Pada hari Jumat – Sabtu, 13-14 Mei 2022 lalu, bertempat di GKI Pengampon Cirebon telah dilakukan Persidangan ke-71 Majelis Klasis GKI Klasis Cirebon dengan agenda khusus percakapan gerejawi dalam diri Pnt. Agung Prasetya Susanto (selanjutnya disingkat Pnt. Agung Prasetya) dan Pnt. Yemima Karisma sebagai calon pendeta GKI dengan basis pelayanan di Jemaat GKI Pengampon.

Persidangan dimulai dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Iswanto yang dalam kotbahnya mengutip tulisan dalam buku Seri Selamat dari Pdt. Andar Ismail mengenai pendeta yang batal mutasi. Bila di kota-kota besar jumlah pendeta emeritus begitu banyak, maka di klasis Cirebon jumlah pendeta emeritus tidak terlalu banyak. Memang semuanya adalah pilihan, apakah seorang pendeta akan melayani dari semenjak penahbisan sampai emeritusnya di Jemaat yang sama atau menjalani mutasi, baik dari pendeta yang bersangkutan maupun Majelis Jemaatnya, serta kebutuhan pelayanan dalam lingkup yang lebih luas.

Setelah ibadah pembuka dan Pleno I selesai, tibalah Pleno II dengan agenda percakapan gerejawi mengenai ajaran GKI Pnt. Agung Prasetya dengan pemandu percakapan Pdt. Imanuel Kristo. Pnt. Agung Prasetya mempersiapkan materi mengenai “Keluargaku, Keluarga Allah Tritunggal”. Menurut materi yang disampaikan, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga salah satunya disebabkan karena ketidakseimbangan kuasa, di mana ada pihak-pihak yang mendominasi dalam keluarga. Penghayatan mengenai Allah Tritunggal di mana Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki keunikan dan perbedaan namun satu adanya, saling merasuki, saling memberi ruang, senantiasa berkarya bersama-sama, setara, dapat menjadi salah satu solusi dalam mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga memandang yang lain dalam kesetaraan, saling memberi ruang, saling melengkapi, dalam kesatuan sebagai keluarga.

Pada Pleno III, Pnt. Yemima Karisma memaparkan materi terkait Tata Gereja GKI mengenai “Spiritualitas Persidangan: Persekutuan yang Hidup” dengan pemandu percakapan Pdt. Cordelia Gunawan. Pnt. Yemima Karisma melakukan penelitian di Jemaat GKI Pengampon mengenai apakah persidangan yang ada telah ideal atau belum. Menurut paper yang disiapkan, persidangan menjadi ideal bila ada partisipasi aktif dari seluruh peserta persidangan. Seluruh peserta persidangan juga memiliki penghayatan bahwa persidangan tidak hanya sekedar sarana pengambilan keputusan, melainkan juga sarana untuk mencari kehendak Tuhan dalam hidup bergereja. Inilah yang menjadi sisi spiritualitas persidangan.

Persidangan hari pertama ditutup dengan ibadah malam yang dipimpin oleh Bp. Andreas Patasik, S.Si.Teol. yang melayani sebagai Tenaga Pelayanan Gerejawi Remaja Pemuda di Jemaat GKI Pengampon. Bp. Andreas Patasik dalam kotbahnya bercerita mengenai perilaku kepiting yang buruk, yakni ia tidak mau kawannya sesama kepiting yang berada bersama di dalam ember keluar. Ia akan berupaya menahan kawannya sesama kepiting untuk tetap di dalam ember, sehingga si penangkap kepiting tidak perlu kuatir kepiting hasil tangkapannya akan keluar. Yang mau disampaikan adalah bahwa dalam pelayanan hendaknya kita menjauhkan diri dari perilaku kepiting yang iri hati bila melihat kawan sekerja kita lebih sukses atau lebih diberkati daripada diri kita sendiri. Setiap orang sudah memiliki berkatnya masing-masing, dan hendaknya kita turut bergembira bila ada rekan sepelayanan kita yang mendapatkan kemajuan, kesuksesan, atau berkat lebih.

Keesokan harinya, persidangan hari kedua diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Andreas M.P. dari GKI Sindanglaut, lalu dilanjutkan dengan Pleno IV dengan agenda percakapan gerejawi mengenai Tata Gereja GKI Pnt. Agung Prasetya dengan pemandu Pdt. Cordelia Gunawan. Pnt. Agung Prasetya mengangkat tema mengenai “Griya Kepemimpinan Intergenerasional”. Menurutnya, gereja perlu mempersiapkan pemimpin dari berbagai generasi. Kepemimpinan intergenerasional bukan dalam pengertian sekedar ada pemimpin yang mewakili dari berbagai generasi (multigenerasi), melainkan juga bagaimana pengambilan keputusan dalam rapat atau persidangan juga diwarnai oleh pandangan dari berbagai generasi tadi (intergenerasi). Jadi ada keterlibatan aktif dari berbagai generasi di gereja dalam kepemimpinannya di tengah-tengah zaman dan tantangan yang terus berubah dengan cepat.

Pleno V menjadi agenda percakapan gerejawi yang terakhir di persidangan hari kedua, yakni percakapan gerejawi mengenai ajaran GKI Pnt. Yemima Karisma dengan pemandu percakapan Pdt. Imanuel Kristo. Pnt. Yemima Karisma memaparkan materi mengenai “Gambar Utuh Allah: Bapa dan Ibu”. Menurut Pnt. Yemima Karisma, Alkitab ditulis dalam budaya patriarkhi, di mana peran laki-laki begitu kuat dan dominan di dalamnya. Secara tidak langsung, hal ini memengaruhi gambaran kita mengenai Allah yang lebih maskulin. Padahal, Alkitab juga menggambarkan Allah secara feminin, misalnya Allah sebagai Ibu. Yang mau ditekankan di sini adalah keseimbangan saat kita menghayati Allah, dan Allah tentunya bukan laki-laki atau perempuan. Ia memiliki sifat baik seorang Bapa maupun Ibu, namun Ia adalah Allah yang tidak bisa dibatasi oleh gender dan penggambaran apa pun juga.

Pleno VI dilakukan persidangan tertutup guna penyampaian nilai dan pengambilan keputusan. Setelah masing-masing perwakilan dari delapan Jemaat di lingkup GKI Klasis Cirebon (tanpa GKI Pengampon) memberi nilai, termasuk pemandu, BPMK, BPMSW, dan BPMS, maka hasilnya kedua calon pendeta, baik Pnt. Agung Prasetya maupun Pnt. Yemima Karisma dinyatakan LAYAK untuk menjadi pendeta GKI.

Persidangan ditutup dengan ibadah penutup yang dipimpin oleh Pnt. Nike Kusumawati, calon pendeta GKI dengan basis pelayanan di GKI Ciamis yang sebentar lagi akan mengikuti percakapan gerejawi pada bulan Juli 2022 mendatang.

Selamat untuk Pnt. Agung Prasetya dan Pnt. Yemima Karisma, selamat juga untuk GKI Pengampon yang memiliki tambahan dua orang calon pendeta yang akan segera ditahbiskan, serta BPMK GKI Klasis Cirebon, BPMSW GKI SW Jabar, dan BPMS GKI serta seluruh Jemaat GKI. (MH).

 

Author