Seorang remaja putri, sebut saja namanya Ranny, mendadak tidak mau lagi ke gereja. Padahal Ranny adalah pengurus Komisi Remaja yang sangat aktif dalam berbagai aktifitas di gerejanya. Hal yang sama terjadi juga pada Kemmy, pemudi cerdas nan energik. Kemmy yang sangat aktif tiba-tiba saja memutuskan mundur dari semua kegiatan gereja. Sikap dan keputusan Ranny dan Kemmy menimbulkan tanya: apa sebenarnya yang terjadi? Setelah diselidiki, kesimpulan pun didapat. Ternyata mereka berdua menjadi korban kekerasan simbolik. Apa itu kekerasan simbolik? Tulisan ini akan menelisiknya.

Orang pertama yang mengangkat soal kekerasan simbolik adalah Pierre Bourdieu. Selama ini kekerasan selalu dikaitkan dengan soal fisik. Para korban mengalami luka, lebam atau bahkan mati. Bourdieu mengungkapkan bahwa situasi ini berbeda dengan korban kekerasan simbolik. Para korban tidak dilukai fisiknya karena pelaku kekerasan tidak menggunakan otot atau senjata. Dalam kekerasan simbolik, pelaku kekerasan menggunakan simbol berupa kata-kata, gambar, foto, suara, tulisan, atau video. Efeknya, meski tidak menimbulkan luka atau cedera pada fisik, tetapi ia memberi dampak pada gangguan psikis dan emosional. Para korban menjadi tertekan, merasa kurang nyaman, muncul rasa minder, rendah diri, merasa ditolak, atau merasa tersudutkan. Mereka merasakan keterasingan, merasa paling buruk dan jelek. Mereka merasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Pada tahap yang paling parah, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri dan bahkan ingin bunuh diri.

 

Oups… Tidak Sengaja!

Nah, dalam kasus Ranny misalnya. Seorang ibu, sambil bercanda, mengatakan kepada Ranny “Woouw….mengapa wajahmu jadi berjerawat seramai itu?” Bagi sang ibu ucapan itu hanya candaan, tetapi tidak bagi Ranny. Sang ibu tidak tahu bahwa Ranny sudah cukup lama bergumul dengan persoalan jerawatnya. Mendengar ucapan itu, Ranny langsung kehilangan kepercayaan diri; meski sang ibu tidak secara sengaja menyakiti hati Ranny. Sebenarnya ia pun sedang bercanda. Meski demikian, bagi Ranny ucapan itu adalah kekerasan simbolik. Ranny menjadi marah terhadap diri sendiri. Ranny merasa malu dan minder. Dia pun menghilang dari kegiatan gereja.

Kemmy pun menghadapi masalah yang hampir sama. Setiap dia ke gereja, sering banyak orang yang bertanya kepadanya “kapan menikah?” Ini pertanyaan yang menyebalkan. Kemmy, yang berusia 30 tahun, sesungguhnya sedang bergumul mencari pasangan hidup. Pertanyaan di atas menjadi tekanan sosial. Ia menjadi stress. Merasa tersudutkan. Pertanyaan itu menjadi kekerasan simbolik. Dia malu karena belum menikah. Demi menghindari pertanyaan itu, Kemmy memutuskan tidak ke gereja lagi.

Mungkin anda berpikir, “ah…Ranny dan Kemmy terlalu sensitif. Terlalu over thinking”. Anda bebas berpendapat, tetapi itulah yang sekarang sedang terjadi. Banyak yang mengundurkan diri dari aktifitas di gereja atau di komunitas mana pun karena mengalami kekerasan simbolik.

Ada kasus lain. Keluarga muda yang belum memiliki anak sering ditanya “kapan punya momongan?” Pertanyaan ini tanda perhatian, tetapi bagi keluarga muda yang belum punya anak, pertanyaan itu menjadi tekanan sosial. Apalagi orang tua dan mertua mereka selalu mengangkat pertanyaan yang sama. Ini pertanyaan yang menyebalkan. Pertanyaan itu menjadi kekerasan simbolik yang membuat mereka menderita. Demi menghindari pertanyaan itu, mereka memilih absen dari komunitas gerejanya.

 

Memang Disengaja

Ada juga kekerasan simbolik yang dilakukan dengan sengaja. Tujuannya untuk menghina dan untuk melukai hati korbannya. Misalnya, “kamu bodoh amat!” atau “kamu tidak bisa bekerja apa pun.” Kekerasan simbolik ini membuat sang korban menderita stress dan kehilangan kepercayaan diri. Banyak anggota dan aktifis gereja dan berbagai komunitas lainnya mundur dari aktifitas mereka karena mengalami kekerasan simbolik ini. Banyak juga keluarga yang pecah berantakan atau anak-anak yang stress berat karena mengalami kekerasan simbolik di dalam keluarga mereka sendiri. Banyak anak remaja atau pemuda yang stress karena orang tuanya mengeluarkan kata-kata atau melakukan tindakan yang mengarah pada kekerasan simbolik. Mereka pun stress berat, merasa tidak diterima. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat di mana seseorang merasa diterima apa adanya justru menjadi ‘neraka’ yang menghancurkan rasa percaya diri mereka.

 

Waspadalah!

Ada kekerasan simbolik yang dilakukan secara sengaja untuk menyudutkan korbannya. Tetapi, banyak juga yang dilakukan secara tidak sengaja. Meski demikian, keduanya memberi efek yang sama yaitu penderitaan bagi para korbannya.

Sebagai komunitas, gereja harus mengingatkan agar umat menjaga kewaspadaan dalam berkata-kata dan berinteraksi dengan siapa pun, termasuk dengan anggota keluarga mereka sendiri. Ini penting, agar kata-kata dan tindakan kita tidak menjadi kekerasan simbolik yang menghasilkan penderitaan bagi siapa pun. Lebih baik belajar untuk memuji orang melalui kata-kata dan tindakan yang tujuannya membangun rasa percaya diri sesama. Firman Tuhan mengatakan:” Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (Yakobus 1:26).

Author