Pernahkah saudara mendengar nama Djiauw Kie Siong? Mungkin tidak banyak orang yang pernah mendengar namanya, dan tahu bahwa ia adalah orang  yang  memiliki peran dalam proses Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada saat berita kekalahan Jepang oleh Sekutu tersebar, golongan muda mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Untuk menjauhkan Bung Karno dari pengaruh Jepang, serta untuk alasan keamanan, maka pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 golongan muda menjemput Bung Karno dan Bung Hatta untuk diungsikan ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Selain Bung Karno dan Bung Hatta, ikut juga keluarga Bung Karno, yaitu ibu Fatmawati dan Guntur. Di rumah milik Djiauw Kie Siong inilah, rombongan tersebut menginap satu malam dan membicarakan persiapan proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut cerita yang dituturkan kepada bapak Djiauw Kiang Lin / Janto Djoeari, cucu Djiauw Kie Siong, pada saat itu keluarga besar sedang berkumpul karena akan merayakan Cit Gwee. Namun mereka kemudian “mengungsi” ke tempat lain karena rumah mereka digunakan oleh rombongan Bung Karno. Djiauw Kie Siong sekeluarga mengungsi karena alasan kerahasiaan dan keamanan. Selain menyediakan rumah untuk digunakan oleh rombongan Bung Karno, keluarga Djiauw Kie Siong juga menyediakan bahan makanan untuk dikonsumsi oleh rombongan.

Salah satu cerita menarik dalam penuturan keluarga; setelah kepulangan rombongan Bung Karno ke Jakarta, keluarga menemukan banyak sampah kertas yang berserakan di sekitar rumah. Karena takut ketahuan oleh pihak Jepang atau Sekutu, keluarga segera membersihkan sampah kertas itu dan membakarnya. Menurut keluarga, sampah kertas itu mungkin berisi oretan-oretan naskah proklamasi atau rencana persiapan proklamasi. Menurut cerita, kertas-kertas itu adalah sobekan dari buku tulis sekolah anak Djiauw Kie Siong, yang saat itu masih bersekolah. “Buku tulis gue cuma ada dua, sampe habis.” Sepotong kalimat itu masih diingat oleh bapak Djiauw Kiang Lin saat pamannya menceritakan peristiwa tersebut.

Dari sepotong narasi pinggiran tentang Djiauw Kie Siong dan keluarganya ini, kita dapat belajar dan berefleksi tentang Kemerdekaan Indonesia. Dengan menyediakan rumahnya, Djiauw Kie Siong dan keluarganya berisiko ditangkap jika terjadi penggerebekan oleh Jepang atau Sekutu. Walau “hanya” menyediakan akomodasi dan konsumsi, namun Djiauw Kie Siong dan keluarganya tetap memiliki kontribusi yang turut mendukung proses Kemerdekaan Indonesia. Bahkan pengorbanan kecil dari seorang anak yang buku tulisnya disobek pun merupakan bagian dari kontribusi yang bisa diberikan untuk mendukung proses Kemerdekaan Indonesia. Seperti Djiauw Kie Siong dan keluarganya, kita pun seharusnya dapat berkontribusi bagi bangsa dan negara kita.

Selain itu, sepenggal kisah Djiauw Kie Siong juga mengingatkan kita untuk menghilangkan sentimen antar suku/etnis yang sering kali digunakan untuk memecah belah bangsa Indonesia. Dalam Diskusi Kebangsaan bertajuk “Tionghoa dalam Keindonesiaan” yang diselenggarakan oleh BPMK GKI Klasis Jakarta Timur dan Gerakan Kebangsaan Indonesia pada 27 November 2021 lalu, diingatkan bahwa sentimen kesukuan merupakan warisan penjajah yang sejak dahulu digunakan untuk memecah belah bangsa Indonesia. Oleh karena itu, melalui kisah tentang Djiauw Kie Siong dan keluarganya ini kita diajak untuk menghayati Kemerdekaan Indonesia sebagai anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri dengan ikut serta berkontribusi bagi kedamaian dan kemajuan Indonesia. Tidak masalah sekecil apa pun kontribusi yang bisa kita berikan bagi bangsa dan negara, maka berikanlah.

 

Author