Meski Pemilu 2024 masih lama, tiga ‘trend’ politik mulai menghiasi jagat politik bangsa kita. Kita berada dalam konteks potensi politik dinasti, politik uang, dan terutama politik identitas. Ketiganya, terutama yang terakhir, mengancam kesatuan kita sebagai bangsa. Dalam konteks terakhir itu, saya teringat akan kontribusi pemikiran Dietrich Bonhoeffer tentang gereja dan responsnya terhadap situasi politik yang dihadapi bangsa Jerman. Pemikiran teologis Bonhoeffer inilah yang akan ditelisik dalam tulisan singkat ini.

Bonhoeffer (1906-1945) adalah Pendeta sekaligus teolog gereja Lutheran Jerman yang bekerja pada masa fasisme Hitler dengan ideologi Nazi-nya. Bonhoeffer memulai teologinya dengan satu pertanyaan mendasar. Pertanyaan itu adalah: “apa artinya Yesus Kristus bagi kita sekarang?” Untuk menjawab pertanyaan itu Bonhoeffer memulai dengan satu usulan. Baginya gereja harus menghayati peristiwa inkarnasi Allah di dalam Yesus Kristus. Penghayatan pada inkarnasi itu mendorong gereja untuk ‘turun gunung.’ Gereja harus melibatkan diri secara total dalam persoalan sosial-politik dan gereja harus memberikan jawaban atas penderitaan manusia. Teologi seperti inilah yang membuat Peter Berger, sosiolog terkenal itu, mengatakan, “sementara teolog lain cenderung membawa gereja ke sorga di atas sana, Bonhoeffer justru menarik kembali gereja ke dalam dunia.”

 

Sikapnya Terhadap Gereja

Teologi radikal inkarnasinya mendorong Bonhoeffer untuk bersikap kritis terhadap gereja Jerman pada masa Hitler. Saat itu dia mengkritisi gereja, yang pada satu sisi, mengajarkan teologi yang terlalu abstrak dan spekulatif. Gereja terlalu banyak berbicara tentang sorga, neraka, malaikat, atau tentang dunia ‘seberang sana.’ Pada sisi lain, Bonhoeffer melakukan kritik pedas terhadap gereja, karena di tengah fasisme dan kekejaman Hitler, gereja justru mengambil posisi di ‘atas.’ Gereja berpihak dan memberi dukungan pada pemerintahan Hitler. Bagi Bonhoeffer, kedua sikap itu menunjukkan dengan jelas kegagalan gereja, untuk seperti Yesus, ‘berinkarnasi’ di tengah pergumulan dan penderitaan yang dialami masyarakat ‘bawah’. Sikap gereja seperti ini membuat kehadirannya menjadi irrelevant dan insignificant; tidak ada pengaruh apa pun; Gereja yang impoten.

 

Sikapnya Terhadap Nazisme

Secara sosial-politik, Hitler mempraktekkan politik identitas. Kita semua tahu bahwa politik identitas adalah politik rasis yang memecah-belah dan menciptakan polarisasi biner dalam masyarakat. Mereka yang memainkan politik identitas menanamkan politik ketakutan di hati setiap kelompok. Akibatnya, orang dikonstruksi untuk membenci perbedaan. Mereka yang berbeda, baik ideologi, etnik, maupun agama, dituding sebagai ancaman bagi yang lain. Yang lebih berbahaya lagi adalah penggunaan ayat-ayat suci untuk menjustifikasinya. Penggunaan ayat-ayat suci itu sangatlah mujarab untuk menumpulkan rasionalitas, dan sebaliknya mempertebal emosionalitas. Itulah yang dilakukan Hitler melalui gereja yang mendukungnya. Dampaknya, politik identitas menghasilkan praktek penindasan dan pembinasaan terhadap kelompok lain. Orang Yahudi menjadi sasaran tembaknya. Mereka dituding sebagai kelompok yang mengancam eksistensi dan kemurnian bangsa Arya. Politik ketakutan itu menghasilkan pembantaian terhadap jutaan orang Yahudi. Ternyata penggunaan ayat-ayat suci terbukti ampuh menutup daya kritis banyak orang Jerman yang terkenal rasional dan cerdas itu, kecuali beberapa orang, termasuk Bonhoeffer.

Bonhoeffer pun melakukan perlawanan terhadap gereja dan terhadap Hitler. Dalam responsnya terhadap gereja, Bonhoeffer bersama Martin Niemoller dan Karl Barth menghimpun rohaniawan yang kritis, lalu membentuk Bekennende Kirche alias Gereja yang Mengaku. Mereka pun membuat Deklarasi Barmen, yang isinya menentang kebijakan Hitler. Deklarasi Barmen menyatakan dengan tegas bahwa mereka akan lebih taat kepada Tuhan daripada kepada Hitler, sang penindas dan pelaku ketidakadilan.

Responsnya terhadap Nazisme lebih radikal. Boenhoffer terlibat dalam komplotan yang berupaya membunuh Hitler. Sikap radikal ini nampaknya muncul dari keputusasaannya melihat kekejaman Hitler, dan dari tanggungjawabnya terhadap sesama, terutama mereka yang ditindas. Bonhoeffer memandang Hitler seperti supir yang mengendarai truk besar dalam keadaan mabuk. Banyak orang mati sia-sia karena ulah supir mabuk itu. Tidak ada jalan lain kecuali merebut truk itu dari tangan sang supir. Upayanya gagal. Dia ditangkap, lalu dipenjarakan. Tiga minggu sebelum Nazisme runtuh oleh Sekutu, ia digantung dan mati di penjara.

 

Penutup

Kita bersyukur pemerintahan kita tidak menerapkan politik identitas seperti yang diterapkan Hitler. Tetapi, potensi penggunaan politik identitas bisa saja terjadi di pemerintahan negara mana pun. Donald Trump melakukannya di Amerika Serikat, Bolsonaro di Brazil, Erdogan di Turkey, Duterte mempraktekkannya di Filipina. Hasilnya terjadi polarisasi tajam yang bisa memecah-belah dan menimbulkan kekerasan antar kelompok masyarakat.

Sayangnya, mulai ada politisi dan partai tertentu di Indonesia yang menggunakan politik identitas, terutama politik agama. Ini berbahaya! Oleh karena itu kita tidak boleh salah memilih orang atau partai yang akan memimpin kita nanti. Respons kita ada dua. Pertama, memperkuat solidaritas sosial masyarakat. Dalam buku ‘Life Together’, Bonhoeffer mengingatkan bahwa kita harus belajar hidup bersama dengan sikap saling menghargai dan menghormati. Respons kedua, kita harus berani mengkritisi secara keras para politisi dan partai ‘tengik’, yang demi kekuasaan rela memecah-belah masyarakat melalui penggunaan politik identitasnya. Kita harus mengawali kedua sikap itu dengan mulai ‘berinkarnasi’. Kita harus melibatkan diri dan berjuang secara total di tengah dan bersama masyarakat, demi kebaikan kita bersama. Tanpa kemauan berinkarnasi, gereja adalah garam yang tawar dan pantas diinjak-injak orang.

 

Jakarta, 9 Nov, 2022

Author