Jangan pernah menganggap remeh kedunguan manusia. Banyak institusi sekuler dan institusi agama, perusahaan, dan bahkan bangsa, hancur total karena keputusan kaum dungu. Dietrich Bonhoeffer adalah Teolog Protestan yang pertama kali menggumuli persoalan kedunguan (stupidity). Bonhoeffer (4 Februari 1906 – 9 April 1945) adalah pendeta Lutheran Jerman. Dia anggota gerakan perlawanan terhadap Nazisme. Ia bersama kelompoknya merancang pembunuhan terhadap Adolf Hitler. Baginya Hitler sudah merusak Jerman; Hitler bagaikan supir mabuk yang mengendarai truk yang berjalan tanpa kontrol, banyak orang jadi korban dan mati. Satu-satunya cara menghindari untuk tidak terjadi lebih banyak korban lagi adalah merebut kendali truk, dan melemparkan sang supir mabuk keluar dari truk. Intinya, Hitler harus dibunuh, tidak ada jalan lain. Tetapi, percobaan pembunuhan terhadap Hitler gagal total. Bonhoeffer ditangkap pada bulan Maret 1943, ditahan dan akhirnya digantung, hanya dua minggu sebelum berakhirnya Perang Dunia II.

Saat mendekam dalam penjara, Bonhoeffer bergumul  mencari  akar kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Hitler dan rezim Nazinya.  Bonhoeffer menyimpulkan bahwa akar dari kekerasan dan kekejaman terhadap sesamanya bukanlah kedengkian atau kebencian. Baginya, akar kekejaman Hitler dan Nazi adalah kedunguan. Kehancuran negara Jerman diawali oleh kedunguan elite politik yang menjadi pendukung dan pengorbit Hitler. Dalam surat yang ditulis dari dalam penjara, Bonhoeffer mengemukakan bahwa musuh paling berbahaya bagi sebuah bangsa adalah kedunguan. Suatu bangsa bisa hancur berantakan karena terjebak dalam kedunguan kolektif. Sulit beradu argumentasi dengan kaum dungu. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendengar; nalar mereka lumpuh total.

Kecerdasan ada batasnya, tetapi kedunguan tidak ada batasnya,” kata Albert Einstein. Orang  yang secara personal, dungu, akan menjadi beban bagi masyarakat. Tetapi ada juga kedunguan kolektif. Dan yang terakhir ini jauh lebih berbahaya. Banyak orang berpikir bahwa mereka yang dungu tidak mungkin menjadi pemimpin. Mereka semua salah. Sesungguhnya, secara kolektif kaum dungu ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Sering tanpa kita sadari, kaum dungu inilah yang justru memimpin organisasi, memimpin perusahaan, dan bahkan menjadi elite politik dan pemimpin negara. Penampilan, jabatan, dan pangkat tinggi yang dimilikinya membuat kedunguannya tidak terlacak. Kaum dungu ini sering mengambil keputusan yang salah, yang justru menghancurkan kehidupan suatu bangsa. Celakanya, berbagai keputusan kaum dungu disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai strategi jitu, yang sering menyentuh sisi emosionalitas. Efeknya, kedunguan itu menjalar kemana-mana dan kepada siapa saja.

 

Kedunguan Moral

Ada pertanyaan menarik yang perlu digumuli. Mengapa para cendekiawan pendukung Hitler bisa terjebak dalam kedunguan kolektif, lalu ikut mengambil keputusan yang menghancurkan bangsanya? Mengapa anak dari diktator Marcos yang dulu sangat dibenci rakyat Filipina justru dipilih menjadi Presiden Filipina? Mengapa banyak polisi berupaya menutupi kejahatan Irjen Sambo? Jawabannya ada dua. Keduanya saling terkait! Pertama, masyarakat, terutama kaum intelektual terjebak dalam kedunguan kolektif; mereka semua terjebak oleh ambisi dan nafsu pada jabatan dan kekayaan yang melumpuhkan akal sehat. Kedua, masyarakat, aparat dan kaum intelektual, bertindak dungu bukan karena mereka mengalami defisit intelektual. Bukan itu! Intelektualitas mereka tetap hebat. Mereka bahkan memanfaatkan kapasitas intelektualitas mereka untuk menjustifikasi tindakan dungunya. Lalu apa persoalannya? Persoalannya adalah bahwa mereka mengalami kedunguan moral. Kedunguan moral tidak selalu muncul karena tawaran jabatan dan kekayaan, tetapi bisa juga lahir dari ketakutan kehilangan jabatan dan kekuasaan. Artinya, orang-orang yang secara moral dungu bukanlah manusia bebas. Mereka dihantui oleh nafsu, dan dikejar oleh bayang-bayang ketakutan. Orang yang tidak menikmati kebebasan adalah orang yang menderita. Mereka terfragmentasi, terpecah! Mengalami disintegritas! Paulus pun mengalami situasi ini. Paulus katakan: ”Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Roma 7:19). Tapi ada beda antara kaum dungu dengan Paulus. Bedanya adalah, Paulus mengakui kelemahan dan kesalahannya; Paulus mengalami pembebasan. Sebaliknya, mereka yang melakukan pembenaran terhadap kedunguannya; mereka terpenjara. Kedunguan moral mengabaikan dan mengorbankan kepentingan masyarakat dan bangsa.

 

Mengapa koruptor besar yang menggerogoti dana negara masih bisa berkiprah di dalam dunia politik dan bahkan masih mampu mempengaruhi jalannya roda pemerintahan? Mengapa koruptor kelas kakap bisa memperoleh remisi hukuman dan saat di penjara bisa bebas berkeliaran ke mana-mana? Mengapa orang doyan memilih pemimpin politik yang jelas-jelas menciptakan polarisasi akut di tengah masyarakat?  Mengapa terdakwa yang berkali-kali berbohong masih saja dianggap jujur? Mengapa politisi minim berprestasi dan tidak mendapatkan dukungan rakyat dipaksakan menjadi pemimpin bangsa? Jawaban semua pertanyaan itu hanya satu, yaitu karena kedunguan kolektif. Lebih tepat lagi, kedunguan moral! Dan kedunguan seperti ini sedang disosialisasikan di tengah masyarakat kita. Kita pernah mengalami kedunguan kolektif yang berakibat kita terpolarisasi. Kali ini, kita semua harus lebih cerdas! Bila tidak, kita akan hancur bersama!

 

Pecah Kopi
21 Sept 2022

 

Author