Misi gereja itu tidak boleh ‘stuck’, alias tidak boleh mengalami kejumudan; misi gereja harus selalu berubah dalam tantangan dan persoalan dunia yang terus-menerus mengalami perubahan.

Perihal misi gereja pun terjadi perubahan patron, atau perubahan paradigma yang sangat penting. Paling sedikit ada tiga patron dalam misi gereja. Apa saja?


TIGA PATRON

Pertama, patron misi gereja yang memberi penekanan pada penyelamatan jiwa! Teologi ‘penyelamatan jiwa’ menekankan pada keselamatan manusia di dunia ‘seberang sana’. Manusia dipahami secara parsial, hanya jiwanya, jasmaninya diabaikan. Teologi seperti ini sangat eskapis, yaitu mengabaikan dunia dan bahkan melarikan diri dari dunia masa kini. Gereja dengan pola ini, enggan melibatkan diri dalam persoalan kemiskinan dan ketidakadilan. Dampaknya adalah gereja yang irrelevant dan insignificant bagi masyarakat dan bangsa.

Kedua, misi gereja dengan patron penyelamatan manusia secara utuh, secara holistik. Ada pergeseran: dari penyelamatan jiwa menjadi penyelamatan manusia secara utuh, yaitu: rohani-jasmani, jiwa dan raga. Gereja tetap konsisten memberitakan Yesus Kristus sebagai Juruselamat umat manusia, tetapi bukan hanya itu; gereja mulai menaruh perhatian pada keselamatan manusia di dunia ini. Gereja pun melayani yang miskin, yang tidak mendapatkan akses pendidikan dan akses kesehatan; gereja membangun banyak sekolah dan rumah sakit. Tujuannya  untuk mengangkat harkat manusia pada kemanusiaannya. Dengan menerapkan pola kedua ini, kehadiran gereja bagi masyarakat dan bangsa menjadi lebih relevan dan lebih signifikan; gereja menjadi saluran berkat; akan tetapi, patron  misi ini memiliki kelemahan. Ia anthroposentristik, terlalu menekankan pada penyelamatan manusia. Padahal keselamatan yang Allah kerjakan bukan saja bagi  manusia. Akibatnya muncullah patron atau paradigma misi baru.


PATRON OIKOTREE

Ketiga, misi gereja dengan patron penyelamatan kehidupan dan bahkan penyelamatan semesta. Patron ketiga ini dikenal dengan nama Oikotree. Dalam patron ini, misi gereja mengalami pergeseran; dari anthroposentris menjadi ekosentris. Dalam misi ini, gereja tidak hanya berjuang untuk penyelamatan manusia secara utuh, namun gereja juga berjuang untuk penyelamatan dan pemulihan kehidupan bagi segala makhluk dan bumi ini, termasuk gunung, hutan, sungai, teluk, dan lautan yang rusak dan hancur oleh ketamakan manusia.

Gereja sadar bahwa panggilan untuk menerapkan pola baru misi ini sudah sangat mendesak. Bila terlambat, akan terjadi sekaligus  genosida dan ekosida; manusia, segala makhluk dan bumi ini akan mati bersama.

Gereja sadar bahwa manusia, segala makhluk dan bumi ini ‘interconnectedness’. Saling bergantung, Interdependent!  Menghancurkan salah satunya berarti kiamat bagi semua.

Kapan patron misi ketiga ini digulirkan? Patron atau paradigma ini digulirkan di Konferensi Acra (2004), yang diinisiasi oleh Council for World Mission, World Council for Church, dan World Communion of Reformed Church.

Paradigma ketiga misi yang disebut Oikotree ini muncul karena dua hal yang saling berkelindan.

Pertama, adanya kesadaran gereja pada krisis yang sedang terjadi di bumi; semua binatang menjadi langka, hutan gundul, Kutub Utara mencair, panas bumi meningkat, semuanya kena polusi. Krisis ini mengancam kelanjutan kehidupan segala makhluk.

Kedua, misi oikotree terinspirasi dari refleksi terhadap kitab  Wahyu yang menyebut “daun-daun pohon kehidupan yang dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa” (22:1-2) Pesan kitab ini adalah bahwa pemulihan dan keselamatan yang Tuhan lakukan bukan bagi orang Kristen saja (primordialistik); bukan pula bagi manusia saja (Anthroposentrik); akan tetapi keselamatan adalah pemulihan yang Tuhan kerjakan yang ditujukan bagi bangsa-bangsa, dan bagi semesta termasuk langit dan bumi. Semuanya dipulihkan!

Itulah sebabnya misi Oikotree itu bersifat inklusif-partisipatoris. Misi ini mengundang segala bangsa dan segala agama untuk bersatu-padu, saling bekerjasama memulihkan kehidupan manusia, segala makhluk dan semesta alam ini.

 

BERAGAM MISI

Meski data menunjukkan bahwa setiap tahun bangsa ini kehilangan 1,4 juta hektar hutan, meski dunia ini sudah mengalami krisis akut ekologis; belum semua gereja-gereja di Indonesia dan di dunia menerapkan misi dengan level ketiga atau Oikotree. Ada yang masih berpegang pada pola misi pertama, ada pula yang pola kedua. Meski demikian, diharapkan gereja-gereja dengan paradigma yang berbeda ini bisa tetap saling menghargai, saling melengkapi dan saling bekerjasama.

Paling tidak paradigma Oikotree mengingatkan kita untuk mulai membangun peradaban ekologis (ecological civilization), yaitu suatu peradaban baru yang menciptakan pembebasan dari segala bentuk ketidakadilan dan eksploitasi, mencegah ketamakan manusia, serta menciptakan pemulihan bagi manusia, segala makhluk dan bumi ini.

 

Pecah Kopi
2 Mei 2022

Author