(Menolak Budaya KDRT dalam Keluarga)

 

Setiap pernikahan tentu diawali dengan sebuah impian yang indah; saya ingin hidup lebih tenang, lebih bahagia, lebih rukun, lebih harmonis dan menikmati lebih banyak kebaikan hidup. Ketika hendak menikah, kita membayangkan suatu kehidupan yang saling melengkapi, hidup bertolong-tolongan dan saling berbagi kasih di dalam keluarga. Kita juga membayangkan bagaimana beban hidup bisa dipikul bersama-sama dalam semangat berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, atau dalam semangat kesetaraan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Penulis dan musisi Dave Willis menggambarkan suami-istri atau orangtua-anak ibarat sepasang sayap pada burung: “A husband and wife must function like two wings on the same bird.  They must work together or the marriage will never get off the ground.”  Seperti sayap, suami dan istri harus berfungsi bersama-sama, sehingga bisa mengepak dan terbang meraih impian bersama. Orangtua dan anak harus bekerjasama, sehingga fungsi keluarga bisa berjalan (tidak mandeg), dalam meraih keberhasilan dan kebahagiaan.

 

Keluarga dalam Tantangan KDRT

Keluarga harus menjadi tempat yang paling membahagiakan. Hal inilah yang membuat para jomblo selalu ingin berkeluarga. Anggota keluarga selalu merindukan satu sama lain; orang-orang yang jauh selalu ingin pulang kembali ke rumah.  Untuk mencapai target ini, maka keluarga harus benar-benar berfungsi. Menurut Zastrow (1999), secara universal setiap keluarga memiliki lima fungsi utama, yaitu:

  1. Replacement of the population. Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dengan lahirnya anak, Keluarga mendukung proses regenerasi kehidupan di bumi ini.
  2. Care of the young. Keluarga berfungsi melakukan pengasuhan dan perawatan terhadap anak-anak, sehingga anak-anak bertumbuh dan berkembang dengan baik.
  3. Socialization of new members. Keluarga berfungsi mensosialisasikan nilai-nilai budaya, norma, bahasa dan lain-lain kepada seluruh anggota keluarganya.
  4. Regulation of social behaviour. Keluarga berfungsi mengatur perilaku seksual, sehingga tidak terjadi penyimpangan atau pelecehan seksual terhadap anggota keluarga.
  5. Source of affection. Keluarga berfungsi memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus kepada semua anggota keluarga, sehingga terwujud relasi yang harmonis.

Ketika fungsi keluarga terwujud sebagaimana yang dikehendaki, maka akan tercipta keteraturan, harmoni dan kebahagiaan dalam keluarga. Keluarga akan mencapai maksudnya sebagai lembaga yang mengayomi, melindungi dan mendatangkan sejahtera bagi anggotanya.

Namun, sayangnya, fungsi-fungsi tersebut tersumbat di dalam banyak keluarga, sehingga menimbulkan penyimpangan perilaku, gesekan kepentingan, hingga berakhir dengan perkelahian dan kekerasan. Menurut catatan Komisi Nasional Perempuan tahun 2020, terdapat laporan kasus kekerasan terhadap perempuan sebesar 299.911 kasus. Tahun 2021, angkanya melonjak menjadi 454.772 kasus. Ini belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan. Ini juga belum termasuk kekerasan terhadap laki-laki dan terhadap anak-anak. Sebagian kasus kekerasan ini terjadi di dalam keluarga. Sedemikian maraknya kekerasan dalam rumah tangga, hingga hal itu dianggap umum, lumrah dan wajar; lalu kekerasan pun dilanggengkan melalui sikap pembiaran dan pendiaman.

Pemerintah sendiri sudah berupaya menghentikan kekerasan dalam rumah tangga, dengan menerbitkan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT) No. 23 tahun 2004. Kekerasan harus dihapuskan dalam kehidupan keluarga, baik berupa kekerasan fisik, psikis, seksual ataupun berupa penelantaran. Hidup berkeluarga tidak boleh diwarnai pemukulan, tekanan atau ancaman, pemaksaan atau pelecehan. Di dalam keluarga tidak boleh terjadi penelantaran terhadap anggota keluarga, apapun alasannya. Kekerasan ini tidak boleh dialami oleh suami, istri, anak, serta orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, pengasuhan, perwalian, atau orang yang bekerja membantu dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

 

Keluarga: Lembaga Kebahagiaan, Bukan Kekerasan

Keluarga adalah lembaga pertama di dunia untuk menghadirkan kebahagiaan bagi manusia. Kita bisa menangkap maksud ini melalui perasaan Allah sendiri setelah menciptakan manusia pertama. Saat itu Allah berkata: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Jadi, Allah menyimpulkan bahwa manusia itu tidak baik hidup seorang diri. Seorang diri artinya sendirian, kesepian dan hidup terasing. Manusia tidak bisa bahagia jika hidup sendiri. Kesepian dan keterasingan meniadakan kebahagiaan. Itu sebabnya, Tuhan membentuk lembaga pertama bagi manusia, yakni keluarga. Tuhan menghendaki Adam dan Hawa hidup bersama dan saling berdampingan. Keduanya akan saling mengisi, saling melengkapi dan saling menolong dalam hidup sehari-hari. Demikianlah prinsip keluarga meraih kebahagiaannya, yakni dengan hidup bersama, bertolong-tolongan dan saling melengkapi dalam segala situasi.

Dengan demikian, segala bentuk sikap ketidakpedulian, penelantaran dan kekerasan dalam keluarga adalah perlawanan terhadap kehendak Allah. Hal ini secara terbuka diutarakan oleh Rasul Paulus dalam 1 Timotius 5:8, ketika ia berkata, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Menelantarkan adalah kekerasan dan kejahatan di hadapan Allah. Mengabaikan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga sama artinya hidup murtad di hadapan Allah. Orang yang menelantarkan anggota keluarga sendiri disebut hidup lebih buruk daripada orang yang tidak mengenal Tuhan. Bahagia adalah hak setiap anggota keluarga. Diterima dan dikasihi adalah hakikat keluarga Ilahi. Itu artinya, sejak mulai dan selama berkeluarga, kita wajib memelihara keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

 

Budaya Kasih Melawan Budaya Kekerasan

Salah satu faktor utama kekerasan dalam rumah tangga berkaitan dengan masalah ekonomi atau finansial. Kebutuhan yang besar, penghasilan yang tidak pasti, pengelolaan yang tidak transparan, perebutan harta warisan, dan kebutuhan-kebutuhan ekonomis yang tidak tertangani telah memicu banyak konflik dan kekerasan dalam keluarga. Apalagi di tengah krisis saat ini, banyak orang terjebak memikirkan uang dan harta saja. Orang takut kehilangan penghasilan. Orang takut kehabisan tabungan. Orang takut investasinya merosot. Orang takut tidak bisa mewariskan harta untuk keluarganya. Keluarga takut tidak bisa makan enak, rekreasi atau liburan lagi. Keluarga takut kehilangan warisan, karena banyaknya asset yang terpaksa dijual. Orang takut hartanya direbut anggota keluarga lain. Situasi-situasi ini telah menimbulkan banyak konflik dan kekerasan dalam rumah tangga, apalagi ketika disusupi oleh roh keserakahan dan kerakusan dari anggota-anggota keluarga.

Harta dan warisan terbaik keluarga sesungguhnya bukanlah uang atau harta, melainkan cinta kasih. Warisan uang atau harta pasti akan habis, bahkan dalam sekejap; tetapi cinta kasih, sesuatu yang tumbuh dari dalam hati dan bersifat terus-menerus tanpa habis. Kekayaan hidup berumahtangga tidak ditentukan oleh sedikit atau banyaknya uang, melainkan oleh besarnya cinta kasih dalam hati setiap anggota keluarga, serta bagaimana cinta kasih itu dibagikan secara berlimpah-limpah kepada seluruh anggota keluarga.

Faktanya, banyak keluarga menikmati kehidupan yang rukun, harmonis dan bahagia, sekalipun mereka terbatas secara ekonomi. Itu terjadi karena mereka mampu hidup bertolong-tolongan dalam kasih dan saling menguatkan di masa kesusahan. Mereka kaya dalam doa dan saling mendoakan. Mereka berlimpah dalam kebajikan dan kehangatan cinta yang tak mementingkan diri sendiri. Mereka memelihara kesetiaan dan sikap saling menghormati, sehingga roh pertikaian dan kekerasan tidak memiliki tempat lagi di dalam keluarga mereka.

Budaya kasih itu penting untuk melawan budaya kekerasan, budaya benci, budaya sinisme, budaya membunuh karakter sesama, budaya barbar, dan cara hidup yang kehilangan kemampuan untuk hidup damai bersama-sama. Ketika budaya dunia mengajarkan prinsip ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi”, Tuhan Yesus justru mengajarkan budaya kasih. Kasih itu adalah kasih Ilahi, yang mampu menerima perbedaan sebagai kekayaan. Kasih itu memampukan kita untuk berdoa bagi musuh kita, apalagi berdoa bagi anggota keluarga yang kita kasihi. Kasih Allah itu memampukan kita untuk mengampuni orang berdosa, terutama keluarga terdekat kita. Dan, kasih itu pulalah yang memampukan kita untuk selalu merendahkan diri satu sama lain, sehingga kita mampu saling melayani serta rela berkorban untuk kebahagiaan keluarga kita.

 

Penutup: Keluarga untuk Perdamaian Dunia

Bunda Teresa pernah berkata, “Apa yang dapat Anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian dunia?” Pulanglah dan cintai keluarga Anda!” Pesan Bunda Teresa ini penting untuk kita sadari bahwa setiap kita bisa berperan untuk menciptakan perdamaian dunia. Caranya adalah dengan memulainya dari keluarga yang kita cintai, yakni melatih anggota keluarga kita untuk mencintai perdamaian dan menolak kekerasan. Kita tidak bisa menuntut terwujudnya perdamaian di masyarakat, sementara keluarga kita masih jauh dari kata damai dan rukun. Jadi, kita harus berpartisipasi untuk mewujudkan perdamaian itu, yakni dengan cara kembali kepada keluarga kita, lalu membangun ikatan cinta yang tulus dan kuat di rumah kita.

Selamat merayakan momen-momen indah selama Bulan Keluarga ini. Kiranya Tuhan terus menambahkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga kita, serta memampukan keluarga kita sebagai pembawa damai di tengah gereja, dunia kerja serta di tengah-tengah dunia ini.

Tuhan Yesus memberkati. Amin!

 

Author