Pentakosta dalam Yudaisme dan Kekristenan[1]

Pentakosta [(dari bahasa Yunani pentēkostē (πεντηκοστη) artinya 50] adalah perayaan yang dilakukan 50 hari setelah Paskah (Passover). Dalam Perjanjian Lama, perayaan ini disebut “Hari Raya Tujuh Minggu” (Shavuoth) sebagaimana dijelaskan dalam Kel. 34:22; Ul. 16:10. Disebut demikian karena terjadi 7 Minggu setelah Paskah. Nama lain untuk perayaan ini  adalah “Hari Raya Menuai” (Kel. 23:16) karena kaitannya dengan musim panen dan “Hari Hulu Hasil” (Bil. 28:26), ketika hasil terbaik dari panen dan ternak dipersembahkan bagi Tuhan. “Hari Hulu Hasil” ini tidak sama dengan persembahan yang diberikan pada awal masa menuai sebagaimana disebut dalam Im. 23:9–14.

“Hari Raya Menuai” adalah salah satu hari raya perziarahan wajib dari tiga hari raya umat Tuhan pada Perjanjian Lama saat mereka mempersembahkan persembahan mereka kepada Tuhan (Kel. 23:14–17). “Hari Raya Menuai”, utamanya adalah hari raya panen yang dirayakan diakhir panen jelai dan diawal panen gandum. Secara tradisional, penuaian gandum diperpanjang dari saat Paskah, saat gandum pertama disabit (Ul. 16:9) sekitar pertengahan April, sampai Pentakosta yang menandai tuntasnya di sekitar pertengahan Juni.

Setiap tahun, Imam menunjukkan berkas gandum yang baru dituai kepada Tuhan pada hari sesudah sabat dalam “Hari Raya Roti Tidak Beragi” (7 hari sesudah Paskah). Umat lalu menghitung 50 hari sejak hari persembahan hasil sabit panen pertama hingga 7 hari sabat untuk menantikan “Hari Raya Tujuh Minggu” (Im. 23:11). Pada hari ini dua buah roti unjukan yang harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar sesudah dicampur dengan ragi diberikan sebagai hulu hasil bagi Tuhan (Im. 23:17) juga persembahan sukarela diberikan (Ul. 16:10). Dalam rangka hasil bumi yang diberikan sebagai ungkapan syukur atas berkat Allah, persembahan hewan juga dilakukan (Im. 23:18; Bil. 28:27). Pesta syukur panen ini adalah saat bersukacita yang diikuti libur kerja (Im. 23:21; Ul. 16:11). Perayaan “Hari Raya Tujuh Minggu” pada masa Salomo (2 Taw. 8:13) adalah satu-satunya referensi dalam Perjanjian Lama saat “Hari Raya Tujuh Minggu” dilakukan diluar Pentakosta, karea Yehezkiel tidak menyinggungnya dalam kalender perayaan syukur yang dituliskannya (Yeh. 45, 46).

Di dalam Perjanjian Baru, Pentakosta adalah saat di mana Roh Kudus berkarya dengan sangat kentara dalam diri pengikut Kristus, saat pertama kali Gereja hadir (Kis. 2:1). Karena Pentakosta adalah pesta syukur wajib, maka banyak orang Yahudi berkumpul dari banyak tempat yang jauh untuk datang ke Yerusalem. Sungguh saat yang tepat bagi karya pembaruan Allah. Dalam dua kesempatan, Paulus bahkan mempertimbangkan perayaan Pentakosta dalam jadwal perjalanannya. Seperti dalam surat Korintus, saat ia menunda kunjungannya sampai setelah Pentakosta (1 Kor. 16:8) atau pada kesempatan lain ia merencanakan untuk mengunjungi Yerusalem pada saat Pentakosta (Kis. 20:16).

Orang-orang Yahudi pada zaman sekarang, mengingat dan merayakan pemberian Hukum Allah di Sinai saat perayaan Shavuot untuk melengkapi perayaan pesta panen tradisional. Penambahan makna ini terjadi setelah bait Yerusalem hancur tahun 70. Selain itu, hal ini juga didukung dalam Keluaran 19:1, di mana disebutkan bahwa Hukum Allah diberikan tiga bulan setelah Paskah pertama. Saat ini, penekanan syukur atas pemberian Hukum Allah menjadi lebih  ditekankan oleh orang Yahudi. Saat perayaan itu, selain pembacaan Taurat, kitab Rut juga dibacakan karena latar belakang panen yang ada di dalamnya. Dikemudian waktu, dalam perayaan Pentakosta juga dikenang kematian Raja Daud, sehingga Mazmur-Mazmurnya pun dibacakan juga kala perayaan itu.

Umat Kristen secara rutin merayakan Pentakosta tetap pada hari Minggu tertentu dengan asumsi bahwa 50 hari setelah Paskah sampai “Hari Raya Tujuh Minggu” dihitung sampai hari sesudah sabat ketujuh (Hari-Hari Minggu) sebagaimana dijelaskan dalam Imamat 23:15, 16. Menurut beberapa penafsir agama Yahudi, hari sabat dalam Imamat bukanlah hari sabat, tetapi hari suci Paskah yang jatuh berbeda setiap tahunnya. Dalam pemahaman demikian, yang didukung oleh para Farisi, “Hari Raya Tujuh Minggu” dirayakan pada hari yang berbeda setiap tahunnya dibanding hari sesudah sabat ketujuh. Saat Gereja mula-mula merayakan pemberian Allah berupa Roh Kudus di hari Pentakosta, pada hari itu juga menjadi kebiasaan yang populer untuk dilaksanakannya Sakramen Baptisan. Pakaian putih yang dikenakan para calon baptisan membuat hari minggu itu disebut juga dengan Whitsunday (White Sunday) dalam tradisi Kristen.

Pentakosta dan Persembahan Syukur Tahunan di GKI

Gereja Kristen Indonesia (GKI) memiliki kebiasaan untuk menyerap kebiasaan yang sudah dilakukan oleh umat Perjanjian Lama dalam merayakan Pentakosta, yaitu memberikan persembahan syukur. Di GKI, kita menyebutnya “Persembahan Syukur Tahunan”. Dikatakan demikian karena persembahan yang diberikan biasanya merupakan persembahan yang sudah disiapkan setahun lamanya untuk Tuhan. Seperti umat Tuhan di Perjanjian Lama yang bersyukur atas berkat Tuhan berupa pemeliharaan dan berkat hasil panen, juga pemberian Hukum Allah di Sinai, kita menjiwai rasa syukur itu dengan mempersembahkan uang hasil kerja yang adalah berkat Tuhan. Itu sebabnya juga acapkali saat Pentakosta, kita mendekor altar depan mimbar dengan hasil bumi sebagai simbol syukur kita atas ruang lingkup bumi karya Tuhan yang mencukupi kebutuhan kita. Tentu bukan hanya itu saja, di Pentakosta dalam Perjanjian Baru, “hasil panen” yang dituai adalah “orang-orang percaya” yang hidupnya menjadi baru karena karya Roh Kudus. Jadi saat kita memberikan persembahan syukur, secara tidak langsung kita tengah menghadirkan diri yang berkenan untuk terus menerus dibaharui dan diperlengkapi Roh Kudus dalam kesetiaan kita mengikuti Kristus demi memuliakan Allah.

Persembahan Syukur Tahunan dan Peruntukkannya

Sebagaimana persembahan lain yang kita berikan untuk Allah melalui Gereja-Nya, setiap persembahan yang terkumpul diperuntukkan untuk menjalankan misi Allah. Sebagai Gereja, kita ikut serta menjalankan misi Allah sesuai dengan konteks dan panggilan unik kita masing-masing. Pastinya dengan hikmat Roh Kudus, Gereja terus dicerahkan untuk mengelola setiap persembahan yang terkumpul bukan semata-mata demi pemenuhan kebutuhan tugasnya sendiri, tetapi juga demi kebaikan bumi dan sesama ciptaan Allah. Panggilan untuk ikut serta memelihara keadilan iklim dan keadilan ekonomi adalah panggilan spiritual yang aktual serta layak diingat pada perayaan Pentakosta tahun ini. Jika pada kisah Menara Babel (Kej. 11:1-9) kita dikejutkan dengan tindakan Allah yang mencerai beraikan manusia melalui keragaman bahasa karena manusia begitu bernafsu untuk membanggakan karya diri semata, maka pada kisah Pentakosta (Kis. 2) kita dikejutkan Allah melalui keajaiban bahasa kabar baik yang menembus keragaman karena pemberian diri murid-murid Kristus yang peduli kepada sesama.

Mari kita bawa persembahan syukur tahunan kita dengan mengingat apa yang dinasihatkan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 8:14 “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.”

 

[1] Elwell, W. A., & Beitzel, B. J. (1988). Baker encyclopedia of the Bible. Map on lining papers. (1639). Grand Rapids, Mich.: Baker Book House.

Author