas Indonesia. Arti lebaran yang seperti itu mendorong umat Islam bersuka cita dan mewujudkan suka cita itu bersama dengan keluarga dan tetangga. Sisi horisontal kultural ini sangat positif untuk memperbaiki relasi sosial yang rusak atau meningkatkan kohesi sosial yang sudah tercipta.

Aspek tersebut rasanya sangat relevan di tengah-tengah kecenderungan intoleransi antar agama yang terjadi sebagaimana tercermin dalam hasil survey yang disebut di bagian awal tulisan ini. Karena Idul Fitri memberi ruang luas untuk bersilaturahmi, saling memaafkan dan meningkatkan persaudaraan, rasanya sangat tepat jika umat Kristen bukan hanya mengucapkan selamat Idul Fitri, tetapi bisa mengunjungi, memberi dan menerima berkat Idul Fitri dalam bentuk makanan dan minuman, sekaligus secara tulus bermaaf-maafan dengan saudara atau tetangganya yang Muslim.

Tindakan saling memaafkan secara tulus akan memulihkan relasi yang rusak, atau menguatkan relasi yang sudah baik. Dari situ akan tumbuh benih kolaborasi dan kesempatan kreatif untuk membangun negeri yang beragam ini. Maka, jika Saudara belum mengucapkan selamat Idul Fitri dan mengunjungi Saudara atau tetangga yang Muslim, saudara bisa melakukannya sekarang.