Yang terutama dari gereja bukanlah institusinya, namun yang terutama dari gereja adalah komunitas atau persekutuan. Akan tetapi saat kita berbicara tentang komunitas, kita diperhadapkan pada paradoks dari komunitas itu sendiri. Komunitas atau persekutuan bisa menjadi komunitas yang tertutup, tetapi bisa juga menjadi komunitas yang terbuka. Nah, tulisan ini akan menjabarkan dua model komunitas, yaitu komunitas terbuka dan komunitas tertutup, dengan segala efek negatifnya. Dari situ kita bisa menilai di mana kira-kira komunitas gereja kita berada.

Komunitas Tertutup

Alkitab mengungkapkan bahwa inisiatif Allah menjalin relasi yang akrab dengan bangsa Israel, membuat bangsa ini terlalu ‘pede’. Relasi ini membuat bangsa Israel memahami diri sebagai Am Yahweh atau umat pilihan Allah. John Cobb dalam Christianity and Empire menuturkan bahwa pengakuan diri Israel sebagai umat pilihan Allah itu terjadi setelah Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, lalu menduduki Kanaan sebagai tanah perjanjian. Allah pun menjadi Allah partikular alias Allah suku. Bangsa Israel pun membangun sikap eksklusif, primordialistik dan triumphalistik. Mereka merasa lebih hebat daripada bangsa-bangsa lain yang mereka tuding sebagai bukan bangsa pilihan Allah. Bangsa lain disebut sebagai goy alias kafir.

Sikap eksklusifitas dan primordialistik bangsa Israel tercermin nyata dalam Kitab Ulangan. Kitab ini, menurut Gerrit Singgih dalam Dialog, Kritik dan Identitas Agama, mewakili pandangan Israel yang mengaku diri sebagai umat kesayangan Tuhan (h. 43). Firman Tuhan menegaskan keterpilihan ini: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan Allahmu; Engkaulah yang dipilih Tuhan Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayanganNya” (Ul. 7:9). Persoalannya, keterpilihan Israel menciptakan mentalitas etnosentristik dan triumphalistik, merasa diri paling unggul dan paling hebat. Bangsa-bangsa lain dianggap lebih rendah. Yang lain itu harus ditumpas dan tidak boleh dikasihani (Ul. 7:2).

Menurut John Cobb, komunitas tertutup yang eksklusif, triumphalistik dan intoleran ini adalah warisan gereja-gereja Barat yang masih mempengaruhi banyak gereja di dunia ini. Komunitas tertutup seperti ini hanya menghasilkan konflik, permusuhan, diskriminasi terhadap sesamanya. Berbagai konflik yang terjadi, banyak negara muncul karena mentalitas komunitas tertutup ini.

 

Komunitas Terbuka

Sesungguhnya gereja bukanlah komunitas yang terasing. Sebagai komunitas, gereja berelasi dan menjadi bagian dari komunitas berbangsa, masyarakat dunia, kosmologi, dan komunitas dengan Tuhan. Berkomunitas adalah way of being.  Kita hidup dan berkembang dalam komunitas. Kita mengenal diri kita dan mengenal orang lain melalui komunitas. Kita mengenal Allah pun melalui komunitas. John D. Zizioulas, dalam Being As Communion, mengatakan: the being of God could be known only through personal relationship and personal love (h.16). Komunitas dijalin melalui tenunan relasi cinta. Tanpa relasi cinta, tidak ada komunitas. Kita selalu berada di dalam komunitas. Komunitas seperti udara. Tanpa komunitas kita mati. Kita menjadi bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Komunitas memberi kita identitas. Menurut KBBI, identitas adalah ciri-ciri, keadaan khusus atau jati diri yang melekat pada individu atau kelompok yang membedakannya dengan yang lain.

Berbeda dari komunitas tertutup yang eksklusif, triumphalistik dan intoleran, komunitas terbuka bersifat sebaliknya. Komunitas terbuka lebih inklusif, toleran dan lebih bermental pelayan yang rendah hati. Mentalitas seperti ini nampak dalam pesan kitab Yesaya dalam syair ‘hamba Tuhan yang menderita’ (42:1-9). Pendekatan utama dalam komunitas terbuka bukanlah kekuatan militer dan penaklukan, tetapi kekuatan cinta dan pelayanan yang meluluhkan hati.

Menurut John Cobb, komunitas terbuka nampak dalam pesan Injil Matius. Umat Kristen diingatkan untuk tidak bersikap triumphalis dan intoleran. Sebaliknya, umat Kristen harus mengasihi Allah dan mengasihi siapa pun.  Kasih adalah spirit terbentuknya relasi yang saling menghormati dan saling menghargai siapa pun. Relasi dan cinta ini memungkinkan terjalinnya komunitas yang terbuka. Umat Kristen dipanggil untuk menjalin relasi dan membangun komunitas dengan siapa pun. Umat Kristen tidak diperkenankan memisahkan diri dari dunia. Sebaliknya justru berbaur dengan siapa pun agar berfungsi menjadi garam dan terang dunia. Bukan tinggal dalam ‘tembok-tembok’ tebalnya, umat Kristen justru diutus untuk menyatakan kasih Allah sampai ke ujung-ujung bumi.

Pendekatan komunitas terbuka yang mengutamakan kasih, penghargaan dan pengakuan pada komunitas lain lebih dibutuhkan saat ini. Komunitas terbuka bersikap realistis terhadap perbedaan dan bahkan melihat perbedaan dari perspektif yang lebih positif. Komunitas terbuka memungkinkan terjadinya dialog yang lebih rasional dan setara dalam semangat saling menghargai.

 

Penutup

Saya telah menguraikan paradoks dari komunitas. Apakah gereja-gereja kita memiliki potensi untuk menjadi komunitas tertutup atau komunitas terbuka. Kedua tradisi ini ada di dalam Alkitab yang diwariskan kepada kita. Ada dua pertanyaan penting sebagai penutup tulisan ini. Pertama, di mana posisi gereja atau jemaat kita kini? Pertanyaan kedua yang sama pentingnya adalah apakah kita menerima begitu saja warisan teologi Barat tanpa kritis atau kita mengoreksinya karena ia tidak lagi sesuai dengan kondisi sosial kita yang majemuk?

Jakarta
11 Mei 2022

Author