Judul Buku            : “Feminisme Kritis: Gender dan Kapitalisme dalam Pemikiran Nancy Fraser”
Penulis                    : Amin Mudzakkir
Jumlah Halaman : 286 halaman
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Umum
Tahun Terbit          : 2022

 

Buku yang ditulis oleh Amin Mudzakkir dengan judul “Feminisme Kritis: Gender dan Kapitalisme dalam Pemikiran Nancy Fraser, adalah karya disertasinya dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Amin Mudzakkir dalam tulisannya fokus pada pemikiran Nancy Fraser tentang relasi antara kapitalisme dan gender. Penulis melihat wacana feminisme masih didominasi oleh isu identitas kultural. Terlebih lagi wacana feminisme kontemporer yang memisahkan persoalan gender dengan keadilan, ruang publik, dan negara kesejahteraan.

Dalam buku tersebut, penulis menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan feminisme kritis. Mengacu kepada pemikiran Fraser, feminisme seharusnya menjadi sumber kritik kepada kapitalisme, bukan menjadi “pelayan” neoliberalisme. Fraser mengkritik feminisme kontemporer. Titik tolak Fraser selain feminisme adalah teori kritis. Teori kritis yang difokuskan oleh Fraser adalah Mazhab Frankfurt. Teori kritis Mazhab Frankfurt memang memiliki tradisi panjang, dimulai pada tahun 1924, lalu pengaruhnya merentang hingga ke Amerika Serikat dan negara lainnya.

Kembali pada pernyataan Fraser, bahwa feminisme  seharusnya menjadi sumber kritik kepada kapitalisme, bukan menjadi “pelayan” neoliberalisme. Apakah semua pemikiran feminisme pelayan kapitalisme? Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa dalam sejarah, bagaimanapun feminisme liberal adalah arus utama, yang terbagi menjadi dua: feminisme liberal klasik dan feminisme liberal egalitarian. Para feminis liberal berperan bagi proyek pembebasan perempuan, terutama di bidang ekonomi dan politik. Feminisme liberal memperjuangkan akses kepada pendidikan dan politik. Cita-citanya adalah memastikan tercapainya praktik “pengibuan” (motherhood) secara adil. Dalam buku tersebut dijelaskan secara detil dinamika perjuangan gelombang pemikiran feminisme.

Pada dinamika pemikiran gelombang feminisme disertai kritik dan cita-citanya, Fraser merumuskan empat sasaran kritik feminisme, yaitu ekonomisme, androsentrisme, etatisme, Westphalianisme. Empat hal yang mengemuka dalam praktik kapitalisme negara yang eksis hingga dekade 1980-an dinilai bermasalah dan bertentangan dengan cita-cita feminisme. Keempat hal itu memiliki kecenderungan menindas perempuan dan sumber masalah ketidakadilan gender.

Bagaimana dengan konteks di Indonesia? Dalam tulisannya merujuk pada pendapat Susan Blackburn, bagi sejumlah kalangan di Indonesia, istilah feminisme mengandung makna negatif, terbebani kesan sebagai warisan Barat. Kategorisasi feminisme gelombang pertama dan feminisme gelombang kedua tidak lantas bisa digunakan begitu saja dalam konteks Indonesia. Oleh karena itu lintasan sejarah gerakan perempuan di Indonesia lebih menggunakan kategorisasi dan periodisasi berbasis politik nasional. Misalnya, merujuk pada S.K Trimurti, yang membagi sejarah gerakan perempuan ke dalam tiga periode: era pra-kemerdekaan, era Soeharto, dan pasca Soeharto. Mudzakkir dalam bukunya mengaitkan pemikiran Fraser dalam konteks Indonesia. Beberapa hal penting dalam konteks Indonesia yang disoroti bahwa tidak cukup melihat feminisme hanya tentang kesetaraan politik dalam pengertian yang sempit, misalnya sebatas keterwakilan di lembaga legislatif, tetapi luput melihat persoalan lebih fundamental, yaitu struktur ekonomi dan kapitalisme.  Hal lain yang harus diperhatikan di tengah masyarakat yang sedemikian timpang secara sosial ekonomi, kampanye kuota perempuan di lembaga legislatif hanya bisa diakses oleh perempuan kalangan elite. Tidak ada representasi tanpa redistribusi.

Buku ini bagus untuk kita baca, sebab Amin Mudzakkir mengajukan argumen bahwa isu gender dan feminisme mesti dilihat bukan sekadar masalah perempuan dalam pengertian identitas sempit, tetapi bagian dari perjuangan keadilan sosial yang lebih luas.

 

Author