Dunia perdukunan di Indonesia sedang gerah karena kebohongannya dibongkar habis. Pembongkarnya adalah Marcel Radhival. Marcel lebih dikenal sebagai Pesulap Merah. Perlu dijelaskan bahwa sebenarnya Pesulap Merah ini menghormati para dukun tulen yang suka menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Misalnya dukun beranak. Tetapi, ada juga praktek perdukunan yang dilakukan oleh para dukun palsu. Mereka kerjanya menipu orang lain demi keuntungan materi. Nah, Pesulap Merah membongkar praktek perdukunan yang tidak bertanggungjawab itu. Wikipedia menjelaskan bahwa perdukunan adalah praktek non medis yang digunakan orang yang tidak bertanggungjawab dengan motif penipuan. Perdukunan adalah praktek tipu muslihat, penuh kepura-puraan. Seseorang yang tidak memiliki keterampilan non medis bertindak seperti dukun profesional dengan kemampuan supranatural. Mereka inilah yang melakukan praktek perdukunan mengelabui korbannya untuk mendapatkan keuntungan.

Di hadapan calon korbannya, para dukun palsu itu melakukan aktifitas ritual, untuk menunjukkan kapasitas dan kekuatan ‘supra natural’ mereka. Para dukun itu mampu mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, memberi kekayaan, menaikkan pangkat, memberi kekebalan, dan sebagainya. Untuk meyakinkan korbannya, para dukun palsu melakukan trik-trik tipuan, plus membumbuinya dengan doa dan pembacaan ayat-ayat kitab suci. Artinya, para penipu itu tidak sungkan memanipulasi agama dan ayat suci demi keuntungan materi. Terbongkarnya kepalsuan para ‘dukun palsu’ membuat mereka kehilangan banyak pelanggan setia. Tetapi, sesungguhnya ada aspek lain yang lebih penting. Apa? Pesulap Merah telah membuka mata banyak orang agar mereka semakin rasional dan tercerahkan, diharapkan masyarakat semakin kritis. Kini siapa pun yang mengklaim memiliki kemampuan supra natural untuk melakukan mujizat akan berhadapan dengan masyarakat yang semakin kritis dan cerdas. Ini menggembirakan.

Saya sendiri berharap daya kritis dan kecerdasan masyarakat ini bukan saja terarah pada dukun palsu, tetapi juga terarah pada rohaniawan yang sering melakukan praktek supra natural dengan modus yang hampir sama dengan dukun palsu. Para rohaniawan tertentu sering memamerkan bahwa mereka memiliki kekuatan supra natural. Mereka mengklaim mampu melakukan mujizat apa pun, termasuk menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, melipatgandakan kekayaan, dan sebagainya. Untuk meyakinkan umat, mereka menceritakan pengalaman-pengalaman spiritual perjumpaan dan ngobrol langsung dengan Tuhan. Tentu saja pengalaman spiritual ‘unik’ yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Umat harus percaya! Sama seperti dukun palsu, mereka pun sering menawarkan benda-benda suci yang bisa melindungi dan menyelamatkan umat. Untuk lebih meyakinkan umat, para rohaniawan tertentu sering menyebut-nyebut nama Allah dan juga mengutip ayat-ayat kitab suci. Rasionalitas umat pun lumpuh! Umat ‘terhipnotis.’ Mereka menjadi sangat percaya. Hasilnya adalah ketaatan total umat; dan tentu saja ujungnya para rohaniawan ini akan menikmati keuntungan materi yang berlimpah.

Praktek supra natural para rohaniawan demi memperoleh keuntungan materi ini banyak dilakukan di Afrika dan di negara-negara dunia ketiga. Biasanya para rohaniawan dari luar negeri seperti dari Inggris dan Amerika Serikat datang ke negara-negara dunia ketiga yang masyarakatnya sangat percaya pada kekuatan ‘supra natural.’ Kini, para rohaniawan lokal pun sudah melakukan praktek yang sama. Mereka pun menikmati keuntungan materi berlimpah. Meski percaya bahwa mujizat Tuhan seperti penyembuhan ilahi atau pengusiran setan masih ada, para reformator seperti Luther dan Calvin sangat kritis terhadap klaim-klaim super natural dari siapa pun. Luther tidak percaya pada penyembuhan ilahi yang dilakukan Mary Baker Eddy, pendiri Christian Science. Di Alkitab, Paulus pun mengajak umat untuk bersikap kritis terhadap orang yang memiliki karunia-karunia apa pun. Sering hasilnya malah perpecahan, bukan pembangunan umat; maka dari itu, “ujilah roh,” kata Paulus.

Meski percaya pada mujizat ilahi, gereja-gereja Reformasi tidak akan mengijinkan ibadah penyembuhan ilahi atau pengusiran setan dalam ibadah-ibadahnya. Mengapa? Jawabnya, karena praktek semacam itu mudah dimanipulasi. Umat akan sulit memahami mana yang benar, mana sesat. Mereka yang pandai melakukan tipu muslihat sering memperdaya umat sehingga umat sulit membedakan antara yang menggunakan Roh Kudus dan yang menggunakan roh kudis. Tradisi Calvin dan Luther menegaskan bahwa orang harus memiliki iman yang kuat, tetapi saat yang sama orang harus menggunakan akal sehatnya. Iman tanpa akal akan menciptakan kedunguan, sehingga umat sangat mudah diperdaya. Sebaliknya, akal tanpa iman akan menciptakan kepongahan dan ketersesatan. Kita butuh keduanya sekaligus: iman yang kokoh dan akal yang cerdas!

 

Bandung
17 Agustus 2022

Author