Sejak peristiwa 911 pada 11 September 2001, berkembanglah apa yang disebut sebagai Islamophobia. Kita tahu bahwa Islamophobia adalah perasaan ketakutan yang berlebihan terhadap Islam. Perasaan ketakutan itu sering mengakibatkan depresi, kepanikan, dan kecemasan parah. Celakanya lagi, Islamophobia ini bisa dialami, baik oleh individu maupun secara kolektif. Efeknya bisa menimbulkan kebencian terhadap umat Islam. Trauma peristiwa 911 menciptakan Islamophobia yang mengubah dunia secara total; pengawasan dan pengamanan meningkat tajam di manapun. Mereka yang hendak bepergian, terutama yang penampilan dan namanya ‘berbau’ Islam, melalui airport atau stasiun kereta api pastilah diawasi secara ketat.

Saya pernah melihat seorang petugas keamanan airport di New Zealand yang memaksa seorang pemuda asal Timur Tengah menghidupkan laptopnya untuk dicheck isinya. Saya yang saat itu membawa juga laptop, tidak diminta  untuk melakukan hal yang sama. Ada diskriminasi berlebihan terhadap umat Islam. Islam dan seluruh umat Islam diidentikkan dengan radikalisme dan terorisme. Efek terorisme ini memang telah menimbulkan paranoid dalam berbagai sektor kehidupan; banyak perusahaan di Amerika Serikat memecat karyawannya yang beragama Islam. Kita tahu, akibat Islamophobia, umat Islam mengalami situasi yang kurang nyaman.

Sebenarnya bukan umat Islam saja yang mengalami ketidaknyamanan akibat Islamophobia; umat Kristen pun mengalami ketidaknyamanan akibat Kristenphobia. Kemana pun umat Kristen hadir, selalu diidentikkan dengan kristenisasi, alias upaya mengkristenkan umat lain. Lihat saja peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Cianjur. Saat semua orang, termasuk umat Kristen, sedang melayani para korban bencana gempa bumi, sebagian orang merasa terganggu dengan kehadiran umat Kristen di sana. Mereka merobek label dan nama gereja yang tercantum pada tenda-tenda yang dibuat untuk para pengungsi. Sebagian lagi mengangkat isu adanya kristenisasi yang, konon dalam isunya, berhasil mengkristenkan satu kampung di Cianjur. Mereka yang menelan isu itu mentah-mentah tidak tahu bahwa ‘kampung’ Kristen di daerah Cianjur sudah ada sejak jaman Belanda. Efek kristenphobia telah menciptakan ketidaknyamanan bagi relawan-relawan Kristen yang saat ini terpanggil untuk melakukan pelayanan kemanusiaan kepada para korban gempa di Cianjur. Sebaiknya mereka yang tidak mau menolong para korban bencana lebih baik tidak mengganggu kerja-kerja kemanusiaan yang sedang dilakukan.

Kristenphobia yang terjadi di Cianjur pernah terjadi juga saat bencana tsunami memporak-porandakan Aceh. Saat seluruh komponen bangsa sedang bekerja keras membangun solidaritas dan cinta bagi ratusan ribu masyarakat Aceh yang terdampak bencana, muncul isu panas bahwa terjadi kristenisasi terhadap 300 orang anak Aceh. Setelah diselidiki, ternyata isu ini hanya hoax dari orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Meski demikian, bencana tsunami yang seharusnya menjadi peluang untuk membangun solidaritas dan cinta, oleh isu kristenisasi itu, diubah menjadi bola panas dan liar yang hampir saja menciptakan konflik dan kekerasan atas nama agama.

Kita harus menghentikan Islamophobia dan Kristenphobia. Keduanya hanya menciptakan keresahan dan ketidaknyamanan bagi umat kedua belah pihak. Lebih dari itu, Islamophobia dan Kristenphobia berpotensi meletupkan konflik dan kekerasan yang bisa menghancurkan kesatuan dan persatuan bangsa ini. Di tengah krisis multidimensi yang dialami bangsa kita, sudah saatnya kita semua menumbuhkan rasa saling percaya dan memupuk benih solidaritas serta cinta, karena hanya kebajikan luhur itu yang bisa menyelamatkan kita bersama. Selamat bekerja untuk para relawan. Tetap semangat; solidaritas dan cinta kalian pasti mampu mengatasi virus-virus kebencian dan permusuhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab.

 

Salam
Jakarta 30 Nov 2022

 

Author