Kita baru saja kehilangan seorang tokoh besar yang rendah hati dan berhati mulia. Beliau adalah Buya Ahmad Syafii Maarif. Buya Syafii Maarif adalah mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad. Beliau wafat pada 27 Mei 2022. Buya adalah intelektual yang cerdas, sangat toleran, inklusif, egaliter dan Pancasilais sejati. Banyak orang menjulukinya sebagai Guru Bangsa. Saya sangat setuju dengan julukan itu. Memang benar, setiap jaman ada orangnya dan setiap orang ada jamannya. Meski demikian, kebesaran dan kerendahan hatinya, keteladanan dan kontribusi Buya bagi kebaikan umat Islam, bagi bangsa dan bagi kemanusiaan akan bertahan lama. Apa saja kontribusi Buya yang perlu kita pelajari dan kita teruskan bagi kebaikan semua? Ini yang akan diuraikan dalam tulisan ini.

 

Kontribusi Buya

Tentu saja kontribusi Buya Syafii bagi kebaikan semua, sangatlah banyak. Tidak mungkin menguraikan semuanya dalam tulisan pendek ini. Nah, dalam tulisan ini, saya akan menguraikan beberapa pemikiran dan kontribusi Buya yang saya harap bisa menjadi cermin untuk menilai penghayatan keagamaan kita masing-masing dan kiprah kita di tengah bangsa ini.

Pertama, Buya Syafii selalu percaya bahwa agama itu diturunkan Allah untuk membangun peradaban, bukan menciptakan kebiadaban. Buya sadar betul pada ambiguitas agama yaitu bahwa agama bukan hanya berpotensi mendatangkan rahmat, tetapi juga kiamat; bukan pula hanya menghasilkan teologi kehidupan, tetapi juga teologi maut; membangun peradaban, tetapi juga kebiadaban. Bagaimana respons Buya? Pada satu sisi, Buya bersikap kritis terhadap kultur kekerasan atau yang disebutnya sebagai teologi maut. Bagi Buya kultur kekerasan adalah kebiadaban. Pada sisi lain, Buya mendorong perlunya menggali dan mendapatkan nilai-nilai moral dan etik dari Kitab Suci (Al-Quran). Bagi Buya, nilai-nilai moral dan etik agama yang bersumber dari Kitab Suci pasti akan menghasilkan teologi kehidupan, bukan teologi maut; menghasilkan peradaban, bukan kebiadaban. Agama yang membangun peradaban adalah agama yang sadar akan pentingnya memajukan intelektualitas atau kecerdasan umat. Agama yang tidak mendorong umat meningkatkan kapasitas intelektualitasnya, akan mengalami marjinalisasi, terpinggirkan. Bagi Buya musuh terbesar agama adalah kebodohan. Buya adalah seorang yang ‘walk the talk’ artinya melakukan apa yang beliau katakan, dan sebaliknya mengatakan apa yang beliau lakukan. Sama seperti Gus Dur, Buya pun membangun kultur belajar yang memungkinkan kaum muda Islam mengembangkan intelektualitas mereka. Respons kaum muda Islam pun menggembirakan. Diskusi dan seminar ilmiah yang membahas segala macam topik, sering diselenggarakan dan dihadiri oleh ratusan kaum muda Islam. Hasilnya, kaum muda Islam mampu menulis opini di berbagai media nasional, menulis buku-buku bermutu dan mampu berkiprah serta berkontribusi di manapun bagi kebaikan bangsa.

Kedua, Buya selalu mengingatkan agar agama harus diturunkan dari ‘langit’ agar berjejak di bumi. Kritik Buya terhadap kecenderungan agama langitan itu jelas, karena agama yang terlalu banyak bicara tentang dunia ‘seberang sana’ tidak akan mampu memberi kontribusi, tidak relevan dan tidak signifikan bagi kehidupan bangsa dan kemanusiaan. Jelaslah bahwa Buya melihat agama secara fungsional, artinya agama seharusnya memainkan fungsi yang positif dan konstruktif bagi semua. Kadang umat beragama langitan bisa membangun percaya diri dalam hal keselamatan di dunia seberang sana, tetapi Buya mengingatkan, merasa ‘menang’ di langit, tetapi apa gunanya bila di bumi ‘kalah’ total dalam arti tidak berfungsi apa pun. Agama yang tidak fungsional akan menjadi seperti garam yang tawar atau menjadi sampah yang pantas untuk dibuang dan tidak diperdulikan orang. Buya menarik agama agar berjejak kembali di bumi.

Ketiga, Buya mengingatkan agar agama yang membumi itu harus bersikap realistis terhadap realitas pluralitas dan perbedaan etnik dan agama dalam masyarakat dan bangsa Indonesia. Kita mungkin tidak selalu sepaham dengan banyak orang, seperti Buya tidak sepaham dengan Shiah dan Ahmadiyah. Tetapi Buya mengingatkan, bahwa kita harus menghargai mereka yang berbeda dan tidak sepaham dengan kita, mereka punya hak hidup yang perlu dibela. Bahkan, menurut Buya, yang tidak beragama pun mempunyai hak untuk hidup. Hak azasi mereka pun harus dibela. Buya mengingatkan bahwa agama harus menjadi penuntun di tengah kemajemukan bangsa dan manusia. Harus dijaga agar agama tidak digunakan menjadi instrumen untuk merusak peradaban dan kemanusiaan kita bersama.

Masih banyak pemikiran Buya yang lain, tetapi saya harap tiga percik pemikiran Buya ini menjadi ‘legacy’ yang berguna untuk kita pelajari dan hayati, bagi kebaikan bangsa dan bagi kemanusiaan kita bersama.

 

 

Jakarta
1 Juni 2022

Author