Naiknya harga bahan makanan pokok, melambungnya harga minyak bumi, serta pemutusan hubungan kerja, telah menimbulkan krisis multi dimensi bagi bangsa ini. Yang paling terpukul oleh krisis ini adalah rakyat kecil. Yang disebut rakyat kecil adalah masyarakat yang secara ekonomi, miskin. Mereka adalah para petani yang tinggal di pedesaan, kaum nelayan, masyarakat adat atau kaum miskin perkotaan. Mereka kaum rentan yang minus kekuatan, tanpa kekuasaan. Mereka adalah kaum marjinal, alias ‘pinggiran.’ Mereka di garis batas antara hidup dan mati.

Celakanya, di saat krisis menghantam telak, nasib sebagian rakyat kecil semakin buruk. Tanah garapan mereka diserobot; sawah dan ladang mereka dihancurkan. Peristiwa nahas ini muncul di berbagai tempat. Di Kampung Baru, Pematang Siantar, PTPN 3 merebut tanah yang selama 18 tahun digarap rakyat. Di Besipae, Amanuban Selatan, Nusa Tenggara Timur, rumah rakyat kecil digusur dengan semena-mena. Banyak anak-anak kecil di desa kecil itu terpaksa hidup beratapkan langit. Dua kasus di atas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kasus tanah yang terjadi di hampir seluruh Indonesia. Dalam berbagai kasus tanah itu, rakyat kecil harus berhadapan dengan kekuatan dahsyat, baik institusi pemerintah maupun perusahan-perusahan besar. Ujungnya, rakyat kecil pasti kalah. Mereka terusir dari tanahnya; mereka merasakan kiamat, hidup tanpa harapan. Kematian seolah menjemput. Negara absen!

 

Tanah Adalah Identitas

Rakyat adalah kaum ‘pinggiran’. Mereka sering menjadi korban eksploitasi kaum elite politik dan elite ekonomi. Di banyak tempat, tanah garapan, sawah dan ladang yang dikerjakan puluhan tahun, diklaim oleh oknum penguasa atau perusahan-perusahan besar. Ini adalah mimpi paling buruk. Bagi rakyat, tanah bukan saja diperlukan untuk melanjutkan kehidupan keluarga dan komunitas; tanah bukan alat transaksi; tanah adalah identitas. Tanah melekat erat dengan kehidupan; tanah adalah hidup dan harapan mereka. Mereka menghidupi tanah. Sebaliknya, tanah menghidupi mereka. Merebut tanah mereka adalah sama dengan membunuh mereka.

Di saat tanah mereka diklaim dan direbut secara paksa, jerit tangis rakyat kecil sering tidak terdengar karena memang tidak ada yang mau mendengarnya. Mereka menjadi kaum voiceless! Tidak mampu lagi menjerit. Dalam persoalan menyangkut kepemilikan tanah, rakyat kecil selalu menjadi korban yang tanpa daya. Mereka berjuang sendirian, seolah mereka bukanlah warga bangsa.

 

Transformasi dari Bawah   

Tidak semua rakyat yang direbut tanahnya mau menyerah. Mereka menolak putus asa dan mati sia-sia; mereka tetap memperjuangkan hak mereka. Mereka percaya, penderitaan dan juga kematian bukanlah takdir yang Tuhan tetapkan bagi mereka. Namun sebaliknya, Tuhan mau mereka bangkit; Tuhan mau mereka beroleh hidup. “Akulah Kebangkitan dan Hidup,” kata Yesus. Ini adalah harapan! Ini juga kesempatan. Dia adalah Tuhan atas kehidupan.

Sebagian rakyat memilih untuk berjuang. Perjuangan mereka bukan sekedar untuk merebut kembali hak atas tanah. Perjuangan mereka lebih ditujukan untuk memulihkan martabat mereka sebagai manusia, serta untuk memulihkan struktur sosial yang menindas anak bangsa ini. Perjuangan rakyat ini menunjukkan bahwa transformasi untuk kebaikan bersama tidak selalu mulai dari atas. Gerakan transformasi bisa muncul dari bawah, dari rakyat yang ditindas. Mereka percaya bahwa Allah tidak tidur. Allah hadir dan berkarya dimana-mana untuk memberi kekuatan bagi mereka.

Yesus sendiri tidak memulai karyaNya dari ‘atas’, dari lingkungan elite, tetapi dari kalangan ‘bawah,’ kaum rakyat jelata. Pesannya jelas: “rakyat kecil itu sangat berharga.” Mereka adalah manusia yang bermartabat; mereka berhak menikmati keadilan. Dan ini adalah pesan yang memberi semangat serta kekuatan. Pesan ini membangkitkan semangat banyak orang untuk melakukan transformasi demi kehidupan dan demi keadilan.

 

Penutup

Menjarah tanah rakyat sama dengan menebarkan budaya kematian. Efeknya, ada banyak orang yang hanyut total dalam arus frustrasi dan keputusasaan. Dalam situasi seperti ini, saya ingat ucapan Oscar Romero. Dia berkata: “dalam imannya, gereja akan selalu diperhadapkan dengan pilihan penting; gereja hadir untuk memberi terang kehidupan atau hadir untuk melayani budaya kematian.” Di tengah ketamakan sebagian orang yang hendak menelan apa pun dan siapa pun, gereja harus menentukan pilihan etis yang menunjukkan keberpihakannya. Gereja tidak bisa bersikap netral, tidak ini dan tidak itu. Gereja harus mampu bersikap sesuai dengan iman dan kesetiaanNya kepada Tuhan, Sang Pemberi kehidupan.

 

 

Bandung
26 Okt-2022

 

Author